Pilihan yang paling mudah menyangkut hubungan kita dengan Malaysia adalah perang. Pilihan ini tidak menuntut syarat-syarat yang rumit, tidak membutuhkan perundingan-perundingan, serta tidak meminta pertanggungjawaban atas kemungkinan korban jiwa dan kemiskinan yang terjadi antara kedua pihak. Perang ya perang. Namun perang adalah jalan dehumanisasi ekstrim yang menurut Benjamin Franklin telah terbukti selamanya tidak memberikan kebaikan apapun.
Sebaliknya, perdamaian adalah jalan yang terjal. Ia sangat sulit dilalui karena menyangkut masalah-masalah sosial-politik-ekonomi yang super kompleks dan hidup. Dua pihak harus sama-sama mampu menghilangkan ego, menjaga emosi, dan melihat keuntungan dari perdamaian itu dengan cara yang adil, baik secara material maupun sosial. Variabel keadilan dalam suasana perdamaian juga sangat rumit karena ia akan berhadapan dengan perspektif budaya politik dan ekonomi yang berbeda. Oleh sebab itu, dibutuhkan reli-reli perundingan yang panjang, negosiasi yang rumit, serta usaha-usaha untuk mengonstruksi hubungan jangka panjang yang mengikat. Tidak ada titik ekuilibrium yang tetap untuk semua itu, kecuali kedua pihak sudah menguasai konteks-konteks hubungannya secara sempurna dengan faktor historis, antropologis, sosial, budaya, politik, ekonomi dan relijius sekaligus.
Kadang-kadang, itu semua pun belum cukup. Masalah moral dan kualitas satu generasi pun sangat menentukan. Di balik itu, relativitas turut mewarnai seluruh faktor-faktor yang sudah ditetapkan itu. Inilah yang menyebabkan ratusan intelektual dan negarawan kita tetap akan menuai dilema ketika mereka akan berhadapan dengan masalah hubungan Indonesia Malaysia.
Ibarat kembar siam yang lengket , kedua negara (Indonesia-Malaysia) dapat dipastikan akan mengalami penderitaan manakala akan dipisahkan lewat sebuah operasi. Kemungkinan terburuk, keduanya bisa mengalami kegagalan. Pertumbuhan Malaysia selama ini didukung tenaga kerja Indonesia, dan pertumbuhan Indonesia antara lain didukung oleh investasi dan limpahan wisatawan Malaysia. Di Sumatera Utara, hingga saat ini jumlah wisatawan Malaysia selalu menduduki angka terbesar, yakni melebihi 50% dari total wisatawan berdasarkan asal negaranya.
Satu masalah saja muncul, angka kunjungan itu bisa terganggu. Selama awal September 2010 saja, puluhan grup dari Malaysia telah membatalkan kedatangannya karena kekhawatiran terhadap isu sweeping warga Malaysia di Jakarta. Ratusan juta rupiah langsung hilang dari proyeksi pendapatan bisnis travel agent di Medan. Sejumlah hotel yang membayar ratusan karyawannya harus gigit jari karena tidak bisa menjual kamar yang sudah sempat di-booking tamu asal Malaysia. Kita bersyukur, sektor investasi belum terpengaruh dengan keadaan ini. Padahal kita tahu, sebagian besar perkebunan sawit di Sumatera kini adalah milik Malaysia.
Hubungan Indonesia dan Malaysia memang tidak akan pernah mudah. Apalagi bila masalah itu tidak bisa segera dilokalisir di tingkat elit dan pengambil keputusan. Keputusan-keputusan cepat sangat dibutuhkan untuk saling menegakkan martabat bangsa yang berbeda bendera. Dan perdamaian tidak selalu berarti saling melempar senyum, cium pipi kiri cium pipi kanan, dan santun tak terbatas. Perdamaian harus dijaga dengan memberi tempat pada letupan-letupan kecil yang melonggarkan urat syaraf. Seperti halnya gunung berapi, dia harus terus aktif agar tidak menciptakan letusan yang besar, karena letusan-letusan kecil seperti yang terjadi pada puncak Sinabung dapat mengurangi tekanan magma dan gas dari perut bumi.
Jadi, apapun yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia belakangan, itu adalah letupan kecil yang seharusnya bisa dilokalisir di tingkat elit dengan ketegasan sikap dan manajemen konflik. Jangan malah kita jadikan persoalan ini menjadi urusan dengan penyelesaian jalan pintas dan paling gampang, yaitu perang.
Aksi-aksi pembakaran bendera dan sweeping warga Malaysia sebenarnya tidak perlu terjadi pada sebuah bangsa seluhur Indonesia. Sebagai negara “demokrasi baru”, kita barangkali hanya sedang mendambakan sebuah kepemimpinan yang hadir cepat untuk setiap masalah bangsa. Dan pada demokrasi yang masih hijau dan sakit, terkadang sulit mendapatkan hal itu. Sebab, penjahat dan ustadz memiliki peluang yang sama dalam sebuah demokrasi.