Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Kegelapan Dunia Lie
Home  Sejarah Kegelapan Dunia Lie
Jumat, 24 Februari 2012 | 08:40:21
Kegelapan Dunia Lie
Oleh Taripar M. Nababan (dirangkum dari berbagai sumber)

“Apakah seorang penyelundup dapat dikatakan berjasa setelah dia membantu sekelompok orang yang merasa diuntungkan karena penyelundupannya yang berhasil? Ini sudah gila…!”

Tulisan itu langsung saja menarik fokus kedua bola mataku untuk membaca terus komentar selanjutnya. Puluhan orang di bawahnya berargumentasi mengenai gelar kepahlawanan John Lie si Hantu Selat Malaka. Ia tidaklah setenar pirates of Caribbean di lautan. Tapi ia telah diangkat sebagai pahlawan resmi suatu negara.

Hingga pertengahan tahun ini, setelah merdeka 65 tahun, masih ada orang yang ragu dan gelap mata tentang si penyelundup. Selain menganggap John Lie adalah seorang penyelundup biasa yang mungkin pada masa itu sedang mencari keuntungan, ada pula yang baru mengetahui kalau John lie adalah pahlawan nasional dan kemudian merasa gusar karena John Lie bukanlah orang pribumi.

Hei Bung! Jangan terlalu banyak berkomentar jika memang belum mengetahui persis letak duduknya perkara. Bagaimanapun, gelar kepahlawanan itu sudah dipikirkan sebelum diberikan. Hentikan celoteh kesombongan kalian. Karena pemberian gelar pahlawan nasional tersebut keluar dari sejarahwan LIPI yang saya rasa tidak bodoh.  
Dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, John Lie menyumbangkan jasa yang tidak ternilai. Tanpa jerih payah John Lie dan armadanya, pasti Indonesia, khususnya Sumatera, akan kesulitan membentuk angkatan bersenjata yang handal untuk melawan penjajah.

Pria yang biasa disapa Lie ini lahir dari masyarakat Tionghoa. Meski banyak menghabiskan masa mudanya di Sumatera, anak dari pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie ini adalah kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911.

Lie pada awalnya hanya seorang mualim atau penunjuk jalan di kapal pelayaran niaga milik Belanda. Namun setelah bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), ia kemudian diterima menjadi bagian dari Angkatan Laut RI.
 
Menjadi Penyelundup Perkasa dari Tenggara

Semula Lie bertugas di Cilacap dengan pangkat Kapten. Di pelabuhan ini, selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor.
 
Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal tahun 1947, ia pernah mengawal kapal yang membawa karet seberat 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan.  

Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera, seperti Bupati Riau, sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.  

Perjuangan John Lie dan kelompoknya tidaklah ringan, karena selain menghindari patroli Belanda, mereka juga harus menghadang gelombang lautan yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan. Satu kelihaian yang dimiliki John Lie sehingga tidak dapat dilacak oleh Belanda adalah aksinya yang selalu memanfaatkan kelamnya malam untuk mengarungi lautan.  

Musuhnya bukanlah hanya patroli angkatan laut Belanda, tetapi juga laut yang buas dan cuaca yang kadang tidak ramah. Dalam kegelapan tanpa secercah cahaya, operasi-operasi licin John Lie berlangsung bak hantu lautan.

Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat yang dinamakan The Outlaw. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan" penting.  

Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan kolonial di Singapura, ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat dihadang pesawat terbang patroli Belanda ketika membawa senjata semi-otomatis dari Johor ke Sumatera.  

Saat dihadang, John Lie hanya mengatakan bahwa kapalnya sedang kandas. Dan entah mengapa, para patroli penjajah itu tidak pernah sekalipun mengeluarkan perintah tembak kepada John Lie yang sudah jelas-jelas membawa senjata. Karena kemampuan John Lie yang licin, angkatan laut Belanda menjulukinya sebagai The Greatest Smuggler of the Southeast, artinya Si Penyelundup Perkasa dari Tenggara.

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan Komandan Batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari Syahbandar bahwa kapal The Outlaw milik Republik Indonesia diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Salah seorang rekan seperjuangan Lie di pertempuran Medan Area, Amran Zamzami (1990), menulis tentang John Lie dengan gaya yang agak romantis dan emosional. Berbeda dengan para pelaut yang merindukan bintang gemintang, ia menyebut Lie sebagai pemburu pekatnya malam. Dalam tumpahan kabut lautan itulah, John Lie beroperasi dengan speedboat-nya yang melesat bagaikan hantu. Ia memimpin langsung anak buahnya membongkar muatan, lalu dialihkan ke tongkang-tongkang yang telah menunggu, begitu juga sebaliknya, dari tongkang ke speed boat Lie.

Semua pekerjaan itu dilakukan tanpa cahaya. Lie menghadapi dua musuh yang sama-sama ganas. Yang pertama adalah patroli laut Belanda. Dan yang kedua adalah laut yang buas atau cuaca buruk. Jika secara kebetulan patroli laut Belanda mencium gerak mereka, maka nyawa taruhannya. Tembakan senjata otomatis dan meriam adalah bagian dari permainan operasi ini.

Sepanjang pertempuran Medan Area yang melibatkan para pejuang Aceh dan Langkat, Lie bekerjasama dengan Mayor Oesman Adamy, Kepala Bagian Perlengkapan Divisi-V/TRI Komandemen Sumatera, dan Kapten Nukum Sanany. Operasi-operasi Lie meliputi penyelundupan perlengkapan tempur ke Kuala Langsa, Kualaraya Seruway, Kuala Sungai Putih, Pulau Kampai, dan Kuala Panglung Tungkem. Dari pelabuhan-pelabuhan di Sumatera itu, mereka bolak-balik ke pelabuhan-pelabuhan Port Swethenham, Malaka, Muar dan beberapa bandar lainnya di semenanjung. Selain persenjataan, mereka juga mengangkut komoditi karet mentah yang kemudian dijual dan ditukar kembali dengan persenjataan. Proses barter komoditas hasil bumi dengan senjata itu dilakukan di tengah laut, di mana Lie dengan tegas dan disiplin melarang anak buahnya menyalakan api, meskipun hanya untuk sekadar merokok.  

Sebagai pejuang yang organik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, Lie antara lain mendapat tugas resmi dari Kementerian Pertahanan RI melalui Mr Ali Budiarjo untuk menjual karet dari Aceh , dan uang hasil penjualannya digunakan untuk membiayai perjalanan keliling Menlu RI H. Agus Salim dalam rangka misi diplomasi agar kemerdekaan Indonesia diakui secara de jure oleh negara-negara lain.  

Pernah suatu ketika, speed boat Lie kepergok dan dikejar destroyer Belanda ketika baru saja meninggalkan Kuala Langsa. John Lie kembali menuju pantai, tetapi tidak masuk pelabuhan. Ia menyusuri pantai sehingga kapal perang Belanda yang lebih besar sulit melakukan pengejaran. Lewat radionya, kapal perang Belanda meminta bantuan unit patroli yang menggunakan kapal berukuran lebih kecil. Lie terkepung dari depan dan belakang. Pada saat itulah ia tiba-tiba memutar haluan ke tengah dan melesat secepat mungkin ke tengah selat. Sebagai pelaut, ia tahu daya jelajah para pengejarnya yang hanya maksimum berkecepatan 15 knot per jam. Speed boat-nya sendiri bisa mencapai kecepatan 25 knot per jam. Dengan itu, Lie dikejar rentetan senapan mesin dan meriam kecil. Tapi karena ia lari dengan format zig-zag, sulit bagi tentara Belanda membidiknya dengan tepat.

Armada keseharian Lie adalah tiga speed boat kecil berdaya muat 20 ton. Para komandan ketiga speed boat itu masing-masing Mayor J. Simon (A. 66), Mayor A. Rahman (A. 63) dan John Lie sendiri memimpin speed boat bernomor A. 58. Dalam strategi operasi, mereka banyak dibantu oleh Lettu Sudomo (kelak ia menjadi Pangkopkamtib dan Menkopolkam pada Kabinet Pembangunan V.
Membentuk Radio Rimba Raya

Selain mengusahakan perlengkapan bagi pembentukan Angkatan Laut Republik Indonesia, John Lie juga menjadi kreator utama dalam pengadaan peralatan radio yang digunakan Tentara Republik Indonesia di Sumatera.

Menyelundupkan peralatan radio tersebut tidaklah mudah. John Lie mengangkutnya dengan dua buah kapal kecil. Satu kapal berisi peralatan, satu lagi berisi 12 tentara. Kapal yang berisi tentara bertugas mengelabui patroli Belanda di Selat Malaka.

Agar peralatan radio sampai ke perairan Aceh, John Lie menjadikan kapal berisi 12 tentara sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian Belanda. Tentara-tentara itu pun tewas di tengah laut setelah diserang patroli musuh. Sementara kapal yang mengangkut peralatan radio sampai ke Kuala Yu, Kuala Simpang. Di sana, John Lie disambut oleh Kapten Nukum Sanany atas perintah Abu Daud Beureueh.
 
Radio Rimba Raya itu juga sempat dimanfaatkan oleh Komandan Tri Divisi X, Kolonel T. Hoesin Joesoef, sebagai pemancar siaran umum sebelum diangkut ke Aceh Tengah.

Menurut beberapa tokoh pejuang kemerdekaan lainnya di Aceh, seperti yang diungkapkan Teuku Ali Basjah Talsya, peranan Radio Rimba Raya sangat besar dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan di tanah air.

Hingga tahun 1950, Radio Rimba Raya masih mengundara. Radio ini selain menyampaikan berita kemerdekaan, juga berperan penting dalam berbagai pemberitaan serta menyampaikan radiogram kepada wakil pemerintah di luar negeri.

Pada awal 1950, John Lie sempat bermukim di Bangkok. Namun ia kemudian dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikutnya, ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku, lalu PRRI/Permesta.  

Kesibukannya dalam perjuangan di laut membuatnya baru bisa menikah pada usia 45 tahun dengan Pdt Margaretha Angkuw. Pada 30 Agustus 1966, John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma.  

John Lie mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. Pemerintah Indonesia sendiri memberikan panggilan khusus bagi Mayor John Lie, yakni “Panglima di Lautan”.

Ia meninggal dunia karena stroke pada 27 Agustus 1988. Sebagai Pahlawan Nasional, Lie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, sang penyelundup besar dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 November 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.  

Bagaimana? Masih adakah kegelapan dalam gelar kepahlawanan Lie?
Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.234.42.16

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: