Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Manjau-Muli--Tata-Cara-Memacari-Gadis-Lampung-Sungkai
Home  Tradisi Manjau Muli, Tata Cara
Senin, 8 November 2010 | 10:22:51
Manjau Muli, Tata Cara Memacari Gadis Lampung Sungkai
by. Christian Heru Cahyo Saputro

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Di berbagai daerah di Indonesia, terdapat berbagai cara tradisional untuk ”memacari” gadis-gadisnya. Tepatnya, tata cara menurut adat untuk beranjangsana atau mengunjungi gadis yang dalam istilah gaulnya, ngapelin.

Di tengah komunitas budaya Lampung Sungkai, dikenal istilah manjau muli, yaitu sebuah tata cara pertemuan pemuda dan pemudi yang disahkan menurut adat. Istilah ini berasal dari marga Bunga Mayang Sungkai di Lampung Utara yang berarti nganjang gadis atau ngapelin gadis. Sebagai bagian dari adat, manjau muli tentu memiliki tata krama dan kebiasaan tersendiri.

Manjau muli umumnya dilakukan pada malam hari seusai Magrib. Seorang pemuda (bujang) mengendap dari belakang rumah gadis yang dituju. Pada saat manjau itu,  si bujang (mekhanai) harus memberikan isyarat seperti kedipan lampu senter, menyalakan korek api, atau dengan suara petikan jari.

Jangan khawatir, gadis Sungkai sudah tidak asing lagi dengan isyarat tersebut. Jika ada manjau muli, si gadis akan menghampiri dapur tanpa harus membuka pintunya (jika malam hari), dan menanyakan siapa gerangan yang datang. Setelah jelas, maka si gadis akan mempersiapkan ruang tamu dan mempersilakan bujang yang manjau untuk masuk ke ruang yang telah disediakan lewat pintu depan.

Di sinilah fase awal sebuah perkenalan bujang-gadis yang mulai merintis hubungan keremajaannya, saling beradaptasi, dan saling mengenal pribadi masing-masing dalam kondisi yang serba terbatas. Pergaulan mereka tidak sebebas remaja sekarang. Mereka pun harus memakai tutur bahasa yang baik dan sopan. Bahkan jika Bapak atau kakak laki-laki si gadis lewat ruangan itu, si bujang wajib menundukkan wajahnya dan sejenak menghentikan pembicaraannya dengan si gadis.

Meskipun memiliki aturan yang sangat ketat dan sopan, tapi gadis Sungkai sangat terbuka untuk menerima setiap bujang yang manjau, walaupun pada akhirnya ia harus memilih salah satu di antaranya. Menerima bujang adalah bagian dari kesopanan dan kepatutan, karena tata caranya sudah diatur adat. Bila seorang gadis menolak manjau seorang bujang, itu bisa dipandang sebagai sikap sombong. Dan sikap sombong dapat mengundang sanksi sosial, semisal dijauhi teman-teman si bujang yang ditolak.

Di pihak lain, para bujang pun harus siap berkompetisi untuk mengambil hati gadis pujaannya. Sering terjadi pada malam Minggu, misalnya, para bujang melakukan manjau secara bersamaan, tetapi tidak membuat gadis kalang kabut. Biasanya gadis Sungkai dapat mengendalikan suasana seperti itu, seperti berlaku tidak memihak kepada salah satu yang manjau, meskipun ia sudah menaruh hati pada salah satunya. Jadi, tidak akan ada yang sakit hati. Masing-masing punya kesempatan untuk tebar pesona, memperlihatkan sopan santun, kecerdasan, kebaikan, kepedulian, bersilat lidah, janji-janji, dan seterusnya.

Nampaklah mental si gadis yang kuat apabila ia dapat mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada pada bujang-bujang yang manjau. Walaupun datang secara bersamaan dengan saingannya, para bujang yang manjau juga harus menunjukkan sikap yang arif dengan tetap rukun dan tertib dalam berbicara.

Pada saat-saat tertentu, bisa saja nenek si gadis ikut nimbrung ngobrol atau berkelakar, yang maksud dan tujuannya adalah ingin tahu lebih dekat para bujang yang mendekati cucunya, dan memberikan penilaian tentang mereka. Siapa di antara yang manjau yang paling cocok buat pasangan cucunya tercinta? Ini dapat dimengerti karena pada umumnya gadis Sungkai lebih dekat dan akrab dengan neneknya. Mereka lebih leluasa berbicara apa saja dibanding dengan ibunya. Itulah salah satu fungsi mengapa nenek dan kakek tetap hidup serumah dengan keluarga anaknya.

Acara manjau ini dapat berlangsung terus menerus, sehingga sampailah pada proses selanjutnya: bekadu.

Bekadu

Bekadu merupakan bagian dari proses manjau muli setelah bujang-gadis saling kenal dan menunjukkan hubungan yang makin akrab. Bekadu dikenal sebagai semacam ”pengumuman” pada khalayak perwatin tulak hanau (ibu-ibu) dan muli-mekhanai (bujang-gadis) pada pesta tiyuh setempat bahwa yang bersangkutan secara resmi telah menjalin hubungan pacaran.

Biasanya acara bekadu diadakan dengan cuak mengan (makan bersama) atau paling tidak minum kopi bersama. Dalam acara ini, sang bujang akan lebih mengenal lingkungan adat dari pihak gadis yang dipacarinya. Jadi, bekadu juga merupakan proses di mana bujang akan beradaptasi dengan lingkungan dan adat istiadat keluarga si gadis.

Betuntuk

Istilah ini merujuk pada fase hubungan yang sudah demikian akrab dan terjalin dengan baik. Betuntuk dapat dikatakan sebagai tindakan memperkokoh silaturahmi antara bujang dengan keluarga besar si gadis.

Betuntuk merupakan wujud pengabdian si bujang terhadap keluarga si gadis berupa bantuan tenaga seperti ngusi nguraw (membantu membuka lahan perladangan), nugal (menanam padi) dan lain-lain. Intinya, membantu pekerjaan keluarga si gadis. Dalam pengertian antropologi, proses ini seumpama inisiasi atau nilai pertukaran dari pelepasan si gadis (bagian dari paket bride price).

Nuwik

Nuwik ini merupakan proses yang paling akhir dalam kegiatan manjau muli. Pada fase ini, bujang-gadis mengikat janji tentang jadwal pelaksanaan sebambangan (nijuk) atau mungkin intar terang.

Nuwik dapat dilakukan oleh si bujang tanpa mengikutsertakan pihak orang tuanya. Substansi nuwik adalah berunding dengan gadis untuk menentukan pernikahan. Pernikahan dalam pengertian mereka adalah, mengangkat bujang-gadis ke derajat dan kemuliaan yang lebih tinggi.

Itulah keagungan budi luhur nenek moyang kita yang telah mewariskan tata krama titi piranti
Share |
Kirim ke teman
Terdapat (9) Tanggapan









Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen wasn ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wijn...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.234.231.49

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: