Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Menari-di-Pelataran-Bale
Home  Tradisi Menari di Pelataran Bale
Kamis, 15 Januari 2009 | 09:54:59
Menari di Pelataran Bale
by. Thompson HS

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juli Dibiarkannya yang tak terucapkan Di celah akar pohon bunga itu … Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juli Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu (dari Hujan Bulan Juli Sapardi Djoko Damono) Tiba-tiba saya teringat kutipan larik puisi tersebut karena pada Juli 2005 lalu hujan turun secara tidak teratur di wilayah Sumatera Utara. Tidak terkecuali di Laguboti, salah satu kota kecamatan di Tobasa yang menyimpan daya tarik karena keberadaan komunitas Batak Parmalim-nya. Cuaca yang demikian masih terasa sewaktu tiba di sana menjelang sore 20 Juli lalu, bertepatan hari pertama pelaksanaan upacara Sipaha Lima, salah satu hari besar pengikut Parmalim. Tahun ini upacara Sipaha Lima ditentukan pelaksanaannya pada 20-22 Juli. Informasi itu sebelumnya sempat diragukan melihat penanggalan dan penyesuaian yang dilakukan dengan kalender Masehi. Di kalender Masehi yang sudah rutin diterbitkan oleh naposo bulung (muda-mudi) Batak Parmalim, pelaksanaan itu tercetak pada 18-20 Juli. Pengunduran atau percepatan biasanya dapat terjadi, terutama karena penghitungan astronomis dan parhalaan (kalender Batak). Terkadang, pelaksanaannya malah bisa berlangsung pada Agustus. Tapi Raja Monang Naipospos, salah seorang teras di Parmalim, menegaskan bahwa jadwal pelaksanaan itu “pas”. Hujan yang meragukan tidak lagi terlalu mengganggu perjalanan menuju desa Hutatinggi, pusat komunitas dan tempat pelaksanaan upacara. Komunitas Batak Parmalim biasanya menyebut Upacara Sipaha Lima dengan Parriaan Bolon Sipaha Lima, yang arti harfiahnya adalah “perayaan besar bulan kelima”. Jadi, Sipaha Lima merupakan salah satu penamaan dari duabelas jumlah bulan dalam kalender Batak. Sampai bulan kesepuluh, istilah sipaha masih digunakan, sebelum bulan kesebelas dan duabelas yang punya nama khusus, yakni Li dan Hurung. Asal-usul penamaan itu dianggap suatu evolusi terakhir dari penamaan bulan dalam kalender Batak. Sebelumnya, nama-nama bulan dalam kalender Batak pernah menggunakan istilah/kata-kata arkaif seperti sitora, sisaha, sibista, sisanti, sisorbaba, sibadora, sisudiya, siajimortiha, sianggaraji, sipusiya, sipalaguna, dan sirajaurip. Namun semua istilah/kata-kata arkaif tersebut mungkin hanya sempat digunakan dalam konteks perdukunan. Tari dalam Sipaha Lima Rintik hujan masih turun sekitar pukul 15.00 WIB di sekitar Bale Pasogit, pusat ritual Parmalim dan tempat pelaksanaan upacara. Namun dari dalam kompleks sudah mulai kedengaran suara gondang sabangunan (ansamble musik Batak) yang khas dengan sentuhan serunai, gong, gendang taganing, dan seruan pemusik pada suasana tertentu. Bunyi musik itu menandai sudah dimulainya parsahadatan (acara hari pertama yang maksudnya sebagai rasa syukur), pengampunan dan kesaksian bersama. Beberapa rombongan juga baru tiba dari desa naualu (berbagai penjuru yang mencapai 50-an komunitas kecil). Sebagian sudah langsung menyampirkan ulos di bahu dengan pakaian dan penampilan khas lainnya; sarung, sorban putih (tak berekor), jas, brokat, dan sanggul toba (sanggulan yang ditenggelamkan ke dalam rambut). Ada juga yang langsung berjalan ke dalam bale pasogit tanpa alas kaki. Bentuk rasa syukur, pengampunan, kesaksian serta terkadang solidaritas pada hari pertama itu, kelihatannya diungkapkan melalui pemahaman tarian sebagai doa. Kalangan keluarga induk bolon (perintis/induk besar Parmalim), almarhum Raja Mulia Naipospos, memulai tarian itu sebelum antrian setiap komunitas kecil. Otoritas dari kalangan induk besar muncul secara spontan untuk menyampaikan pesan dan isi hatinya melalui tarian langsung atau meminta presentasi gondang tertentu. Judul-judul melodis yang diminta berisi kata-kata yang religius. Parsahadatan terlaksana di pelataran bale pasogit itu dengan kecenderungan gerak ke arah rumah raja ihutan (pemimpin yang sedang diikuti). Namun ada juga tarian khusus dari sorangan (medium yang menarikan dan menyampaikan pesan-pesan simbolis dari tariannya yang dapat mendorong ungkapan sedih dari yang lain ke hadirat pemimpin). Perpindahan (movement) sorangan kelihatan bebas dan tidak harus berfokus ke hadirat pemimpin saja. Kelihatannya sebelum bergerak ke arah barisan keluarga pemimpin di depan bale partonggoan (ruang ibadah), sorangan sempat menunjukkan varian gerak di pelataran itu dengan menangkupkan sembah tangan melewati kepala sambil membungkuk badan. Memang, watak minimalis gerak yang menjadi pola tarian di komunitas Parmalim biasanya hanya dapat diterobos oleh sorangan dan pemimpinnya. Sebagaimana watak minimalis gerak dan pola tari di hari pertama itu, demikianlah adanya tarian yang dapat ditemukan di kalangan Parmalim pada hari berikutnya. Setiap orang dapat menari. Namun dari gerak tari yang memperhatikan watak minimalis itu, dapat diduga akan terjadi gerakan di dalam aspek mentalnya. Watak minimalis gerak tersebut dapat digambarkan dengan posisi tangan yang terkesan menyembah, kepala yang selalu menunduk, dan urdot (ayunan turun-naik badan) dengan keseimbangan kaki yang cenderung tertahan dan tanpa berpindah atau bergeser selama menari. Menari pada Hari Kedua Tarian pada hari pertama berlangsung sampai dua tiga jam dengan keterlibatan tarian solo pemimpin. Secara teknis, tarian pada hari pertama itu dapat dianggap sebagai semacam awal check-in untuk puncak pelaksanaan di hari kedua. Pagi hari pada hari kedua, cahaya matahari tampak tak terhalang sampai ke pelataran bale pasogit. Masing-masing umat Parmalim mulai membenahi persiapan upacara dan diri. Posisi pargondang (pemain musik) ditempatkan pada panggung kecil beratap. Pada hari pertama, posisi mereka ditempatkan di emperan rumah pemimpin. Sambil ansamble musik distel, perangkat-perangkat lainnya di tengah pelataran juga didirikan. Tiga unit langgatan (altar sesaji dan persembahan) diletakkan posisinya mendekati garis tengah antara tiga ruangan, yakni bale partonggoan, bale parpitaan, dan bale pangaminan (yang terletak lebih tinggi dari kedua sebelumnya). Ketiganya didandani dengan kain warna putih-merah yang dibentuk seperti kerucut. Di empat sudut setiap altar dan kerucut itu juga dibubuhi jenis tumbuhan berdaun wangi seperti bane-bane. Menjelang upacara dimulai, sejumlah sesajian (pelean) dimasukkan ke dalam altar itu. Demikian juga borotan (kayu tambatan hewan kurban) yang tahun ini adalah sapi berwarna hitam pekat, tampak sudah ditambatkan sebelumnya di kolong bale parpitaan. Kayu tambatan itu biasa berjenis kokoh seperti ingul yang diberi ukuran dan lobang bentukan sebelum didirikan pada awal upacara. Bentukan lambe (janur kuning atau daunan pohon nira) menyerupai ayam di atas borotan serta dilengkapi umbul-umbul warna Batak (merah, putih, hitam) melengkapi dandanan itu dengan kesan turut menyembah dalam suasana renda-renda. Untuk sisi terdekat antara rumah pemimpin dan bale parpitaan dibuatkan juga poros persembahan khusus bagi raja naopatpuluh opat, para pemegang kekuatan di delapan penjuru mata angin (termasuk para nabi agama samawi). Menjelang tengah hari, umat sudah mengambil posisi duduk di tikar dan menghadap ke arah altar itu. Bunyi musik yang dimainkan beberapa saat sebelumnya mulai mengiringi pemimpin dan keluarganya ke bale parpitaan. Langkah sempurna mereka disertai dengan kostum khusus, selempang kain putih di atas ulos dan sorban hitam agak berjambul merah yang dipakai pemimpin. Anggota keluarga yang belum menikah tidak ikut dalam iringan itu. Di dalam bale parpitaan dilakukan dialog dengan petugas penting upacara seperti ulu punguan, pimpinan komunitas kecil dan raja parhobas (semacam kordinator kerja). Selama dialog di dalam bale parpitaan berlangsung, sekitar setengah jam semua “kiblat” di pelataran dilengkapi dengan pardupaan (tempat bakaran kemenyan) untuk semua jenjang doa atau interval musik yang mengantarai repetisi doa-doa itu. Ibu-ibu paniaran yang bergerak ke bagian lingkaran upacara juga semakin menegaskan upacara akan berlangsung dengan tarian-tariannya. Berbagai tarian yang bisa disebut dengan penamaan khususnya selama puncak acara itu sebagai berikut. Pertama, tortor tonggo, yakni tarian yang sekaligus masih dilakukan oleh sang pemimpin sebagai variasi dari ekspresi doa-doa. Kedua, tortor paniaran, tarian yang dilakukan oleh ibu-ibu yang mengambil posisinya pada lingkaran upacara. Mereka pertama-tama menjadi objek pertama berkah yang ditandai dengan percikan aek pangir, air jeruk purut dan sipir ni tondi, beras yang diletakkan pemimpin ke kepala masing-masing. Lembar napuran, daun sirih dalam sembah tangan ibu-ibu paniaran menjadi simbol adanya permintaan atas posisi itu sebelum umat lainnya menerimanya melalui otoritas pemimpin, keluarga, dan petugas upacara. Ketiga adalah tortor mangaliat, tarian yang dilakukan secara berkeliling, terutama yang dilakukan oleh perwakilan keluarga yang memercikkan jeruk purut dari saoan (cawan putih) dan membawa ampang (keranjang bersegi empat yang berisi hasil pertanian tertentu) serta piring berisikan beras dan daun sirih. Tarian ini dapat berlangsung sampai tujuh kali putaran. Keempat, tortor parhobas, atau tarian dari petugas yang menggotong hewan kurban. Dalam putaran tarian ini, petugas sekaligus tampaknya menjinjing piso halasan (pedang keramat) dan cukup menarik dengan hentak serta perhentian tertentu tariannya. Kelima adalah tortor ama, yaitu tarian yang dikhususkan untuk bapak-bapak setelah hewan kurban digotong ke dapur. Selanjutnya, yang kelima adalah tortor ina-ina, tarian untuk para ibu yang modusnya sama dengan adanya paminta gondang (pemintas jenis melodi tertentu kepada pemusik). Dan yang terakhir, tortor naposo, merupakan giliran menari untuk pemuda dan pemudi yang ada kalanya digabung dengan juru bicara yang bisa diambil alih oleh orang tua. Seluruh tarian berlangsung dengan iringan musik. Matahari sangat gerah pada hari kedua itu. Namun semua penari, baik yang tampil di pelataran maupun “figuran”-nya di tempat duduk masing-masing menampilkan suatu penyatuan jagad besar (makrokosmos) dengan hati manusia (mikrokosmos) di hadirat Mulajadi Nabolon (pencipta langit dan bumi). Dampak penyatuan itu pun akan dibawa pulang kembali ke tempat masing-masing setelah hari ketiga mendapat jambar (potongan-potongan daging kurban) yang menjadi hak proporsional secara adat atau religi. Hujan yang turun pada bulan Juli lalu memang benar-benar hujan yang tabah, arif, dan bijak.
Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.234.180.187

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: