Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Mengharap Lembaran Baru
Home  Perjalanan Mengharap Lembaran Baru
Rabu, 4 Januari 2012 | 10:39:30
Tuktuk
Mengharap Lembaran Baru
Teks oleh Putra Perwira Lubis

Pukul 18.00, sirene pun mulai dibunyikan. Ini tandanya kapal akan segera berangkat. Beberapa orang yang sebelumnya berada di dermaga, bergegas naik dan mengambil tempat. Kapal perlahan meninggalkan Ajibata untuk melaksanakan tugas berlayar menuju Tuktuk, di Pulau Samosir.

Kapal yang kami tumpangi ini adalah trip terakhir menuju Tuktuk. “TUKTUK”, kata itu tertulis pada sebuah plank kayu di bagian depan kapal yang menandakan bahwa kapal ini akan mengantarkan kami ke sebuah kampung berbentuk tanjung yang menjadi denyut kegiatan pariwisata di Pulau Samosir. Kapal kayu ini berlantai dua dan dicat dengan warna kuning muda. Mesin bekas dari sebuah mobil truk besar dipasang untuk menjadi pemutar kipas yang membuat gelombang sehingga kapal ini dapat berlayar di dinginnya air danau.

Tak banyak penumpang yang diangkut kala senja ini. Di haluan kapal, hanya ada beberapa remaja lokal, kenek (ABK) kapal, dan barang-barang yang akan diseberangkan. Di ruangan yang agak tertutup di bagian bawah kapal, hanya ada seorang nahkoda dan pasangan yang lebih memilih berada dalam kesunyian. Di bagian atas kapal, beberapa wisatawan bersama para guide-nya yang terlihat lusuh karena mungkin baru saja selesai melakukan trekking di hutan, bercengkrama, bergurau dan terbahak sambil menikmati hisapan demi hisapan batangan rokok.

Dan aku, hanya terpaku di sudut kiri kapal dengan sesekali melihat langit, melihat ke haluan kapal, melihat mereka yang tenggelam dalam suasana riang karena telah menyelesaikan sebuah perjalanan menembus belantara Toba, melirik seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berantai besi yang terkesan jinak di bahu seorang wisatawan asing walau mungkin saja merindukan kebebasan yang selalu diagung-agungkan oleh manusia, dan melatih otot-otot mata dengan mengejar gerak-gerik gerombolan ikan yang berlarian oleh gelombang yang ditimbulkan kapal.

Melihat ikan-ikan yang berlarian itu, aku jadi teringat tentang sebuah cerita rakyat yang menjadi latar mengapa Danau Toba ini ada. Legenda yang dinarasikan oleh seorang guru ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku pun mencoba mengingat cerita itu.

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar”, gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku”.

Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?”, gumam petani.

 “Jangan takut Pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkan aku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itu pun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai pasangan suami istri.

Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar, maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka.

Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani.

 “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus!” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga petani dan istrinya. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan petani dan istri bertambah, karena istri petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri.

Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri petani selalu mengingatkan petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimana pun dia itu anak kita,” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Dilihatnya Putera sedang bermain. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tahu diuntung! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!” umpat si petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang. Lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.
***

Aku terjaga dari lamunan ketika seorang pria dengan uang dalam genggaman tangannya menyapa. Tampaknya dia adalah kenek kapal yang ditugaskan untuk meminta bayaran atas jasa penyeberangan ini. “Berapa bang?” tanya ku sambil merogoh uang yang ada dalam saku celana. “Tujuh ribu satu orang bang,” jawabnya dengan logat khas batak. “Abang mau diantar ke mana?” tanyanya melanjutkan. “Tolong ke Tabo aja ya Bang, Tabo Cottages,” jawab ku menjelaskan.

Berbeda dengan kapal penyeberangan munuju Tomok di Pulau Samosir yang hanya mengantar sampai pelabuhan saja, kapal penyeberangan ke Tuktuk selalu mengantar penumpangnya sampai ke penginapan-penginapan yang ada di pinggir-pinggir danau sesuai permintaan kita. Meski kita harus membayar Rp 3.000 lebih banyak dari kapal yang menuju Tomok, tapi itu tidaklah seberapa ketimbang kita harus mengeluarkan biaya yang mungkin lebih mahal karena harus menyewa kendaraan khusus dari Tomok menuju Tuktuk disebabkan ketiadaan transportasi lokal yang reguler di daerah ini.

Hampir setengah jam berada di kapal, Tuktuk pun semakin jelas terlihat di depan. Daratan yang relatif landai menjorok ke danau yang hampir seluruh garis pantainya berdiri bangunan-bangunan dengan beragam arsitektur yang menjadi tujuan menginap para tamu yang berkunjung ke danau vulkanis ini.

Di sebelah selatan, terdapat bentukan alam berupa deretan tebing-tebing terjal dengan ketinggian sekitar 300 meter. Dari celah-celah dan sambungan-sambungan antara punggungan tebing yang satu dengan punggungan tebing yang lainnya, tampak air terjun-air terjun yang menyembur dan menghempas bebatuan di bawahnya. Menurut Roliat, pemuda lokal yang juga bertugas di Dinas Kehutanan Kabupaten Samosir, dulunya air terjun ini terus ada sepanjang waktu. Namun, karena menurunnya jumlah vegetasi di bagian hulu menyebabkan deretan air terjun yang menjadi tontonan jika kita sedang melakukan perjalanan dari Tomok menuju Tuktuk atau sebaliknya, menjadi kering dan hanya ada pada waktu musim penghujan saja.       

Keindahan bentangan alam di Pulau Samosir dan Danau Toba ini mengingatkan aku akan sebuah teori akan dahsyatnya sebuah ledakan yang terjadi puluhan ribu tahun silam. Ledakan dari sebuah gunung api tua yang sangat besar dan menjadi awal zaman es.

Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu.

Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari China sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut. Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan.

Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta orang. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Titik terdalam Danau Toba adalah 505 meter dengan ketinggian 905 meter di atas permukaan laut. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Pulau Samosir yang terdapat di tengah Danau Toba dengan luas 630 km², merupakan pulau di dalam pulau yang terbesar serta tertinggi di dunia.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat, bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari Oxford University tersebut meneliti proyek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erruption supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga kutub utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan gunung berapi Toba kala itu. Bukti-bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis.

Sudah sekitar 75.000 tahun yang lalu Gunung Toba meletus. Perlahan secara pasti sudah terjadi evolusi. Kehidupan pun semakin berdenyut di tengah kalderanya. Pembangunan fisik dan kehidupan sosialnya juga sudah melahirkan sebuah peradaban baru dengan kebudayaan yang kini kita kenal dengan masyarakat Batak Toba sebagai subyeknya.
***

Kapal telah dari kemarin petang mengantarkan kami merapat di dermaga Tabo Cottages. Keesokan pagi, aku memilih bermandi sinar matahari di sebuah sopo (rumah) yang tepat berada di pinggir danau, setelah sebelumnya berjalan menembus keheningan pagi yang dingin di Tuktuk. Sesekali aku berpapasan dengan anak-anak sekolah yang menahan kantuk melalui jalan aspal berkelok yang terkadang menanjak dan diselingi oleh turunan.

Pagi di penghujung tahun 2010 ini, aku tak melihat wisatawan dari luar negeri yang berseliweran. Menurut seorang lelaki paruh baya beretnik nias, setelah lebih dari 12 tahun, Tuktuk masih saja sepi pengunjung. Lelaki bermarga Zebua ini yang mengenal Tuktuk pada masa jayanya sarat akan tamu sehingga dia memutuskan untuk mengadu nasib dan bekerja di sebuah hotel, kini telah banyak ditinggalkan oleh tamu. “Dulu kalau pagi-pagi, banyak kita lihat orang-orang asing yang tidur di bangku-bangku restoran karena tidak mendapatkan kamar lagi,” kenangnya menuturkan.

Kini lelaki paruh baya itu tidak lagi bekerja di hotel seperti sebelumnya. Turunnya jumlah tamu telah membuatnya terdepak dari hotel itu. Saat ini dia memilih untuk menjadi pengrajin ukiran kayu yang harus terus bertahan meski permintaan pasar masih sedikit.

Keluar dari bengkel milik Pak Zebua, aku memang menyaksikan deretan restoran yang lengang dan belum tampak beraktifitas. Dan memang, kini tak ada lagi wisatawan asing yang terlelap di bangku-bangku panjang yang mereka sediakan. Sesekali aku melihat orang keluar dari dalam restoran-restoran untuk melihat sesuatu, mungkin melihat kehadiran ku, namun kembali ke dalam seolah malas untuk memulai berjualan.      

Setelah jauh berjalan, baru aku menjumpai sebuah kedai nasi dan tak ragu untuk memasukinya. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, aku kini cukup enggan untuk masuk ke restoran atau pun rumah makan yang menjajakan produknya tanpa label halal. Keraguan itu timbul karena pengalaman sebelumnya ketika aku memasuki sebuah tempat makan yang menyatakan bahwa makanan yang disajikan berkategori halal. Namun aku mengurungkan untuk melanjutkan memesan makanan karena di dalam daftar menu, ternyata ada beberapa kategori makanan yang ternyata haram dikonsumsi oleh umat muslim. Mulai saat itulah aku sangat berhati-hati untuk memilih dan hanya berlangganan pada setidaknya beberapa tempat makan saja yang kuyakini kehalalannya.

Kesulitan untuk mencari tempat makanan yang menyajikan menu halal memang kenyataan yang sering ditemukan oleh tamu muslim yang berwisata ke Tuktuk. Setelah aku melakukan beberapa testimoni, barulah nampak sebagian dari akar masalah tersebut.

Secara sederhana, bagi umat muslim sebenarnya kehalalan makanan itu terdiri dari aspek bahan maupun perlakuan. Namun bagi para pemilik tempat-tempat makan di Tuktuk yang umumnya bukan beragama Islam, konsep kehalalan makanan menurut Agama Islam masih lebih sempit diterjemahkan hanya pada bahannya saja. Hal ini terbukti ketika dahulu di sebuah tempat makan, aku sempat menyatakan kepada pelayan untuk tidak jadi memesan makanan karena ada makanan yang tidak halal. Dengan ringan pelayan itu pun menganjurkan untuk tidak memilih makanan yang haram bagi umat muslim itu, melainkan memilih deretan makanan halal lainnya yang mereka sajikan.

Dari pengalaman tersebut sebenarnya tampak bahwa konsepsi makanan halal bagi pelayan tersebut adalah makanan yang bukan berbahan seperti yang dilarang dalam ajaran Islam. Konsepsi seperti itu sebenarnya bukan mutlak kesalahan pelayan tersebut, karena mungkin saja itu adalah akibat dari keterbatasannya untuk mengakses informasi yang sebenarnya memang bukan dari ajaran agama sendiri. Masalah seperti inilah sebenarnya yang dibutuhkan kerja-kerja dari para regulator untuk memfasilitasi dengan salah satu cara yakni sosialisasi, sehingga mendapatkan tafsir yang relatif sama akan sebuah konsep mendasar tersebut.

Banyak catatan di kertas putih pada media-media berskala nasional maupun internasional yang memaparkan tentang pengelolaan kegiatan pariwisata di sekitar Danau Toba yang kurang melihat keberlanjutannya di masa yang akan datang. Seperti halnya cerita tentang berdirinya bangunan-bangunan baru yang secara langsung merusak rupa alami kawasan tersebut. Pengelolaan sampah yang buruk sehingga berakibat pada kurang baiknya kondisi lingkungan. Cenderamata-cenderamata yang semakin tidak orisinil mencerminkan artefak khas daerahnya, ditambah lagi harganya yang selangit sehingga membuat para wisatawan enggan untuk membeli. Bahkan seorang warna negara asing yang telah lama menetap di Tuktuk mengungkapkan bahwa mungkin saja Danau Toba tidak bisa masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia karena banyak wisatawan asing yang dibohongi penjual ketika membeli mangga di Parapat.

Catatan-catatan berupa kritik sebenarnya sangat dibutuhkan jika kita ingin merasakan datangnya kembali kejayaan Tuktuk atau kawasan Danau Toba secara keseluruhan di waktu-waktu mendatang. Apalagi ketika kita sudah sadar bahwa dengan pariwisatalah kawasan sekitar Danau Toba dapat lebih bergeliat lagi secara ekonomi. Idealnya tentu saja kritik tersebut dapat kita jadikan bahan evaluasi untuk nantinya menghasilkan rekomendasi untuk mencapai harapan akan kawasan Danau Toba yang lebih baik.
***

Tenang rasanya ketika perut sudah terisi. Angin dingin dari arah danau kian memanjakan ketika bersantai di atas sopo ini. Pandangan ku kembali mengarah ke bagian atas tebing-tebing terjal yang masih berair terjun. Kemarin Bang Simarmata, pegawai yang masih cukup muda di lingkungan Dinas Kehutanan Kabupaten Samosir, sangat bersemangat memaparkan tentang sebuah pekerjaan yang cukup ambisius.

Di Pulau Samosir ini, di atas bukit-bukit terjal yang berada di Desa Tomok, akan dibangun kebun raya seperti halnya yang ada di Bogor. Nantinya, kebun raya yang direncanakan seluas 100 hektar ini, akan ditumbuhi oleh tanaman khas yang dapat tumbuh di dataran tinggi.

Mendengar informasi tersebut, aku langsung berpikir bahwa sebenarnya ini merupakan pekerjaan yang cukup menantang disamping membutuhkan energi serta kesabaran yang tinggi. Bayangkan, untuk membuat sebuah Kebun Raya Bogor saja oleh Belanda kala itu, dibutuhkan tak kurang 100 tahun hingga tercipta sebuah ekosistem baru di dalamnya.

Tapi semangat yang tampak dari pegawai-pegawai muda yang kini kembali untuk mengabdikan diri di kampung halamannya, pastinya dapat memberi warna baru dalam proses pencapaian pekerjaan-pekerjaan yang cukup ambisius tersebut. Ini terbukti dari hasil kerja keras dengan keluar-masuk hutan hingga mereka menemukan bunga raflesia yang tumbuh di Pulau Samosir. Walau masih dalam proses penelitian lebih lanjut, dengan diameter yang relatif lebih kecil dari bunga raflesia arnoldi, kemungkinan besar bunga yang baru ditemukan tersebut merupakan raflesia spesies baru yang akan menambah daftar kekayaan akan keanekaragaman hayati di negeri kita ini.  

Hari kian sore. Dari sopo ini, tampak awan kelabu mulai menggumpal dan kian menutupi langit. Di kejauhan, di dekat tebing-tebing terjal, awan kelabu tampak sudah mulai menurunkan hujan. “Umur air terjun di tebing-tebing terjal itu akan lebih lama lagi,” pikir ku.
Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.224.79.93

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: