Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Canggot-Bakha--Ketika-Musim-Kawin-Tiba-
Home  Sejarah Canggot Bakha, Ketika Musim
Kamis, 5 Agustus 2010 | 10:40:36
Canggot Bakha, Ketika Musim Kawin Tiba
by. Christian Heru Cahyo Saputro

Pesta canggot bakha--dalam bahasa Lampungnya gawi--dulu digelar pada saat bulan sedang purnama sempurna. Biasanya seusai musim panen. Kini canggot bakha digelar secara giliran atau arisan di  kampung-kampung komunitas Lampung Pubian.

Mulidan mekhanai(bujang dan gadis) Lampung Pubian tak diperbolehkan bertemu sesuka hatinya. Tindakan itu dianggap tak pantas, tabu dan tak beradat. Kalau mau ketemu juga, ada media sosialisasinya. Namanya canggot bakha. Di ajang inilah para bujang dan gadis dapat bergaul, bahkan saling mencari jodoh.  Namun mereka tetap dalam pengawasan orang tua dan koridor tetua-tetua adat. Sebuah tatacara pergaulan yang punya nilai kearifan lokal (local wisdom) di Lampung yang masih dikenal sampai hari ini.

Dalam masyarakat adat Lampung, dikenal adanya prosesi canggot gawi atau juga dikenal dengan nama canggot adat. Prosesi ini biasanya berkaitan dengan gawi adat. Misalnya, pesta perkawinan dan cakak pepadun.  

Selain itu, dalam masyarakat adat Lampung juga dikenal tradisi canggot bakha--khususnya di masyarakat Lampung marga Pubian. Prosesi canggot bakha tidak mesti terkait dengan prosesi adat tertentu. 

Canggot bakha yang juga disebut canggot bulan purnama ini merupakan salah satu budaya tradisional Lampung yang hingga saat ini masih hidup dan berkembang di komunitasnya--khususnya di kampung-kampung dalam wilayah masyarakat Lampung Pubian. 

Canggot ini pada awal perjalanannya dilakukan oleh bujang dan gadis setiap bulan purnama (bakha=purnama). Atau biasanya digelar seusai panen raya di pekon-pekon atau kampung-kampung komunitas Lampung Pubian Telu Suku. Masa panen memang menjadi saat yang paling lapang bagi masyarakat untuk mengadakan pesta. Terbebas dari paceklik, kini saatnya orang-orang memasuki bridal season. Untuk itu dibutuhkan ajang pencarian jodoh. Jadi prinsipnya sama saja dengan acara-acara pencarian jodoh di televisi atau media massa lainnya. Hanya saja musim panen yang teratur di masa-masa dahulu telah terganggu periodenya oleh sistem produksi moderen.

Canggot bisa dilakukan setiap bulan sesuai dengan permintaan muli mekhanai (bujang-gadis). Hanya saja, seperti canggot yang lain, keterlibatan lembaga adat (musyawarah adat) merupakan bagian yang tak dapat ditinggalkan.

Sekalipun tidak terkait langsung dengan kegiatan prosesi adat, namun pelaksanaan canggot bakha harus tetap seizin dan sepengetahuan lembaga adat. Tanpa keterlibatannya tak mungkin acara canggot bakha dapat berjalan. 

Hubungan Harmonis

Dalam prosesi canggot bakha, kita menemukan nilai filosofis yang mengajarkan bagaimana bujang-gadis mengemban tugas dan tanggungjawab. Prosesi ini, dari awal hingga akhir, melambangkan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak dalam unit sosial yang utuh. Dari tradisi ini, dapat kita lihat bahwa lingkungan masyarakat adat Lampung--khususnya pada masyarakat Lampung Pubian—memberikan perhatian yang sangat besar terhadap muli mekhanai.

Meskipun acara canggot bakha diperuntukkan bagi muli mekhanai, namun semua petitah-petitih yang berlaku dalam masyarakat tetap dijunjung tinggi. Canggot bakha sendiri menjadi lembaga pergaulan resmi bagi bujang dan gadis Lampung Pubian. Media sosialisasi ini berada di bawah pengawasan orang tua dan tetua adat, sehingga tidak sepenuhnya bebas. Pertemuan-pertemuan bujang dan gadis dalam acara-acara di luar kegiatan yang dilembagakan, dengan sendirinya kurang diperkenankan.

Pewarisan Nilai-nilai

Dalam acara canggot ini, banyak pesan dan pelajaran yang dapat dipetik para bujang-gadis, karena para peserta selain harus menggunakan atribut pakaian adat juga antara lain harus mempunyai kepiawaian dan mahir menari, sastra lisan (berupa pantun atau yang lainnya), dan pencak  khakot. Karena dalam materi acara yang digelar dalam canggot bakha, ada kompetisi kepiawaian menari, pantun dan silat khakot. Jadi, selain ajang sosialisasi dan pencarian jodoh, canggot bakha juga adalah media untuk pewarisan nilai-nilai adat dan kesenian tradisi bagi generasi muda.

Menurut Hasan Gelar Tuan Raja dan Safei Gelar Kyai Ratu Ulama, tokoh adat yang sering membawakan pisaan (pantun) yang juga banyak terlibat dalam prosesi canggot bakha, kegiatan canggot pada zaman dulu hanya dilakukan pada setiap bulan purnama sesuai dengan peraturan adat masyarakat Lampung yang termuat dalam buku Kuntara Raja Niti dan buku Handak. Tapi kini canggot bisa dilakukan sesuai kesepakatan bersama. 

Bahkan, menurut Husni Thamrin Gelar Suntan Purnama—budayawan Lampung—yang juga presenter acara Ragom Budaya Lampung di RRI Tanjungkarang dan acara Bebalos Pantun TVRI SPK Lampung, aktualisasi penyelenggaraan canggot bakha semakin meluas dan tidak lagi sebatas ajang pertemuan bujang dan gadis. “Pada beberapa kesempatan, ajang ini sudah dipakai untuk media dialog dan menyosialisasikan program-program pemerintah,” ungkapnya. 

Belakangan, masyarakat Pubian menyelenggarakan kegiatan canggot bakha dengan sistem arisan. “Kini setiap tiga bulan sekali, acara canggot bakha yang kian langka ini bisa disaksikan secara bergilir dari tiyuh ke tiyuh (dari kampung ke kampung), terutama dalam komunitas Lampung Pubian,” papar  anggota Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Lampung itu. 

Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 184.72.184.104

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: