Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Pada-Mu-Tuhan--Aku-Tiup-Saxophone-Ini-
Home  Tradisi Pada-Mu Tuhan, Aku Tiup
Senin, 21 Mei 2012 | 07:13:53
Pada-Mu Tuhan, Aku Tiup Saxophone Ini…
Oleh Taripar M Nababan

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me...
I once was lost but now am found,
Was blind, but now, I see.

T'was Grace that taught...
my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear...
the hour I first believed.

Through many dangers, toils and snares...
we have already come.
T'was Grace that brought us safe thus far...
and Grace will lead us home.

The Lord has promised good to me...
His word my hope secures.
He will my shield and portion be...
as long as life endures.

When we've been here ten thousand years...
bright shining as the sun.
We've no less days to sing God's praise...
then when we've first begun.

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me....
I once was lost but now am found,
Was blind, but now, I see.


Suasana pengunjung yang duduk memenuhi Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Pamen, Padang Bulan Medan, yang  sebelumnya hening, tiba-tiba menjadi riuh saat lagu Amazing Grace di awal acara usai didendangkan. Belum dapat dipastikan penyebabnya. Namun yang pasti, keriuhan itu bukanlah disebabkan pengeboman seperti pernah terjadi di Tahun 2000 lalu, yang pernah melukai jemaat, dan merusak sebagian bangunan gereja ini.

***

Senin malam, 5 Desember 2011, situasi GKPI Pamen memang berbeda dari hari-hari lain, di mana pengunjung gereja biasanya berdoa dan hanya bernyanyi seperlunya, kemudian khusuk mendengarkan khotbah. Di depan altar, malam itu dibuat panggung tambahan yang cukup besar. Sementara di atas panggung disusun pula puluhan alat musik, mulai dari klasik hingga moderen.

Sehubungan dengan Desember yang merupakan waktu perayaan Natal, kelompok musik (ansambel) yang tergabung dalam Komunitas Saxophone & Allround Band, saling bergantian mengumandangkan nada-nada bernuansa Natal. Sesekali etno voice stars bernyanyi dalam bentuk paduan suara, soloist, maupun vocal group, mengikuti irama yang dirilis. “Dalam kegiatan ini tidak ada liturgi, karena kegiatan ini adalah sebuah konser bertema Natal,” kata Markus Sirait, koordinator sekaligus pendiri Komunitas Saxophone Medan.

Menurut Markus, ide penyelenggaraan konser yang membawakan lagu-lagu rohani bertema Natal ini berawal dari berdirinya Komunitas Saxophone Medan pada 5 April 2011 lalu. Anggota Komunitas Saxophone Medan awalnya adalah para mahasiswa Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU) yang gemar bermain musik tiup berbahan metal. Pada awal berdirinya, komunitas ini juga pernah mengadakan Konser Saxophone di alun-alun Departemen Etnomusikologi USU.

Seiring berjalannya waktu, komunitas yang awalnya hanya terdiri dari para mahasiswa Etnomusikologi USU ini berkembang dan kemudian diikuti juga oleh para mahasiswa seni musik lainnya, seperti dari Universitas Negeri Medan dan Universitas HKBP Nommensen Medan. Mereka semua bergabung karena persamaan motivasi, yakni untuk belajar dan berbagi ilmu sekaligus berkarya dalam bidang seni musik.

“Namun yang paling utama adalah untuk mengajarkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Karena dalam pandangan umum, seniman sering kali dinilai urakan. Komunitas ini juga merupakan komunitas bergenre musik pertama di Medan,” ujar pria yang sudah menjadi alumnus Etnomusikologi USU ini.

Meski masih tergolong seumur jagung, komunitas yang berkonsep independen ini telah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai kumpulan dari pribadi-pribadi pemain musik. Tapi jangan salah duga, mereka seluruhnya bukanlah Kristiani. Namun, berhubung sebagian besar di antara mereka adalah para pemain musik yang merupakan pengiring suara dalam setiap ibadah minggu di gereja, tidak mengherankan jika yang ikut dalam konser ini adalah para pemain musik yang berkepercayaan Kristiani.

“Jadi sembari berkarya, saya dan beberapa teman lain juga pelayan rohani di gereja untuk memuliakan Tuhan. Sama seperti konser ini yang semata-mata juga kami manfaatkan untuk kemuliaan Tuhan,” ujar saxophonist yang aktif dalam pelayanan musik gereja di GBI Medan Plaza itu.

Puluhan lagu bertema Natal seperti Emmanuel, I Will Follow Him, O Holy Night, Halleluya Jazz, Malam Kudus, dan lagu lainnya sontak menghibur para pengunjung yang datang. Lagu-lagu tersebut dibawakan dengan aliran dan cara yang berbeda-beda, mulai dari pop, jazz hingga reggae.

Alat musik yang digunakan juga sangat bervariasi, seperti mulai dari hasapi, gitar klasik, irish whistle, suling, taganing, piano, keyboard, biola, saxophone, terompet, cornet, trombone dan alat musik klasik maupun elektrik lainnya. Tidak jarang pula, hiburan musik yang seolah mampu menghipnotis penonton itu, dibuat dalam soloist maupun communal dengan lighting yang lumayan apik.

Menurut Markus, sedikitnya 60 orang musisi dan vokalis telah tergabung dalam komunitas musik ini. “Harapan kita adalah untuk menjadikan komunitas ini menjadi lebih maju dan berkembang. Oleh karena itu kami tidak hanya butuh manajemen dan pembelajaran yang baik, tetapi juga peralatan yang lebih mendukung, sehingga dapat merancang event untuk ke depannya,” kata Markus.

Masalah peralatan memang terkadang menjadi penghambat langkah komunitas ini untuk tetap berkarya. Selain mengandalkan peralatan pribadi, beruntung mereka juga didukung oleh sebuah toko musik bernama Raja Sport, yang berlokasi di Kesawan, Medan.

Markus mengaku, peralatan yang mereka gunakan bukanlah barang murahan yang gampang dibeli oleh kantong mahasiswa. “Untuk saxophone sendiri, paling standar Rp 4,5 juta. Itupun masih made in China,” jelas pria yang akan melanjutkan pendidikan pascasarjana seni musik di Yogyakarta itu.

Dalam rangkaian konser musik ini, alat musik saxophone dapat dipastikan sebagai penghibur yang paling menghipnotis penonton. Bagaimana tidak, bila mendengar saxophone, telinga pendengar akan langsung mengingat Kenny G, yang selalu menciptakan nada-nada harmonis sekaligus romantis. Sehingga tak mengherankan jika penonton selalu histeris dan bergemuruh dalam perasaan yang sebenarnya jauh dari situasi mencekam itu.

***
Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.234.126.92

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: