Ada idiom "ular berkepala tiga" untuk menggambarkan sifat seseorang yang rumit dan tak terduga. Tapi di dunia sains, yang dikenal adalah ular berkepala segitiga. Ular ini juga cukup rumit dan sangat ditakuti. Secara umum, kepala berbentuk tiga sudut mengindikasikan ular bersuku Viperidae (Crotalidae), yakni satu dari dua suku ular berbisa yang ada di Pulau Sumatera.
Para pecinta alam atau lembaga yang kesehariannya menghabiskan banyak hidup di hutan Sumatera, biasanya sudah dibekali pengetahuan menyangkut jenis-jenis ular berbisa jika mau selamat di pelukan tropis Sumatera. Anda pun yang suka trekking, ada baiknya belajar sedikit tentang fenomena ular kepala segitiga ini. Dengan pengecualian pada king kobra (Ophiophagus hannah–si pemakan yang mematikan) dan saudara-saudara sesukunya, semua jenis ular berbisa pasti berkepala segitiga.
Lebih dari sembilan dari 147 jenis ular yang hidup di bumi Sumatera adalah berkepala segitiga. Kelompok Viperidae ini memiliki taring yang paling sempurna di dunia Ophidia (ular-ularan). Gigi yang dimaksud adalah taring solenoglypha, yaitu gigi yang sudah dilengkapi dengan saluran bisa. Selain itu, ia dapat dilipat sempurna saat rahang atas dan bawah menutup. Beberapa film produksi Hollywood telah mendeskripsikan keganasan ular viper secara berlebihan.
Sebenarnya, jenis-jenis viper di alam bebas termasuk kelompok satwa “pemalas”. Tropidolaemus wagleri adalah jenis yang paling umum dan sering didapati di sela-sela hutan Sumatera. Pada siang hari, ular ini biasanya istirahat di pinggir jalan setapak atau di pinggiran desa yang berada di tepi hutan. Ular ini diketahui tidak agresif, kecuali kalau terjepit.
Untuk itu, mari kita bahas sedikit ular umum ini. Seorang zoologis Jerman, Johann Georg Wagler, tercatat sebagai peneliti yang memberi nama pada jenis Tropidolaemus wagleri pada tahun 1830, saat usianya 30 tahun. Penamaan itu menggunakan ujung namanya sendiri yakni ”Wagler”. Semenjak itu, nama Inggeris untuk ular ini pun mulai dikenal dengan sebutan Wagler’s Pit Viper. Namun, berkembang pula beberapa alias dalam bahasa Inggeris lainnya seperti Wagler's Palm Viper dan Temple Pit Viper. Di negaranya sendiri, Jerman, walaupun jenis ini tidak ada di sana, mereka mengenalnya sebagai Waglers Bambusotter. Nama ilmiah jenis ular yang satu ini tercatat mengalami perubahan sedikitnya 20 kali semenjak pemberian nama pertama oleh Wagler. Beberapa kali penamaan menggunakan ”Sumatera” untuk penjelasan jenis seperti Trimesurus sumatranus, Trigonocephalus sumatranus, Tropidolaemus sumatranus dan Lachesis sumatranus. Tahun 2000, akhirnya penamaan dikembalikan ke penamaan semula. Wagler meninggal dunia dua tahun setelah beliau memberi nama perdana.
Begitulah, Wagler yang sangat akrab dengan biodiversitas di Sumatera ternyata berusia pendek. Untunglah ia bukan satu-satunya, sebab meski tak menguasai Bahasa Inggeris, penduduk asli Sumatera juga sangat akrab dengan Tropidolaemus wagleri. Di Tanah Karo, Sumut, mereka mengenal jenis ular berbisa ini sebagai jelmaan seorang ratu. Nama ratu tersebut adalah ”Singanin Bulan”. Artinya ”penunggu bulan”. Ratu ini selalu dimanjakan pangerannya. Konon, pangeran ini adalah seekor burung cerukcuk yang selalu setia memberi makanan untuk ratu. Cerita ini berkembang sejak zaman dahulu tatkala penduduk menyaksikan pangeran memberi makanan untuk ratu berulang kali, jauh hari sebelum Wagler meneliti ular wagleri-nya. Bukankah sebuah legenda diawali ”observasi” panjang seperti evolusi empiris mendetail masyarakat?
Indonesia kemudian ikut-ikutan mengadopsi nama yang diterjemahkan dari nama ilmiahnya menjadi ”ular mati ekor wagler”. Memang ekor ular yang satu ini seperti ekor mati, namun nyatanya bisa memegang ranting-ranting (prehensil). Ular ini gampang dikenali di alam. Pupil matanya vertikal menandakan dia aktif malam hari. Memiliki sensor panas di antara dua matanya yang menjamin sasaran terkam tidak meleset. Ukuran jantan jauh lebih kecil dibanding betina. Tak jarang si jantan dianggap anakan (juvenil), apalagi sifat ular ini terlihat lemah di balik prestasi killer-nya yang tidak tampak. Acap kali mereka ditemui menggantung di pinggiran sungai sambil menunggu mangsa. Keberadaannya ikut melengkapi ekuilibrum pulau Sumatera nan liar.
Nah, jika Anda bertemu dengan Singanin Bulan di alam Sumatera, anggaplah dia seorang ratu, yang tidak akan mengganggu Anda jika tidak diganggu terlebih dahulu. Pada dasarnya wildlife itu hidup di antara kehidupan manusia. Mereka ada di sekitar pemukiman kita. Mereka selalu mengalah jika menyangkut kepentingan manusia. Kita aktif siang hari, mereka membiasakan hidup malam hari. Kita berkeliaran di kota, mereka menghabiskan waktunya di hutan. Dan ketika kita mengkonversi hutan tempat tinggal mereka menjadi perkebunan, mereka ramai-ramai mencari luasan hutan tersisa. Tapi jangan terlalu menekan mereka, karena taring soleniglypha memang dirancang untuk membunuh!