Matahari belum menyembul di ufuk timur ketika beberapa anak yang tergabung dalam Indonesian Sketcher Medan (ISM) telah menghiasi hari mereka dengan perjalanan menuju Parapat, Kabupaten Simalungun. Selama lima hari ke depan, Ayu, Aishah, Naomi dan tak ketinggalan Ryan yang kini masih berusia 4 tahun, telah meminta izin meninggalkan bangku sekolah untuk berbaur bersama orang-orang saat digelarnya Pesta Danau Toba (PDT) 2010.
Pada gelaran PDT 2010 kali ini, kumpulan anak yang masih tergolong belia itu sudah cekatan membuat sketsa spontan tentang objek-objek kerumunan masyarakat, pawai budaya, perkenalan kontingen, dan pagelaran budaya apa saja. Hampir semua yang terjadi dalam gelaran PDT 2010 kali ini diabadikan menjadi karya sketsa yang cukup menarik perhatian pengunjung. Tidak hanya sampai di situ, kegiatan lain seperti suasana orang yang lalu lalang, duduk-dudukan, berdiri sampai pidato berisi kata sambutan oleh penyelenggara pun tak luput direkam menjadi sebuah karya sketsa oleh anak-anak ISM.
Pada hari selanjutnya, tanggal 21 hingga 24 Oktober 2010, giliran Iwan, Oei, Seir Lubis, Rio, Putra, Amir dan penulis sendiri yang giliran beraksi untuk melanjutkan kegiatan ISM. Kali ini kami berencana menggelar kegiatan melukis tubuh kerbau atau buffalo body painting. Kegiatan buffalo body painting ini merupakan kali pertama digelar di acara PDT. Kegiatan yang unik dan akan memberi warna tersendiri bagi pelaksanaan PDT 2010 ini ternyata cukup terkendala karena ketiadaan kerbau yang akan dilukis. Kondisi itu membuat sebuah media lokal menurunkan berita berjudul Tak Ada Kerbau Lantai Pun Jadi. Memang, agar tetap menjaga semangat, kami pun membuat mural pada anak tangga yang cukup lebar di jalan menuju pentas utama di Lapangan Pagoda.
Dengan usaha yang tak kenal lelah, hari selanjutnya kami pun mendapatkan seekor kerbau berkat bantuan para kolega. Buffalo body painting pun terlaksana di Puncak Bukit Senyum yang memiliki ketinggian sekitar 1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut). Cuaca yang dingin, kabut yang bertebaran dihiasi gerimis menemani kegiatan kami di bukit yang berada di Desa Motung, Kecamatan Ajibata ini.
Menurut keyakinan sebagian masyarakat batak, Puncak Bukit Senyum di Desa Motung itu merupakan tempat Sisingamangaraja bersama kudanya mencari air setelah melakukan perjalanan yang melelahkan. Karena tampak kudanya sudah sangat haus, sang raja pun langsung menancapkan tongkat tunggal panaluan-nya ke tanah. Seketika itu juga air keluar membasuh dahaga kuda Sisingamangaraja tersebut. Mulai sejak itu, Desa Motung pun menjadi basis Sisingamangaraja untuk menghimpun kekuatan pasukannya.
Kegiatan yang kami beri nama "Kerbauku Pariwisataku" ini dimulai setelah sebelumnya berkenalan dengan hewan berbadan gempal yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu itu. Agar lebih akrab, kami menamai kerbau yang akan dilukis ini dengan nama Butet, kata yang dalam bahasa batak berarti panggilan kepada seorang perempuan.
Butet
Tak lama kemudian, goretan-goretan motif gorga dan ornamen ragam hias pun menempel di tubuh kerbau. Untuk melukis kerbau, para pelukis anggota ISM tidak boleh emosional dan harus bersabar ketika menggoretkan kuas-kuas mereka. Ini disebabkan karena ‘kanvas’ yang dilukis adalah hewan hidup dan bergerak yang juga cukup sensitif jika ada suara ribut yang bisa membuatnya terkejut.
Kerbau itu tampak begitu senang ketika lampu-lampu kilat yang berasal dari kamera menerangi wajahnya untuk direkam. Layaknya seorang model, kerbau itu dengan santai mengibas-ibaskan ekor ke badannya yang telah penuh dengan tepung dan pewarna yang tidak membahayakan bagi tubuhnya. Sesekali ekornya juga ikut mewarnai kami dengan menyipratkan warna dan tepung ke wajah-wajah para penampil.
Gagasan kontemporer seperti gambar jorngom menjadi materi utama pada buffalo body painting kali ini. Mengait filosofi lukisan Monalisa dengan senyum misterinya, kali ini jorngom yang kami buat tampak seperti sedang tersenyum.
Ada keheningan yang terjadi sesaat setelah selimut awan tebal tidak lagi menyelimuti aktifitas kami. Tampak segerombolan awan putih yang bergerak perlahan meneduhi prosesi puncak kegiatan melukis bersama ini seperti sengaja memayungi agar penandatanganan karya di kanvas kulit kerbau tersebut tidak terganggu oleh gerimis tipis yang sejak awal membasahi daerah ini.
Selain buffalo body painting, pameran lukisan juga digelar dan menjadi rangkaian kegiatan yang semuanya diprakarsai oleh Lindi Galeri, Indonesian Sketcher Medan, dan de’art_sho[p]tainmEnt organiser. Pameran lukisan karya almarhum M Saleh dari Lindi Galeri ini menampilkan tiga lukisan yang di antaranya berjudul Tiga Perempuan Batak, Tiga Belas Penari, dan Tiga Rumah Tradisi yang dipajang di tiga sudut arena pagelaran.
Semangat mengangkat budaya lokal dengan menggelar kegiatan semacam ini diharapkan di kemudian harinya lebih mendapat dukungan dari semua pihak. Semoga masyarakat bisa merespon kegiatan ini sehingga menjadi tontonan menarik dengan menyertakan kerbau-kerbaunya untuk ikut festival buffalo body painting pada kesepatan mendatang.
***
adalah seekor kerbau berusia tiga tahun. Walau berada dalam kerumunan, kerbau itu tampak bersahabat dan menerima dengan sepenuh hati niat kami untuk melukisi sekujur tubuhnya. Ritual awal dimulainya buffalo body painting ini didahului dengan nyanyian hening oleh pemilik kerbau sembari membuat polesan di wajahnya dengan warna merah, hitam, dan putih sebagai lambang dari dunia tengah, bawah dan atas. Setelah itu, tiga bambu pancang yang telah diberi warna yang juga serupa, ditancapkan di atas bukit hingga membentuk garis vertikal menghadap danau.