Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
 
 
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Segera Beredar!
Edisi 68 | September 2010
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Kare Kepala Ikan
Presented by. Cucu Sukria Wijaya
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
  insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Jepret Sana, Jepret Sini
Home  Gaya Hidup Jepret Sana, Jepret Sini
Kamis, 6 November 2008 | 12:17:17
Jepret Sana, Jepret Sini

Peter Chandra adalah seorang dokter. Ia memiliki pengakuan akademis untuk menangani pasien dan memegang license untuk praktik pengobatan. Seharusnya Peter dikenang dengan stateskop yang tergantung di lehernya. Tapi dalam pergaulan tertentu, ia justru lebih dikenal sebagai fotografer. Kwalitas jepretannya sejajar dengan para profesional, dan ia pun diakui di kalangan fotografer, sama seperti ketika ia diakui di kalangan dokter. Bedanya, jangan minta Peter untuk mengerjakan satu kegiatan fotografi dengan iming-iming bayaran, karena ia bukan fotografer komersial. Memotret baginya adalah hobi.

Ternyata kegiatan memotret sudah mulai menggejala sebagai hobi dan gaya hidup di komunitas tertentu. Meski tak memiliki dasar yang kuat tentang dunia fotografi, mereka dapat menikmatinya sebagai sebuah kegiatan seni dan proses pencapaian pada satu obsesi tersendiri. Mereka tidak dibayar. Sebaliknya, mereka rela mengeluarkan uang untuk memotret. Inilah komunitas hobi yang tergolong baru di Kota Medan. "Saya bahkan jauh merasakan kepuasan pada saat memotret daripada saat memeriksa pasien," tutur Peter terus terang.

Hendra Arbie, seorang pimpinan hotel di Medan, keranjingan mengoleksi kamera LSR terbaru sebagai wujud kecintaannya pada fotografi. Perangkat kamera tersebut ia simpan dalam tempat khusus dengan temperatur yang terjaga. Dibanding sebagian fotografer profesional, peralatan kameranya malah jauh lebih lengkap. Pada saat-saat tertentu ia bersama komunitas fotografinya merancang kegiatan hunting ke daerah-daerah tertentu sesuai tema yang mereka tentukan. Tentu saja, kegiatan ini membutuhkan dana yang cukup besar, karena harus menutupi biaya transportasi dan akomodasi. "Saya senang pada kamera merek Nikon, dan saya selalu mengamati setiap perkembangan produk ini," katanya.

Persentuhan mereka terhadap dunia fotografi tentunya sangat berbeda dengan para profesional yang memang berangkat dari latar belakang akademis. Mereka juga berbeda dengan orang-orang yang memang menyandang fotografi sebagai profesi. Peter, misalnya, tidak pernah punya bayangan kalau fotografi akan menjadi bagian dari hidupnya, meskipun hobi jepret menjepret ini sudah dilakoninya sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, ragam kamera yang dipakai belum secanggih sekarang. “Kita masih berada di zaman kamera manual, jadi ambil foto juga masih pakai film,” ujar Peter sambil mengenang.

Objek jepretannya pada saat itu pun masih simpel, yakni momen-momen keluarga untuk dokumentasi. Misalnya foto berlibur atau acara keluarga lainnya. Ia selalu menjepret setelah didahului hitungan 1, 2 dan 3. Hasilnya tentu masih standar. "Tapi tak tahu kenapa, saya merasakan sensasi pada waktu itu," katanya.

Hobi memotret ini tak bisa ia jalani berlama-lama. Masalahnya, biaya yang dikeluarkan untuk fotografi cukup menguras kantong. “Saya harus sering beli film. Sedangkan harga satu rol film saja saat itu sudah cukup mahal untuk kantong anak sekolah,” ungkapnya.

Ketika kantongnya sudah bisa diajak kompromi, maka pada awal tahun 2001 lalu, saat kamera digital mulai banyak beredar di pasar, Peter "balas dendam". Ia membeli kamera digital pertamanya, Canon A5 1,2 Mb. Kamera pocket ini dibawanya selalu. Pertama, hanya untuk memotret keluarga, kemudian pemandangan alam (landscape). Kini ia mulai menemukan ketertarikannya yang khusus pada foto-foto landscape (alam). Untuk kawasan Sumatera, Peter jatuh cinta pada panorama Tele. Sedang di luar, ia paling gandrung pada negeri China.

Kini, sang dokter sudah menyandang Canon 300D. Sebagai pendukung, ia melengkapi senjata berburunya ini dengan tiga lensa. Peter sudah basah sekalian. Ia kini memperlakukan kamera sama pentingnya dengan stateskop. “Bagi sebagian orang, satu foto mungkin hanya dipandang sebagai sebuah karya. Tapi bagi saya, foto tak sekadar karya, ia juga bisa mengungkapkan pribadi, pola pandang dan pemikiran seseorang. Rasanya puas ketika melihat hasil foto menjadi berbeda dari aslinya, apalagi jika yang melihat sampai terkecoh,” ujar pengagum beberapa fotografer profesional Indonesia seperti Arbain Rambey, Tengku Jody Zulkarnaen, Christupa Saragih dan Raindra Prakarsa ini.

Sebagai bukti ketekunan dan kecintaan Peter pada fotografi, hasil jepretannya berhasil ikut dalam "Pameran 1.000 Foto" yang digelar awal tahun ini di Jakarta. Foto yang dipamerkannya berupa landscape persawahan terasing yang diambilnya di Kota Sapa, Vietnam.

Sebelum munculnya komunitas hobi, dunia fotografi di Medan bisa dikaitkan dengan satu nama, yakni Andi Kurniawan Lubis. Fotografer profesional yang kini bekerja di Harian Analisa ini pernah mengenyam pendidikan di IKJ, meski tak sampai tuntas. Di paruh akhir tahun 1990-an, ia menetap di Medan dan mulai menularkan ilmu fotografinya di kalangan aktivis kampus. Proses ini hanya berlangsung pada kelompok-kelompok kecil yang berkumpul di atas tikar. Hingga akhirnya para fotografer muda itu mulai mewarnai dunia fotografi setelah mereka menjadikannya sebagai profesi.

Sebelumnya, kegiatan fotografi di Medan, khususnya di media massa, boleh dibilang sangat standar dan tidak didukung oleh kritik foto yang memadai. Belakangan mereka mulai peduli pada aspek estetika, aspek jurnalistik, dan pengetahuan tentang teknologi kamera. Andi sendiri sebagai "mbah dukun"-nya sempat mengukir berbagai prestasi dalam bidang fotografi, baik dalam skala lokal maupun internasional.

Kini, para pecinta fotografi sudah membentuk beberapa klub sebagai wadah mereka berkumpul dan berbagi cerita. Medan Photographi Klub (MP Klub), misalnya. Klub ini berdiri sekitar setahun lalu dan menaungi kurang lebih 40 pencinta fotografi. Mereka berasal dari berbagai latar pekerjaan berbeda seperti pengusaha, dokter, PNS, wiraswasta dan wartawan foto. Andi Kurniawan Lubis, dipercaya sebagai ketua klub. “Modal terpenting untuk bergabung dengan klub ini ialah minat besar. Kamera sebagai senjata fotografer bukan sesuatu yang mutlak, meski sebaiknya setiap anggota memilikinya. Kita tidak membatasi kamera apa yang harus mereka miliki,” jelas Andi.

Menikmati ekstasi dunia fotografi juga tidak harus menggunakan satu kamera LSR yang harganya selangit. Bila belum punya kamera pro, pakailah kamera pocket. Sama serunya. Menurut Andi, yang menentukan kwalitas satu karya foto bukan hanya kamera, tapi juga sense of art si fotografer di belakang kameranya. Oleh sebab itu, istilah fotografer profesional atau amatir bisa gugur dalam batasan tertentu. “Sekali lagi, yang bermain di sini adalah sense of art dan dialog antara fotografer dan objeknya, sehingga tercipta satu pesan yang kuat pada hasilnya,” tutur Andi lebih jauh.

MP Klub memfasilitasi para anggotanya dalam hal penentuan jadwal hunting foto. Kegiatan hunting bisa dilakukan di dalam kota, luar daerah, bahkan hingga ke luar negeri. “Pada dasarnya klub ini tidak mengikat peserta. Mereka dibebaskan jika ingin hunting sendiri atau dengan kelompok fotografer lainnya. Yang sering kita bahas dalam klub ini adalah hasil karya mereka. Berbagai masukan kita berikan untuk menambah pengetahuan anggota, baik dari sisi objek, angle dan lainnya. Diskusi ini juga dilakukan dalam kondisi yang sangat santai,” ujar Andi seraya mengatakan bahwa warkop (warung kopi) adalah tempat favorit pertemuan mereka.

Uniknya, setiap fotografer dari kelompok ini memiliki satu kecenderungan pada objek tertentu. Kalau Peter sangat menyukai objek alam, maka lain halnya dengan Doni Irfan, seorang eksekutif pada perusahaan percetakan di Medan. Eksekutif muda yang baru menekuni hobi fotografi setahun belakangan ini justru kecantol pada objek pesawat. Hampir semua pesawat maskapai penerbangan di negeri ini sudah dipotretnya. Terkadang ia bahkan rela mengendap-endap di pinggiran bandara untuk sekadar mendapatkan momen yang tepat. Maklum memotret objek yang disukainya ini memiliki tingkat kesulitan tertentu, mulai dari masalah izin, objek yang bergerak, dan lokasi yang tertutup dari luar. Hasil jepretannya tentang pesawat tersebut--mulai dari yang outdoor maupun dari dalam badan pesawat itu sendiri-- ia koleksi dalam web pribadinya. Doni Irfan mulai tertarik ikut hunting berkat ajakan saudara kembarnya, Dino Irsan, yang juga punya kegilaan pada objek pesawat.

Untuk menjalani hobi ini, para fotografer kadang-kadang kelihatan seperti sinting. Objek dan momen menjadi segala-galanya bagi mereka. "Tak jarang, kita harus sudah bersiap mulai pukul tiga pagi hanya untuk menunggu matahari terbit. Pada saat lain, kami menghabiskan waktu seharian untuk menunggu saat yang paling pas mendapat gambar yang bagus. Untuk foto alam, ada istilah magic hour di mana pada waktu itu gambaran alam menjadi begitu bersahabat untuk dipindahkan ke dalam kamera,” terang Doni bersemangat.

Anda mulai penasaran? Sebaiknya, mulailah menguji naluri fotografi Anda. Kalau ingin tahu beberapa hal, tak ada salahnya membuka web fotografi.net. Banyak info yang bisa didapatkan di sana. "Bahkan di situs ini kita juga bisa menampilkan foto-foto karya kita. Biasanya karya kita akan dikomentari, dan ini tentunya jadi masukan yang berarti untuk kita,” ujar Doni memberi saran.

Nah, selamat datang di dunia jepret menjepret!


teks oleh silvie azhar & tikwan raya siregar
foto oleh putra perwira lubis
Kirim ke teman Cetak Berita Ini
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
 
Wisata Vulkanik Letusan Sinabung
Tanpa mengabaikan kesusahan saudara-saudara kita di sekitar kaki Sinabung yang terpaksa...

Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jl. Sorik Merapi No. 4 Medan
Sumatera Utara - Indonesia 20213
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 38.107.191.101
Copyright © 2005-2010 by insum Powered by: