Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Tembok-yang-Memisahkan-Kita
Home  Selamat Pagi! Tembok yang Memisahkan Kita
Jumat, 8 Juni 2012 | 18:21:31
Tembok yang Memisahkan Kita

Setelah tetangga saya membangun tembok pagar rumahnya setinggi 1,5 meter, kami mulai jarang bertemu seperti dulu. Segan rasanya menggedor-gedor gerbang depan mereka yang terbuat dari plat baja tebal dan berat itu. Hanya ada satu lubang kecil di plat itu, yang digunakan tuan rumah untuk mengintip calon tamunya.

Tetangga saya ini orang yang baik. Tentu saja dia tidak bermaksud membatasi kunjungan kami. Dia tidak pernah menolak siapapun untuk masuk rumahnya sepanjang mereka sedang di rumah. Tapi entah mengapa, kami memang menjadi segan untuk mengganggu mereka, kecuali ada yang sangat penting. Rasanya tidak enak membuat tuan rumah sering tergopoh-gopoh dari dalam rumahnya membukakan gerbang untuk kami. Akhirnya, tanpa disadari, kami pun membatasi kunjungan.

Sebelum pagar itu dibangun, kami sering bercengkrama di depan rumahnya, dan kadang-kadang di depan rumah saya. Halaman kami serasa menjadi ruang bersama manakala beberapa kursi diletakkan di pekarangan depan. Aroma kembang melati, bunga limau yang merekah, dan kupu-kupu selalu bermain di sekitar pekarangan. Bila sedang panen, kami saling berbagi jambu air, mangga, atau ikan yang dipanen dari kolam kecil. Siapapun yang lewat  pada sore hari sepulang kerja akan kami sapa, dan tanpa sungkan orang-orang lain bergabung dengan kami dan mendapat jatah teh yang dituangkan orang rumah.

Ide pembangunan tembok itu bermula dari uang berlebih yang diterima tetangga saya sebagai bonus tahunan dari kantornya. Lalu ia teringat tembok-tembok rumah orang kaya di kluster-kluster mewah yang didambakannya. Betapa mewahnya tembok-tembok itu, betapa indah ukiran-ukirannya. Tentu saja ia juga ingin terlihat naik status. Lalu ia memutuskan untuk mempercantik rumahnya dengan membangun “tembok status” itu.

Melihat tetangga saya telah membangun tembok yang “megah”, beberapa tetangga lainnya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Agar tidak terlalu mirip dan terkesan meniru-niru, masing-masing berkreasi membuat dekorasi tembok yang bermacam-macam. Mereka seperti berlomba memperlihatkan kualitas imajinasi masing-masing. Tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan untuk keperluan itu. Sebagian tetangga saya memiliki tembok yang lebih mahal dari nilai rumahnya sendiri.

Tidak terasa, tembok-tembok itu semakin banyak. Saya merasa sekeliling kami kian sempit. Tetangga makin jarang saling melihat dan mengunjungi. Beberapa pohon sudah ditebang karena akarnya dapat merusak dasar tembok.  Kini mereka juga memerlukan biaya tambahan untuk cat, karena tembok harus dilapisi warna untuk mencegah lumut dan untuk alasan estetika. Apalagi, tembok pagar adalah bagian yang paling terbuka terhadap pengaruh cuaca dingin dan panas, hujan dan kering. Ada bermacam-macam merek cat untuk keperluan khusus itu.

Anehnya, aksi-aksi pencurian semakin meningkat setelah tembok-tembok itu berdiri. Rupanya para pencuri merasa lebih terlindung dari sudut pandang yang lebih luas dengan cara menempelkan diri di balik tembok. Bagi maling, tembok setinggi 1,5 meter menjadi sarana yang disediakan calon korbannya untuk memuluskan niatnya.
Ketika aksi maling semakin meresahkan, para tetangga saya memutuskan untuk menambah ketinggian tembok rumahnya. Dari 1,5 meter menjadi dua meter atau lebih. Sebagian rumah, yang kelihatan dari luar hanya tinggal bubungannya. Bagian atas tembok pagar dibubuhi dengan pecahan beling. Maksudnya, biar maling  kesulitan masuk. Tapi aksi maling makin menjadi-jadi. Sebagian pemilik rumah yang merasa gemas akhirnya memasang kabel listrik telanjang agar malingnya kesetrum. Tapi yang keduluan jadi korban justru hewan-hewan peliharaan mereka sendiri.

Ada warga yang  memutuskan membeli anjing dan menambatnya di depan rumah. Ide terakhir ini membuat kami makin sulit saling mendekati. Salakan anjing membikin saya jerih dan malas mendekati rumah tetangga saya. Sebagian warga membiarkan anjingnya  berkeliaran pada siang hari untuk mengurangi stres hewan itu. Ini membuat masalah tersendiri lagi. Bagi warga yang tidak suka anjing, kebijakan ini menimbulkan konflik.

Tembok-tembok pagar itu semakin menjauhkan kami satu sama lain. Bermula dari kelebihan uang, gengsi, dan anti-maling, akhirnya tembok memenjarakan kami di rumah-rumah kami sendiri. Saya yang satu-satunya tak punya tembok, pun terasing dan kesepian bersama kupu-kupu dan lebah kecil yang masih setia di tengah hutan tembok ini.  

Kesimpulannya, ketika ribuan orang merayakan dan memperingati perubuhan Tembok Berlin yang memisahkan dua negara, kami di sini justru membangun tembok-tembok baru yang memisahkan ratusan rumah tangga. Dan meskipun setiap orang tidak menyukai tembok penjara, kami secara sukarela telah mendirikan tembok penjara kami sendiri.
Share |
Kirim ke teman
Terdapat (1) Tanggapan

Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.226.5.29

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: