Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Tarian-Liar-Jeram-jeram-Sumut
Home  Petualangan Tarian Liar Jeram-jeram Sumut
Kamis, 15 Januari 2009 | 10:06:28
Tarian Liar Jeram-jeram Sumut
by. Putra Perwira Lubis

Seorang teman yang telah lama bergelut di dunia olah raga arus deras (ORAD) pernah mengatakan, “tak lengkap rasanya pengalaman berarung jeram (white water rafting) jika belum mencicipi tarian liar sungai-sungai di Sumatera Utara”. Liukan-liukan gelombang yang aduhai, diselingi tamparan buih dan riuhnya nyanyian unggas hutan menjadi candu, laiknya seorang penari perut yang selalu mengajak kembali para penikmatnya. "Saya jamin, siapa pun dia, pasti akan terpesona setelah merasakan goyangannya," sambungnya sambil merapikan jenggot yang mulai ditumbuhi bulu putih. Ungkapan di atas bisa jadi hanya isapan jempol bagi orang yang belum pernah menikmati jeram atau pengarung yang belum berkenalan dengan sungai-sungai Sumut. Tapi bagi yang pernah menjejakkan kakinya di salah satu sungai di Sumatera Utara, pengalaman berarung jeram pasti menjadi candu yang membuatnya selalu berpikir kapan akan bisa kembali lagi. Sebut saja bagaimana antusiasnya para peserta Asahan White Water Rafting yang tak pernah surut walau even internasional itu telah digelar sebanyak tiga kali. Bukan hanya dari dalam negeri, peserta bule pun rela menggotong perahu karet (inflateble raft) dan kayak mereka jauh-jauh untuk dapat ambil bagian dalam pesta olah raga arus deras itu. Sumatera Utara sebagai propinsi yang berada di bagian barat kepulauan Indonesia memang memiliki beberapa nama sungai yang sudah tak asing bagi penggiat olah raga arus deras. Sungai Asahan, Batang Toru, Lau Biang, dan Wampu adalah nama tersohor di antara banyak nama lainnya. Sungai-sungai ini sering dilirik wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai obat kejenuhan dari penatnya kehidupan kota. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk mendapatkan bagaimana nikmatnya adrenalin terpompa ketika moncong perahu karet mulai membelah rentetan jeram (rapid), dan riuh sorak kegembiraan ketika perahu mulai melompat-lompat di atas gelombang. Bukan hanya itu, kesunyian di tengah belantara ditimpali nyanyian jangkrik dan kicauan burung serta debur air yang menghantam dinding sungai akan menjadi orkestra selama pengarungan. Sungai Asahan Jangan pernah membayangkan bakal jemu karena menemukan arus yang flat (tenang) di sungai yang airnya dipasok oleh Danau Toba ini. Di hulu sungai, sebuah dam besar – dahulu air terjun Sigura-gura yang kini dijadikan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk proyek INALUM) – sangat berpengaruh mengontrol debit air sungai yang menjadi surga bagi penggemar arung jeram dan kayak. Debit air yang lebih stabil memungkinkan para pengarung dapat menikmati liarnya jeram tanpa harus takut akan datangnya banjir bandang dari hulu. Pada akhir pekan, biasanya para wisatawan bersama operator arung jeram sudah mulai menyibukkan diri bersiap untuk mengarung. Pengarungan di sungai yang memiliki grade (tingkat kesulitan) 3 - 5+ ini kerap dimulai dari desa Tangga hingga Hula-huli. Pengarungan pada etape ini biasanya memakan waktu sekitar 45 menit. Rabbit Hole adalah jeram pertama yang bakal dijumpai. Rentetan jeram yang penuh dengan standing wave (ombak berdiri) setinggi 2 meter menjadi pemicu adrenalin pengarung selama hampir lima menit. Mendekati jembatan desa Parhitean, Flying Rapid akan menyambut, disusul Rizal Nurdin Wave yang mampu menghempaskan haluan perahu hingga menatap langit. Selepas Rizal Nurdin Wave, rentetan jeram seperti Tiger Shark, Big Bend, Simatupang Rapid dan Zivana Rapid yang ber-grade tak kurang dari 4 akan setia menemani hingga desa Hula-huli. Tapi jika memiliki nyali raksasa, lebih meng-hilir dari desa Hula-huli, masih terdapat banyak gugusan jeram yang semakin menggila. Nightmare, jeram ber-grade 5+ (grade tertinggi yang dimiliki sungai Asahan) adalah ikon dari kegilaan liarnya jeram di sungai yang sebagian daerahnya dikelilingi tebing batu nan curam. Belum ada satu pun tim pengarung yang mau berjudi melewati jeram ini. Sebuah drop (terjunan air) setinggi 4 meter selalu membuat bulu kuduk bergidik ketika menyaksikannya. Di bawahnya, sebuah hole (pusaran air) menjadi ancaman serius bagi para pengarung yang hendak melewatinya. Selain etape Tangga-Hula-huli, pengarungan desa Batu Mamak hingga Bandar Pulo juga tak kalah menariknya. Tapi sebelum pengarungan, diperlukan tenaga ekstra buat portagging (menggotong perahu) sekitar 30 menit untuk dapat menjangkau sungai. Tapi jangan takut, penduduk sekitar biasanya menawarkan jasa pengangkutan dengan biaya antara Rp 25.000 – Rp 50.000 untuk tiap perahunya. Perkebunan karet dan sawit milik rakyat menemani perjalanan selama 20 menit pertama. Setelah itu, riuh gemuruh air yang menembusi celah dedaunan seakan memanggil-manggil untuk segera “bermain”. Menuruni daerah dengan kecuraman hingga 70 derajat adalah sajian terakhir sebelum kaki dijilati oleh dinginnya air sungai Asahan. Standing wave setinggi 1,5 meter bakal menyambut di awal pengarungan. Selepas itu, hanya riak-riak kecil yang menggoda perahu, dan semakin lama kian menghilang. Tak ada gemuruh jeram di sini, hanya kicauan burung yang sayup-sayup tertengar dari atas tajuk-tajuk pohon. Ingat! Jangan terlena dengan kesunyian itu. Segeralah mengencangkan kembali tali-tali pada life jacket (pelampung) dan memegang erat paddle (dayung) ketika menyadari perahu kian melaju cepat dan menjumpai seonggok batu besar berwarna coklat tua di sisi kanan mainstream (arus utama). Ketenangan arus itu merupakan lidah air panjang dan kian menurun, semakin cepat, sampai terlihat gumpalan besar buih air yang menabrak dinding kiri sungai. Jeram “Batu Arang”, nama itu dinobatkan untuk jeram yang memiliki tingkat kesulitan 4 ini. Degup jantung kembali mengendur jika telah melewati jeram Batu Arang. Hanya canda standing wave kecil saja yang menggoda di depan. Tapi suasana ini pun tak berlangsung lama. Selanjutnya, sungai Asahan dengan lebar 25 meter menyempit hingga hanya sekitar 9 meter saja. Akibatnya, debit air yang cukup tinggi membentur sisi-sisi sungai yang dikelilingi tebing batu setinggi puluhan meter. Perahu yang tak kuasa menahan kuatnya gelombang akan terlempar ke kiri dan kanan. Dayungan yang kuat dan bertenaga dari awak perahu dan pengendalian yang cerdas dari skipper (kapten perahu) sangat membantu menyelamatkan pengarung dari ancaman terbalik dan tumpahnya seluruh awak. Ketika perahu masih dipermainkan keliaran gelombang, pada saat yang sama dinding-dinding sungai memamerkan pemandangan penuh misteri. Tonjolan-tonjolan pada dinding batu andesit berwarna pekat mirip dengan wajah-wajah manusia yang ingin menembus keluar mengharap kebebasan. "Mata Setan", julukan untuk daerah ini. Beribu-ribu wajah yang ingin mengoyak dinding-dinding batu itu dapat disaksikan selama lima menit pengarungan. Etape Batu Mamak-Bandar Pulo dapat diarungi sekitar 2,5 jam. Pada detik-detik akhir pengarungan, bocah-bocah telanjang dada di lokasi pengambilan pasir akan meneriaki penuh sukacita pengarung yang berhasil sampai. Senyum yang polos dan kepalan tangan mungil mereka menyambut seperti telah lama berkenalan dan rindu perjumpaan. Jika tidak membawa makanan untuk bekal selama perjalanan, pengarungan dapat diakhiri dengan menyantap panganan yang dijual penduduk setempat. Makanan segar dan hangatnya hidangan teh, mungkin akan menyegarkan kembali kondisi fisik yang lelah selama pengarungan. Sebuah kedai sederhana di pinggir sungai biasanya menyajikan menu-menu makanan yang lebih "merakyat" dengan harga sangat terjangkau. Dari Bandar Pulo, perjalanan pulang ke Medan dapat dilakukan melalui dua jalur. Pilihan perjalanan via Parapat berarti harus melewati sisi sungai Asahan yang telah diarungai tadi. Sebaiknya jangan lupa menyempatkan diri singgah di warung Pak Simatupang. Warung yang berada di dekat Simatupang Rapid (diberi nama Simatupang Rapid karena lokasinya tepat di dekat rumah Pak Simatupang) ini, menyajikan santapan khas arsik ikan mas segar racikan "chef" Bu Simatupang. Rugi untuk dilewatkan, karena kesempatan ini menjadi ritual rutin para pengarung ketika berkunjung ke sungai Asahan. Desa Parhitean menuju Parapat dapat ditempuh dengan mobil selama sekitar 2,5 jam. Terlebih dahulu perjalanan akan melewati proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura milik INALUM. Dari Parapat menuju Medan ditempuh selama 3,5 jam dengan keeksotisan panorama pinggiran Danau Toba di jalur kiri jalan yang akan menemani selama sekitar 20 menit. Tapi jika memilih perjalanan pulang lewat kota Kisaran, dari Bandar Pulo dapat di tempuh selama 2 jam naik mobil. Dari Kisaran, transportasi dengan menumpang kereta api juga tersedia dengan waktu perjalanan menuju Medan sekitar 3 jam lebih. Untuk melakukan pengarungan di sungai Asahan, ada baiknya berangkat dari Medan pada hari Jumat atau Sabtu di tiap akhir pekannya. Perjalanan sekitar 6 jam dari Medan menuju desa Tangga (lokasi awal pengarungan) di kabupaten Asahan cukup menyita tenaga. Bermalam di cottage atau rumah penduduk yang disewakan khusus bagi pengarung adalah pilihan tepat untuk rehat pada malam harinya. Dan ketika mentari mulai terlihat dari celah perbukitan, itulah waktu yang tepat untuk angkat paddle dan memasang life jacket. Pengarungan dari desa Tangga menuju Hula-huli dapat dilakukan berulang-ulang. Ini mengingat waktu tempuh pengarungan yang relatif singkat dan akses menuju sungai sangat mudah karena hampir pada tiap sisi sungai terdapat jalan aspal yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Operator yang memfasilitasi selama pengarungan bukan hanya dapat dikontak ketika masih di Medan atau di Kisaran saja. Kini, penduduk sekitar sungai juga telah menawarkan paket-paket pengarungan yang tak kalah menariknya. Harga yang dipatok untuk tiap orang juga beragam, mulai dari angka Rp 200.000 dan disesuaikan dengan jumlah pengarung dan lamanya waktu kegiatan. Sungai Wampu dan Lau Biang Sungai Asahan adalah salah satu sampel dari banyaknya sungai yang memiliki potensi wisata berbasis ecoturism di Sumatera Utara. Nama lain yang tersohor adalah sungai Wampu. Sungai yang berada di kabupaten Langkat dan masih masuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ini hampir tiap akhir pekannya didatangi pengunjung yang ingin mengarung. Desa Kaperas merupakan entry point untuk pengarungan selama sekitar 2 jam menuju desa Pamah Duren. Untuk pengarung pemula, Wampu adalah pilihan yang baik untuk diarungi. Kondisi jeram di sungai ini tidak begitu berbahaya, hanya berkisar grade 2 sampai 3 saja. Standing wave setinggi 2 meter dan hole besar yang mampu menyedot perahu ke dasar sungai tidak akan dijumpai selama pengarungan. Sungai ini juga mudah dijangkau dari kota Medan. Biasanya pengarung yang berminat ke sini hanya memilih 1 hari kegiatan. Dimulai dengan perjalanan dari Medan pada pagi hari, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam menuju desa Kaperas. Tiba di Kaperas, penduduk akan langsung menawarkan jasa mengangkut perahu hingga pinggir sungai. Mereka biasanya memasang harga sekitar Rp 25.000–Rp 35.000 per perahu. Sebuah jembatan gantung sepanjang 50 meter terbentang melintasi jurang sedalam puluhan meter ketika hendak menuju bibir sungai. Liukan jembatan yang membuat adrenalin terpacu ketika melewatinya, dapat menjadi pemanasan awal sebelum menikmati liukan lembut gelombang di sungai ini. Lebih jauh ke hulu lagi, tepatnya di kabupaten Tanah Karo, sungai Wampu berubah nama menjadi Lau Biang. Dalam bahasa Karo, lau berarti sungai dan biang adalah anjing. Menurut penduduk sekitar sungai, dahulunya ada seorang gadis kecil yang hanyut ketika mandi-mandi di sungai yang airnya agak kecoklatan ini. Dan nasib baik baginya ketika seekor anjing berusaha menolong dan berhasil menyelamatkan gadis kecil itu ke pinggir sungai. Terdapat dua etape yang dapat dijadikan tempat mengarung di sungai ini. Etape yang lebih pendek ada di desa Perbesi, kecamatan Kuta Buluh, Tanah Karo. Di sini, pengarungan hanya memakan waktu sekitar satu jam dengan jeram-jeram ber-grade 3. Sampai di sini, pengarungan harus dihentikan karena sekitar 2 jam lebih ke hilir sungai, air terjun Lau Biang setinggi 30 meter menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengarung. Dari bawah air terjun Lau Biang, pengarungan dapat dilanjutkan kembali. Kali ini bantuan kendaraan ber-gardang dua sangat dibutuhkan untuk ber-off road selama sekitar 2 jam menuju air terjun yang berada di dekat desa Rih Tengah. Jeram-jeram ber-grade 3 hingga 4+ menjadi tantangan pada etape ini. Ada beberapa nama jeram yang tersohor di etape ini, seperti “Jeram Batu Seratus” dan “Jeram Batu Tiga”. Debit air sungai Lau Biang termasuk besar. Itu disebabkan banyaknya anak-anak sungai seperti Belingking dan Lau Tebah yang bermuara di sungai yang masih banyak menyimpan ikan jurung ini. Mengarungi sungai, diperlukan persiapan yang lebih matang karena perjalanan dan masa pengarungan membutuhkan waktu hampir 2 hari. Bermalam di pinggir sungai dengan membuka tenda adalah salah satu pilihan yang harus dilakukan. Pengarungan selama lebih dari enam jam dari Rih Tengah akan berakhir di desa Kaperas yang menjadi awal pengarungan di sungai Wampu. Sungai Batang Toru Berbeda dengan sungai Asahan, Wampu dan Lau Biang yang telah sering diarungi, kabupaten Tapanuli Selatan punya satu nama yang keperawanannya baru terjamah sekali saja oleh tim pengarung dari Kompas USU di akhir tahun 2002. Namanya sungai Batang Toru. Sungai besar dan panjang ini memiliki etape pengarungan sepanjang sekitar 33 kilometer. Desa Sipetang merupakan titik start dari total pengarungan selama lebih 2 hari untuk sampai di Jembatan Trikora, kecamatan Batang Toru. Pengarungan yang mengharuskan konsep ekspedisi ini sangat membutuhkan persiapan yang matang, mengingat masih banyaknya teka-teki yang tersimpan di balik liar dan ganasnya jeram Batang Toru. Keliaran dan keganasan arus Batang Toru berakhir di Samudera Hindia. Di akhir tahun 2004 lalu, Bram Octaviano, seorang pengarung handal dari tim Kompas USU menjadi korban sungai ini. Padahal pengarungan yang mereka lakukan tidak melewati etape yang komplit. Menghindari pengarungan di sungai ini ketika musim hujan merupakan pilihan yang baik. Jeram-jeram yang ber-grade 3 sampai 4 dapat menjadi semakin ganas hingga mencapai grade 5. Usai melakukan pengarungan di sungai Batang Toru, jangan sampai lupa memetik buah salak langsung dari pohonnya. Karena di sekitar lokasi akhir pengarungan, terdapat banyak perkebunan salak milik rakyat yang buahnya selalu mengajak pengunjung untuk memetiknya. Tapi, jangan mencuri ya? Menjangkau titik start pengarungan di sungai Batang Toru, dari Medan butuh waktu sekitar 7,5 jam ke desa Sipetang. Desa ini tepat berada di pinggir jalan lintas Medan-Padang Sidempuan, sekitar 1 jam setelah kota Tarutung. Sementara, titik akhir pengarungan yang berada di kecamatan Batang Toru, dari Medan dapat ditempuh via Padang Sidempuan atau Sibolga. Hanya butuh waktu satu jam saja dari kedua kota tersebut untuk menjangkau ibukota kecamatannya. Itulah sebagian pesona jeram Sumatera Utara. Tapi Anda hanya bisa merasakan kenikmatan sesungguhnya bila mencicipinya langsung. Berani?
Share |
Kirim ke teman
Terdapat (1) Tanggapan

Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 50.17.109.248

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: