Busyet! Lereng bukit menuju Trail-11 di kawasan ekowisata Gunung Leuser, Bahorok, boleh juga. Keringatku bercucuran dan kaos yang kami kenakan mulai mirip kain lap mobil. Dan ketika aku mulai merasa lemas di tengah jalur tracking yang terjal, tiba-tiba terdengar suara-suara rusuh di antara kanopi pepohonan Eugenia. Kami was-was. Apakah di atas sana sedang terjadi pertikaian antara hewan liar?
“Tunggu sebentar, biar aku selidiki, mungkin ada orangutan liar di sana,” ujar salah seorang pemandu TNGL yang membawa kami.
Kami memang merasa kurang nyaman melakukan survei-survei jamur terdahulu di kawasan ini, karena gerak-gerik kami rasanya selalu diikuti oleh beberapa orangutan semi liar yang mungkin kelaparan dari Trail 4.
“Eh, Thomas!” ucap pemandu sambil tertawa sesaat kemudian. Setelah mengamatinya barulah aku tahu bahwa dugaan kami rupanya salah. Ternyata mereka adalah sekelompok kedih yang sedang bermain dan berebut buah Eugenia (jenis jambu-jambuan) yang kebetulan sedang musim di atas sana.
Kedih adalah spesies monyet “paling keren” dari dunia lama. Gaya rambutnya menjadi teladan bagi tren generasi postmoderenisme (punk) di seluruh dunia. Tanpa terkecuali, bintang selebriti sepakbola dunia, David Beckham, pernah juga menjiplak gaya rambut hewan ini. Jambul di bagian kepala kedih dikenal dengan gaya rambut mohawk. Warnanya hitam. Dari sudut pandang sains, jambul tersebut menjadi kunci penting bagi para pengamat primata dalam identifikasi lapangan.
Secara fisik, kedih memiliki warna tubuh dominan hitam kelabu. Warna putih terdapat pada bagian tertentu, seperti dada, perut, pipih, ekor sisi dalam, dan pada bagian kening. Kedih merupakan satwa yang dilindungi dunia internasional dalam redlist IUCN dan Pemerintah Indonesia lewat UU No. 5 Tahun 1990. Satu hal lagi yang perlu Anda ketahui, kedih bukanlah primata pemalu dan penakut, sehingga tidak sulit untuk menemukannya saat tracking di hutan.
Satwa dari ordo primata ini memiliki nama ilmiah Presbytis thomasi atau lebih umum dikenal dengan Thomas leaf monkey (common name). Itulah sebabnya mengapa tadi pemandu kami berseru: “Thomas!”
Nama lokal kedih bervariasi pada setiap masyarakat di bagian utara Sumatera. Ada yang menyebutnya bodat, lutung rungka, dan kekkia. Namun secara umum, nama hewan ini lebih dimengerti dengan nama kedih, sesuai Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Kedih merupakan primata endemik di bagian utara Pulau Sumatera. Hewan ini dapat kita jumpai di hutan primer dan sekundernya, mulai dari kawasan hutan Aek Nauli di sekitar Danau Toba, hingga ke Suaka Marga Satwa Rawa Singkil di Propinsi Aceh. Namun populasi terbanyak dapat dijumpai pada beberapa titik di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), khususnya di Ketambe dan Bahorok.
Secara alami, mereka biasanya hidup berkelompok dengan satu pejantan dan 5-6 betina, ditambah beberapa ekor anak. Pejantan selalu melindungi kelompoknya dari ancaman luar maupun dari intervensi pejantan lain. Dia pula yang menjadi satu-satunya pejantan tangguh dalam reproduksi terhadap betina-betina dalam kelompoknya. Semacam poligamilah. Salah satu perilaku ekologi yang unik dari kelompok kedih adalah penggunaan vocal yang kuat. Setiap anggota kelompok akan selalu mengenal suara dari anggota kelompoknya. Walaupun luas jelajah seekor kedih rata-rata 15 hektar per hari, namun apabila malam tiba, kelompok hewan diurnal ini akan saling memanggil untuk berkumpul kembali.
Habitat alami kedih berasal dari jantung hutan primer dan sekunder. Namun kelompok kedih juga tidak jarang berpencar dan pergi berkelana ke daerah perkebunan di pinggiran hutan hingga pemukiman masyarakat untuk mencuri makanan. Satu hal yang menyebabkan organisme arboreal ini semakin sering dijumpai di pemukiman penduduk adalah berkurangnya sumber makanan di hutan alami yang menjadi habitatnya. Di Bukit Lawang sendiri, kedih menjadi kompetitor orangutan dalam hal makanan. Mereka terkadang menjelajah sampai ke lokasi feeding orangutan.
Degradasi dan fragmentasi kawasan hutan yang semakin hari semakin laju telah menyebabkan musnahnya beberapa habitat terbaik kedih di beberapa kawasan di bagian utara Sumatera. Bukan hanya ancaman dari alam saja, manusia sendiri sering menjadi musuh bagi kelompok kedih. Beberapa petani di pinggiran hutan menganggap kedih sebagai hama perusak tanaman, karena kedih sering mencari makan di kebun-kebun masyarakat. Akibatnya, primata cerdik yang jadi teladan gaya rambut dari satu generasi manusia ini sering diburu dan dibunuh dengan kejam oleh sekelompok orang, yang membuat masa depan mereka semakin menyedihkan.