Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Tujuh-Hari-Kutacane---Bukit-Lawang-Lewat-Hutan
Home  Perjalanan Tujuh Hari Kutacane -
Senin, 3 Januari 2011 | 11:43:52
Trekking Sosial Kindertehuis Bukit Lawang (2)
Tujuh Hari Kutacane - Bukit Lawang Lewat Hutan
by. Ekky Siwabessy

Baju basah yang kami gunakan, hasil kombinasi  keringat bercampur air sungai dengan suhu nyaris membeku, berulang kali kering di badan sebelum kembali basah saat menyeberangi  liar jeram-jeram Sungai Bekail. Sela-sela kaki yang mulai diserang kutu air mulai terasa perih dan gatal. Benar-benar menjengkelkan dan membuat pergerakkan kami jauh lebih lambat. Tapi bagaimana pun juga trekking terakhir melintasi belantara Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dari Kutacane ke Bukit Lawang harus diselesaikan untuk mengisi pundi-pundi dana kebutuhan anak-anak panti asuhan Kindertehuis Bukit Lawang. Tekad inilah yang mungkin membuat  kami pada akhirnya mampu bertahan meskipun tubuh sudah tidak bisa diajak kompromi.

Setelah sebelumnya merambah belantara Bukit Lawang selama seminggu (inside sumatera vol 68). Dilanjutkan menggapai Tangkahan dari Bukit Lawang selama seminggu. Kali ini, masih dalam rangkaian kegiatan trekking sosial selama sebulan untuk men-support dana kebutuhan panti asuhan Kindertehuis Bukit Lawang, Aku, Leigh Swenson (Australia), Oliver Anstey (England), Abdullah dan ketiga asistennya melintasi belantara TNGL dari Kutacane menuju Bukit Lawang.

Jalur ini sebenarnya jalur yang terhitung rawan. Maklumlah, paket trekking 7 hari Kutacane - Bukit Lawang atau sebaliknya sudah sangat jarang diambil oleh para wisman yang berkunjung ke Bukit Lawang. Paling-paling dalam setahun hanya 2 atau 3 trip yang pernah digelar dengan rute antar provinsi ini. Karena selain waktu tempuhnya yang terlalu panjang, medan yang dilalui juga sangat berat.

Untuk memudahkan perjalanan, tim memutuskan untuk memulai trekking dari Kutacane. Keputusan ini dipilih karena melakukan perjalanan mengikuti arus Sungai Bekail yang hulunya berada di garis perbatasan Provinsi NAD dan Sumut tersebut, jauh lebih mudah dibandingkan melawan arus dari Bahorok/Bukit Lawang ke Kutacane.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan selama 8 jam (sekitar 240 km) dengan mobil dari Medan ke Kutacane, pada tanggal 2 September pukul 17.45  WIB, tim akhirnya tiba di pos pendakian di Desa Kampung Baru, Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara. Desa Kampung baru ini berjarak sekitar 15 menit sebelum mencapai Kutacane.

Basecamp pendakian yang sering digunakan para guide Bukit Lawang tersebut memiliki letak yang cukup strategis. Letaknya berjarak sekitar 20 menit dari Bandara Leuser (Kutacane) dan 5 menit dari pusat pasar Kecamatan Semadam. Basecamp berupa rumah milik Pak Arifin yang lebih dikenal dengan sebutan Pakcik Ifin.


Tanjakan Maut Puncak Alas

Setelah beristirahat sehari untuk memulihkan kondisi badan, hari Jumat 3 September 2010, pukul 10.30 WIB, tim memulai perjalanan melintasi perkebunan coklat dan karet milik warga. Tujuannya Camp Bortunah. Terletak sedikit di bawah puncak Gunung Alas yang merupakan salah satu puncak tertinggi dari jejeran puncak-puncak gunung di dalam kawasan TNGL.

Tanjakan dengan kemiringan 70 hingga 80 derajat merupakan sarapan kedua kami di hari yang terik itu. Beratnya tanjakan menuju Bortunah merupakan bagian dari pendakian yang paling ditakuti para guide. Waktu tempuh bagi penduduk desa yang hanya berkisar 2,5 jam, bisa molor hingga 8 bahkan 9 jam. Hal itu disebabkan karena para guide dan tamu harus memanggul beban perbekalan yang dibawa minimal untuk 7 hari perjalanan.

Sesuai dengan julukannya, tanjakan maut menuju Bortunah maupun puncak Gunung Alas memang benar-benar menyita stamina. Nyaris tak ada ‘bonus’ (jaur datar) yang dapat dijumpai selama perjalanan. Belum lagi kondisi medan yang terbuka, membuat sinar matahari langsung menyengat kulit menghasilkan derasnya cucuran keringat yang membasahi seluruh tubuh. Kami beberapa kali harus berhenti untuk istirahat, mengambil nafas sambil membuka baju yang basah kuyup oleh keringat serta berusaha mengeringkannya di bawah sengatan mentari.

Terkadang, terlintas pikiran untuk menyerah. “Baru hari pertama sudah begini berat bagaimana hari-hari selanjutnya,” celetuk ku. Untungnya Abdullah dan timnya (Pak Buyung Sembiring, Pak Ali Atoli Ginting dan Pika) tidak berhenti memberi semangat dan meyakinkan kami untuk dapat mencapai camp hari pertama sebelum gelap.

Jalur yang tadinya terbuka perlahan mulai merapat, tertutup oleh rimbunan pepohonan nan lembab hingga memudahkan kami untuk melangkah karena tidak terkena sinar matahari secara langsung. Ketika semangat mulai terpompa, kembali medan sejuk itu berganti lahan terbuka membuat beberapa diantara kami menyumpah kesal walaupun tetap meneruskan perjalanan.

Akhirnya pada pukul 15.15 WIB, kami tiba di bagian bawah Bortunah yang merupakan lahan garapan masyarakat Desa Kampung Baru di sebuah punggungan di bawah puncak Gunung Alas. Terdapat 3 pondok peladang di tempat itu. Berbagai jenis tumbuhan garapan penduduk dapat dijumpai di sini, mulai dari coklat, nira, karet hingga aneka sayur-sayuran.

Sialnya camp yang kami tuju berupa pondok milik Pak Ifin berada di lereng sebelah atas punggungan. Kurang lebih 30 menit lagi meniti jalur menanjak di bawah naungan Puncak Alas. “ Kita break 15 menit sebelum jalan,” kata Pak Buyung saat kami berjumpa salah satu pondok milik warga bernama Pak Abdul Karim. Seolah mengerti keletihan kami, Pak Abdul Karim menawarkan sesisir pisang dan air nira hangat untuk memuaskan rasa lapar dan dahaga kami.

Tak mau membuang waktu, usai beristirahat kami melanjutkan sisa perjalanan mendaki sepotong punggungan menuju pondok Pak Ifin yang letaknya paling tinggi dibandingkan pondok-pondok lain di kawasan itu. Akhirnya pada pukul 16.00 WIB kami tiba di camp pertama dalam rangkaian perjalanan kami.

Kondisi tubuh yang sangat letih seolah terbayar oleh keindahan panorama Kabupaten Aceh Tenggara dengan Ibukota Kecamatan Kutacane di bawah sana. Secara geografis, Kabupaten Aceh Tenggara terletak antara 3055'23” – 4016'37” LU dan 96043'23‘ – 98010'32” BT. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues. Di timur dengan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Timur. Di selatan dengan Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Provinsi Sumatera Utara. Di barat dengan Kabupaten Aceh Selatan.

Wilayah Kabupaten Aceh Tenggara terletak di ketinggian 25 – 1.000 mdpl (meter di atas permukaan laut), berupa daerah perbukitan dan pegunungan. Sebagian kawasannya merupakan daerah TNGL. Suhu udara berkisar antara 25 sampai 32 derajat celsius.

Langit yang cerah pada malam itu dengan kombinasi kemilau lampu-lampu di Kutacane serta secangkir teh panas, memberikan suntikan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Meskipun sedikit menggigil oleh serbuan angin dingin pada ketinggian hampir mencapai 2.000 mdpl, kami berhasil melalui malam dengan waktu istirahat yang cukup.


Air Terjun Sungai Bekail

Mungkin dinginnya suhu udara di Bortunah yang membuat kami terlelap dalam pelukan pagi. Walhasil setelah sarapan dan berkemas, baru pada pukul 10.30 WIB tim bergerak meninggalkan Bortunah ke dalam rimbunan belantara TNGL yang membatasi NAD dan Sumatera Utara. Meskipun tidak sedahsyat tanjakkan kemarin, namun tetap saja tubuh kami dipaksa mandi keringat saat melintasi punggungan menuju salah satu puncak yang membatasi dua provinsi itu.

Baru pada pukul 13.00 WIB kami tiba di puncak Gunung Alas yang oleh para penduduk Desa Kampung Baru biasa disebut Puncak Dingin. Di sisi kanan tampak puncak Gunung Perkison yang angkuh. Sementara di baliknya mengintip puncak Gunung Bendahara dengan ketinggian 3.012 mdpl. Di Puncak Alas kami menyempatkan diri menyantap mie instan goreng yang sudah dimasak di Camp Bortunah untuk persiapan makan siang.

Tak banyak hal yang menarik dari Puncak Alas kecuali suhu dingin menggigit walau hari masih siang. Selebihnya Puncak Alas tertutup oleh jajaran pepohonan. Setelah 40 menit beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuruni puncak menuju hulu Sungai Bekail. Jalur menurun lumayan terjal dan licin, membuat anggota tim berulang kali terjatuh.

Baru pada pukul 16.20 WIB, seluruh anggota tim tiba di dasar lembah sekaligus hulu Sungai Bekail berupa air terjun dengan ketinggian berkisar 30 meter. Panorama di dasar lembah membuat kami semua terperangah menatap air terjun yang jarang dikunjungi manusia tersebut. Kondisi ruang di bawah air terjun yang sempit membuat uap air berkumpul di dasar lembah. Menghempas benda apapun di bawahnya. Daun dan pepohonan basah dan bergoyang-goyang.

Hal ini membuat kami enggan mengeluarkan kamera karena takut basah terkena hempasan air. Untungnya Leigh yang pada dasarnya seorang instruktur diving, membawa kamera underwater miliknya. Meskipun sulit mengambil keseluruhan air terjun karena sempitnya delta sungai, tapi paling tidak ia berhasil mengabadikan fenomena alam di hulu Sungai Bekail tersebut.

Abdullah bersama asistennya dengan cekatan mendirikan tenda di salah satu tikungan sungai untuk menghindari hempasan dari air terjun. Saat menunggu tenda didirikan, kami berdiri  di pinggir sungai. Belum sempat tenda berdiri, hujan turun dengan derasnya hingga terpaksa kami harus berlindung di balik jas hujan. Belum cukup sampai disitu, serbuan lebah hutan menyengat beberapa bagian tubuh kami. Sialnya aku mendapat sengatan di daerah kening (di antara dua mata). Pembengkakan pada daerah itu membuat wajah sedikit aneh hingga 3 hari ke depan.

Hari Minggu, tanggal 5 September 2010, tepatnya pukul 11.20 WIB, tim berangkat menelusuri sungai di daerah hulu menuju Bukit Lawang atau lebih tepatnya daerah Timbang Lawang. Perjalanan benar-benar menyiksa. Meskipun terdengar gampang karena tinggal mengikuti aliran sungai, namun kami harus 9 hingga 10 kali masuk hutan untuk menghindari jeram-jeram di hulu Sungai Bekail.

Aku yang meremehkan saran Abdullah untuk mengenakan celana panjang, harus menahan rasa perih, gatal sekaligus panas karena terkena rimbunan tumbuhan jelatang yang biasanya tumbuh subur di daerah lembah sungai. “Kan udah dibilang pakai celana panjang,” celetuk Pak Ali, salah satu asisten Abdullah saat melihat wajahku berkerut menahan perih pada tangan dan kaki.

Karena sulit dan beratnya medan yang kami tempuh selama perjalanan, membuat target ke shelter Jambur Geleh tidak tercapai. Akhirnya saat hari menjelang gelap, guide dan asistennya memutuskan mendirikan tenda di lapangan kecil dan datar di sebelah kanan sungai. Karena tak bernama, kami akhirnya menjuluki camp itu dengan nama Shelter Dadakan. Shelter yang namanya kami beri karena keputusan mendadak mengingat hari sudah gelap sehingga harus berhenti untuk melewati malam.

Malam itu para asisten guide menjaring ikan jurung di sungai. Ikan pun terjaring sekitar sekilo yang selanjutnya disambal dan disantap bersama. Rasanya benar-benar nikmat dan sehat. Ikan jurung adalah sejenis ikan sungai yang hidup di sungai-sungai berarus deras di Sumatera Utara, Aceh sampai wilayah Riau dan Jambi. Ikan jurung sungai ini bentuknya mirip ikan mas, hanya saja siripnya berwarna perak dan gerakannya sangat gesit. Ikan ini biasanya bergerombol di lubuk sungai atau bagian terdalam pusaran sebuah sungai.

Perangainya berbeda dengan salmon yang suka ‘mendaki’ melawan arus, ikan jurung akan melakukan manuver apapun untuk melarikan diri dari pemangsanya tanpa peduli ke mana arus sungai. Oleh karena itu perlindungan terbaiknya adalah lubuk-lubuk sungai.


Jejak Gajah
Senin pagi tanggal 6 September 2010, tim kembali bergerak menyusuri sungai sambil sekali-kali masuk ke dalam hutan di sisi kiri dan kanan sungai. Sepanjang perjalanan, kami banyak menyaksikan aneka satwa mulai dari burung, biawak, sejenis burung king fisher yang terbang rendah menyambar ikan-ikan kecil di permukaan sungai, horn bill atau burung rangkong berukuran raksasa yang melintas di atas kepala lalu hinggap di tajuk-tajuk pepohonan.
Tak salah pendapat MacKinnon and MacKinnon (1986) menyatakan bahwa Leuser mendapatkan skor tertinggi untuk kontribusi konservasi terhadap kawasan konservasi di seluruh kawasan Indo-Malaya. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibi, ikan, dan infertebrata. Merupakan kawasan dengan daftar burung terpanjang di dunia, dengan 380 spesies, dimana 350 di antaranya merupakan spesies yang tinggal di Leuser.
Leuser juga rumah bagi 36 dari 50 spesies burung egara ‘sundaland’. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat ada di tempat ini. Ekosistem Leuser merupakan habitat orangutan sumatera (Pongo abelii), harimau sumatera (Panthera tigris), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), owa (Hylobathes lar), kera (Presbytis thomasii) banyak yang lainnya. Di samping rumah bagi berbagai fauna kunci, di TNGL kita bisa menemukan lebih dari 4.000 spesies flora.
Pada pukul 14.20 WIB, kami menjumpai jejak gajah sumatera yang tampaknya menjadikan sisi kanan dan kiri sungai yang datar dan sedikit terbuka sebagai tempat bermain beberapa hari yang lalu. Tak lama kemudian, kami juga menjumpai tumpukan kotoran gajah yang telah berjamur. “Mereka di sini beberapa hari lalu, sekarang mungkin di daerah Sungai Landak,” papar Abdullah.
Tipe gajah di TNGL merupakan sub-spesies dari gajah asia. Semula jalur jelajahnya meliputi hampir seluruh Sumatera. Namun beberapa puluh tahun terakhir, jalur jelajahnya menyempit di wilayah hutan yang masih mampu mendukung populasinya. Di TNGL, kini tak ada satu pun jalur jelajah gajah yang cukup terlindungi.
Gajah sumatera ini menyukai habitat di hutan hujan dataran rendah dengan drainase tanah yang baik tetapi dengan dukungan suplai air yang mencukupi. Kawasan di bawah ketinggian 1.000 mdpl ini pun juga harus memiliki cadangan makanan yang disukai gajah, yaitu bambu, rumput liar, liana, kulit pohon tertentu, dan beberapa jenis buah seperti durian, mangga, dan cempedak.
Suplai yang menurun dari berbagai jenis makanan tersebut akan berdampak pada pola breeding, kerentanan pada penyakit, dan kematian. Oleh karena itu, dengan berkurangnya luas hutan hujan dataran rendah, tentunya akan langsung mengancam keberadaan gajah sumatera ini.
Populasi gajah di TNGL diprediksi sebanyak 160 - 200 individu. Populasi ini terpisah dalam beberapa kelompok, dengan harapan terjadinya inter-breeding yang kecil. Menurut Griffiths (1999), dengan memberikan cukup perlindungan dan koridor yang tepat akan membantu menjaga masa depan gajah sumatera ini agar lebih baik.
Daerah jelajah awal dari populasi gajah di TNGL meliputi kawasan Sekundur di Langkat, menuju Kappi dan memotong enclave Gumpang dan Marpunge menuju lembah Alas, Muara Situlen, dan berakhir di sekitar Lawe Bengkung sampai sebelah barat Kluet.
Pukul 16.00 WIB kami tiba di Shelter Sampuran Buah. Nama shelter ini diambil karena tak jauh dari situ (sekitar 200 meter), terdapat sebuah air terjun dengan ketinggian 10 meter bernama Air Terjun Sampuran Buah.
Malam itu kembali kami dimanjakan dengan hasil tangkapan ikan jurung. Untuk mengisi waktu, pada malam hari kami bermain kartu sembari bercerita tentang serunya perjalanan seharian sambil menghitung jumlah luka karena sengatan daun jelatang ataupun gigitan pacet.
Keesokan pagi, kami berangkat terlambat (sekitar pukul 11.00 WIB) meninggalkan Shelter Sampuran Buah. Jalur yang kami lewati lumayan melelahkan karena hutan mulai terbuka hingga panas matahari menyengat langsung. Belum lagi kubangan lumpur terdapat di mana-mana berisi puluhan pacet.
Kami sempat mampir di persimpangan antara Sungai Bekail dan alur kecil bernama Kuala Tambang. Di situ kami menemukan sebuah gubuk yang ditinggal penjaganya untuk mencari ikan. Di gubuk itu terdapat berbagai jenis ikan tangkapan termasuk sejenis belut/morea yang biasa disebut ikan dongdong. Setelah melanjutkan perjalanan, baru pada pukul 16.30 WIB, kami tiba di Camp Merdikan. Sebuah camp yang nyaman tepat di sisi kanan sungai yang mulai mengalami pelebaran,.
Tanggal 8 September 2010, pukul 09.00 WIB, kami meninggalkan Camp Merdikan menyusuri sungai untuk mendekati peradaban. Selepas makan siang, hujan mengguyur dengan derasnya, membuat kami terpaksa harus berjibaku mendaki perbukitan naik dan turun menghindari jalur sungai karena arus Sungai Bekail mulai meninggi.
Sekitar pukul 17.00 WIB, hujan mulai berhenti. Dengan kondisi basah kuyup kami mulai menuruni dinding perbukitan dan mencari tempat untuk menyeberang. Tak lama kemudian kami tiba di pinggir sungai yang sudah berubah warna menjadi kuning. Ketinggian air meningkat drastis memaksa kami menyeberangi sungai sambil mengangkat ransel di atas kepala. Cukup sulit dan beresiko. Tapi untungnya semua bisa menyeberang dengan selamat. Karena hari sudah mulai gelap, Abdullah dan assistennya memutuskan untuk membangun tenda di pinggiran sebuah air terjun kecil bernama Limbelang. “Sebenarnya dari sini hanya dua atau tiga jam lagi ke kampung, tapi kita nggak punya pilihan lain. Lagipula kondisi kita sudah lemas,” kata Abdullah.
Malam terakhir dari rangkaian perjalanan 7 hari dari Kutacane ke Bukit Lawang kami lewati dengan obrolan panjang hingga larut malam. Tak terasa rangkaian kegiatan trekking sosial selama sebulan untuk men-support kebutuhan anak-anak panti asuhan akan berakhir dalam beberapa jam ke depan. Meskipun letih tapi hasil dari perjalanan ini cukup memuaskan.
Menurut Leigh Swenson, sejumlah dana dalam mata uang EURO berhasil dikumpulkan dan kemungkinan telah bertambah sejak terakhir kali kami meninggalkan Bukit Lawang menuju Kutacane beberapa hari lalu. Oliver Anstey yang selama perjalanan siang tadi terlihat kelelahan, tampak ceria dan tak sabar untuk bersentuhan dengan peradaban.
Keesokan harinya, setelah berjalan melintas hutan dan ladang garapan penduduk, sekitar pukul 12.00 WIB, tim tiba di pinggiran jalan raya Bahorok - Bukit Lawang. Saat menunggu angkutan umum menuju Bukit Lawang, semburat senyum penuh kepuasan tampil di wajah-wajah lelah kami. “We doing well guys”.
***


Share |
Kirim ke teman
Terdapat (14) Tanggapan














Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 50.19.155.235

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: