Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Van-Bangka-Begint-de-Victorie-
Home  Sejarah Van Bangka Begint de
Sabtu, 11 Februari 2012 | 15:38:46
Van Bangka Begint de Victorie
Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

Bung Karno dan Bung Hatta pernah merasakan pengasingan di Bangka. Konon dari tanah yang menjadi latar belakang buku dan film Laskar Pelangi inilah datangnya kemenangan negeri kita yang berawal dari slogan van Bangka begint de victorie.

Provinsi  Bangka Belitung, selain kaya panorama pantai, juga banyak menyimpan jejak rekam sejarah. Di provinsi yang berjuluk Bumi Sepintu Sedulang ini, banyak tokoh yang sempat diasingkan. Dua di antaranya adalah Soekarno dan Hatta.

Di sinilah tercetus slogan van Bangka begint de victorie yang cukup dikenal di kancah internasional. Salah satu tokoh  pejuang Indonesia, M. Roem, menerjemahkan slogan itu menjadi dari Bangka datangnya kemenangan. Kehadiran sejumlah negarawan yang diasingkan di Bangka ini meninggalkan kesan bagi masyarakat setempat, dan berbagai peninggalan yang kini bisa menjadi salah satu tetenger (ikon) pariwisata Bangka.

Wisata Sejarah

Menjelajah Bangka, tak elok kalau kita tak menengok Mentok. Kota yang bagi sebagian orang disebut juga dengan nama Muntok ini, terletak sekitar 133 km dari Kota Pangkalpinang, Ibukota Provinsi Bangka Belitung. Sekitar dua abad silam, sebelum tahun 1913, Mentok merupakan ibukota Bangka sebelum akhirnya dipindahkan ke Pangkalpinang.

Menurut  Ketua Bangka Heritage, Ir. Hongki Listiyadi, Kota Mentok sudah dikenal sejak berabad-abad lalu sebagai kota pelabuhan niaga lada dan timah. Akibat perdagangan dan peran komoditas timah yang menarik banyak kalangan untuk mengadu nasib, Kota  Mentok yang terletak di bagian barat ini dikenal sebagai kota multikultur.

Di kota ini banyak tersisa bangunan-bangunan kuno yang menjadi kawasan heritage.   “Rumah mayor, kompleks kelenteng kuno dan masjid yang berdampingan, kawasan pemakaman kuno Kuto Seribu, Wisma Rambang, dan Pesanggrahan Bukit Menumbing, adalah bukti-bukti sejarah yang harus dilestarikan,” ujar Hongki yang juga konsultan pariwisata Bangka.

Selain itu, bekas-bekas galian pertambangan timah (tail) yang banyak tersebar di Pulau Bangka, menyisakan kejayaan masa lalu pulau itu. Siapa yang tak kenal Bangka yang konon disebut-sebut sebagai salah satu penghasil timah dan lada hitam terbesar di dunia?

Tempat Pengasingan Proklamator

Bangka makin dikenal dan tertoreh dalam sejarah perjalanan bangsa, karena dijadikan tempat pengasingan para tokoh Indonesia seperti Surya Darma Asaat, Abdul Gafar Pringgodigdo, Ali Sastro Amijoyo, M. Roem, Agus Salim dan termasuk tokoh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Tempat pengasingan di Bukit Menumbing yang kini dijadikan kawasan pesanggrahan (penginapan) yang dulu sering digunakan Bung Karno, Bung Hatta, Abdul Gafar, Surya Darma dan M. Roem, masih bisa dilihat. Mobil sedan kuno berplat “B-1” yang digunakan Bung Karno, serta ruang kerja dan kamar tidurnya masih terawat dan tertata rapi.
 
Tokoh negawarawan seperti Ali Sastro Amijoyo banyak menghabiskan waktu di Pesanggrahan Wisma Rambang, Mentok. Menurut Salikin SK, salah satu pelaku sejarah di Bangka yang masih hidup , selain di Menumbing, Bung Karno juga punya kamar di Pesanggrahan Mentok yang sering disebut dengan Wisma Rambang, tepatnya di Kamar 12, tempat ia beraktifitas.

Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Rambang  berjarak sekitar 11 km. Keduanya kini dijadikan tempat penginapan umum, kendati tamu yang datang hanya kadang-kadang saja. Salah satu ruangan di Pesanggrahan Mentok yang juga dikenal dengan sebutan Wisma Rambang ini pernah  menjadi tempat negosiasi antara pimpinan Indonesia yang tengah diasingkan dengan pihak Belanda.

Saat desakan pengembalian kedaulatan Indonesia semakin kuat, ternyata pilihan Belanda untuk mengasingkan tokoh-tokoh penting Indonesia ke Bangka menjadi kurang tepat. Pasalnya, masyarakat Bangka justru menyokong perjuangan Bung Karno dan kawan-kawan, bahkan mendorong kemerdekaan penuh negara ini.

Tanggal 21 Februari 1949, Soekarno menorehkan tulisan yang berisi bahwa rakyat Bangka bersemangat untuk bergabung dengan Indonesia. Perpisahan masyarakat Mentok dengan para tokoh Republik yang diasingkan ini pun terjadi pada tanggal 5 Juli 1949. Yogyakarta dikembalikan menjadi Ibukota Indonesia. Selanjutnya pada 6 Juli, rombongan Soekarno meninggalkan Mentok menuju Pangkalpinang, dan sehari kemudian terbang ke Yogyakarta.

Kuliner Nostalgia

Makanan bisa dijadikan ikon sebuah masa. Misalnya di Bangka, panganan pelite menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa pada masa kemerdekaan. Panganan kebanggaan masyarakat Mentok yang terbuat dari olahan tepung beras, santan dan gula yang ditempatkan dalam wadah mungil yang berasal dari daun pandan ini, merupakan makanan favorit Bung Karno dan kawan-kawannya pada saat itu.

Maka tak mengherankan ketika Bung Karno berkesempatan bersama masyarakat Mentok berjalan-jalan dari Pesanggrahan Mentok menyusuri Pantai Tanjung Kelian, pelite juga ikut disiapkan sebagai bekal untuk hidangan saat melepas lelah. Pada waktu itu tak kurang dari 70 orang yang turut serta mengikuti Bung Karno, di mana sebagian besar adalah anak muda yang bergabung dalam PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia).

Dalam buku “Kenangan Manis dari Menumbing” yang diterbitkan PT Balai Pustaka,  A.A Bakar mengisahkan kegiatan bersama Soekarno ini merupakan kenangan yang tidak terlupakan bagi masyarakat Bangka. Konon pada waktu itu, di sepanjang perjalanan, mereka menyanyikan lagu berirama mars. A.A Bakar juga pernah melayani Bung Hatta dan sejumlah tokoh kemerdekaan yang menghabiskan masa pengasingan di Menumbing. Perjalanan itu di tengah-tengah pengawasan mata-mata Belanda yang berseliweran. Bukan Bung Karno kalau tak banyak akal. Untuk mengelabui, Bendera Merah Putih diganti dengan warna biru putih yang disamarkan menjadi bendera PORI.

Organisasi PORI merupakan cikal bakal KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). PORI didirikan di Mentok pada masa itu untuk menggalang persatuan para pemuda. Pasalnya, organisasi politik sudah dilarang oleh Pemerintah Belanda, sehingga peluang untuk mengobarkan semangat perjuangan dilakukan lewat dunia olahraga.

Organisasi lain yang didirikan Bung Karno adalah Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sayangnya, bangunan kantor API kini berubah menjadi gardu pemuda. Selain menggelar jalan bersama, Bung Karno kerap mengunjungi warga setempat untuk bercengkerama. Di situlah semangat berjuang terus digelorakan, kendati tidak secara terbuka. ”Bung Karno banyak bercerita tentang Bangka di masa dulu. Dia begitu paham tentang sejarah Bangka,” jelas A.A. Bakar.


Road to Bangka

Jika Anda tertarik untuk melacak jejak tokoh proklamator sekaligus menikmati keindahan negeri Laskar Pelangi ini, Pulau Bangka dapat dijangkau dan diakses dari berbagai kota dengan mudah. Dari Jakarta, Bangka bisa dicapai dengan pesawat udara hanya 45 menit, sedangkan dari Palembang sekitar 35 menit. Dari airport Dipati Amir, Pangkalpinang, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan angkutan darat ke sejumlah objek wisata. Selain itu, Bangka juga dapat dicapai dengan transportasi kapal laut, baik melalui Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) maupun ferry dari Pelabuhan Boom Baru (Palembang) menuju Kota Muntok.

Tak lengkap rasanya ke Bangka kalau tak berburu kuliner dan oleh-oleh khas Bangka. Oleh-oleh khas yang harus dibeli adalah kerupuk bangka yang sering disebut kemplang. Sambel lingkung, otak-otak, lintah laut kering (lisom),  getas (kerupuk) ikan tenggiri, terasi (belacan) bangka yang khas, menjadi target selanjutnya. Jangan lupa madu hitam spesial dari Bangka yang konon berkhasiat untuk menghilangkan rasa lelah dan mendongkrak gairah kaum lelaki. Sedangkan untuk cenderamata, Anda bisa membeli tenun cuan khas Bangka, rajutan renda dan pernak-pernik kerajinan dari kerang dan hasil laut lainnya.

***
Share |
Kirim ke teman
Terdapat (9) Tanggapan




Dear Freda:First, I want to thank all our friends who vote with what they buy. Without their faithful supports, Third Place will not even exist. Third Place will have her historical significance in Taiwan’s Salon and Spa industry.Third Place is the first Salon and Spa in Taiwan that don’t use fear based and distrust based Commission System to reward hairstylists or Spa aestheticians. People told me that I am crazy to trust young hairstylists will work for non-commission. All hairstylists got into this profession for money, not for their passion or service from heart. I just want to prove to them that they are wrong. People want to be trusted and wanted to participate in something larger than themselves. Of course, we have a merit based salary with open book management and 20% profit sharing and a different career paths for all our hairstylists. They can open their own salons and stay within our network, they can become a teacher at Canmeng Institute or they can be a happy hairstylists who practice Daymaking everyday with their best friends ( guests ). Hairstylist is a ” beautiful ” and ” rewarding ” profession if you decided not to put money in the center of your career path. In Canmeng, we are trying to create a new beauty industry which is not built on commission, but on lifestyle choice and Daymaking. Time really flies, especially, during our age.I intend to focus my time on Ripplemaker Foundation starting in 2013.Ripplemaker Foundation’s mission is to help people to realize their dream through entrepreneurship. I firmly believe people don’t need charity, people just need chance.In many ways, Ripplemaker Foundation is like a Profit for Purpose ( PFP ) business. Ripplemaker Foundation will be financed completely by my own efforts, not seeking any donation or government fund. I think this is the problem for most NPO who needs donors, sponsors and grants to survive. I think PFP business is the next phase, in addition to the buzz business model: Social Business or Social entrepreneur.If you read my book or search this blog, you will find the origin and the evolution of this PFP Business model.Well, I am going to put it into experiment now. ( Red Room is actually a kind of PFP business model already, if you look closely. )Thank you for your well wishes. I shall need it.Ping

auto insurance quotes





Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 23.22.212.158

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: