Profesi guide dalam dunia pariwisata di Indonesia mungkin tidak sesejahtera di mancanegara. Namun bukan berarti kemampuan guide kita kalah kelas dengan negara lain. Guide-guide di Indonesia, terutama untuk wisata minat khusus, memiliki kemampuan pengusaan medan tingkat tinggi. Mereka jarang diekspos karena biasanya kisah yang ditulis melulu tentang heroisme pendakian. Padahal peran merekalah yang paling menentukan di balik kesuksesan pendakian di Gunung Leuser. Manusia-manusia gunung dari Tanah Gayo.
Tak banyak pendakian gunung di Indonesia yang masih menggunakan jasa guide. Apalagi di Tanah Jawa. Jalur sudah jelas, si pendaki hanya tinggal mengikutinya. Pengertian guide yang dimaksudkan adalah orang yang betul-betul mengetahui medan gunung yang akan didaki, kesulitan yang akan dihadapi, menebak cuaca, mengetahui jalur-jalur alternatif serta siap menghadapi segala macam masalah yang mungkin timbul selama pendakian.
Kalau boleh berasumsi, mungkin hanya Pegunungan Jayawijaya di Iran Jaya, Tambora di NTB, Binaiya di Maluku serta Pegunungan Leuser di Aceh yang masih menggunakan jasa guide berpengalaman. Khusus Leuser di Sumatera, para guide-nya sudah dikenal tabah dan mengenal baik keliaran kawasan Leuser bak tempat bermain saja.
Selain ramah dan bertanggung jawab, guide-guide Pegunungan Leuser dari jalur Dusun Kedah, Desa Penosan Sepakat, Kabupaten Gayo Lues, dikenal sangat tangkas menebak ancaman belantara Leuser. Kelebihan mereka telah memungkinkan ratusan penelitian dilakukan dan ribuan ekspedisi sukses tanpa memakan korban. Nama mereka harum di kalangan peneliti, mahasiswa pecinta alam, wisatawan asing penggemar kegiatan alam bebas, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan Leuser.
Nama-nama besar seperti Mr Jaly, Mr Isa, Mr Happy atau Usman, Mr Umar, Bang Udin, Bang Nasir, Bang Dullah dan sebagainya sudah mirip legenda hidup di kaki Leuser. Saat mereka menyuruh berhenti, selang beberapa waktu kemudian hujan pun turun. Saat pendaki masih berjibaku mendirikan tenda, perapian telah selesai mereka nyalakan. Mereka tangkas dan gesit, serta mampu menahan dingin dengan bermodal kemeja lusuh, sandal jepit atau sepatu plastik murah yang dibeli seharga Rp 10.000 di kedai sampah, dan selembar sarung tipis.
Masing-masing guide memiliki sifat dan karakter sendiri-sendiri. Tapi yang jelas mereka mempunyai keahlian yang sama, yang juga didapat dari sumber yang sama. Bukan karena kebiasaan semata sebagai orang desa yang akrab dengan iklim dan cuaca setempat, tetapi juga karena akar budaya yang kuat yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka.
Warisan Kejurun
Adalah Rajali Jumali atau yang akrab dipanggil Mr Jaly, guide senior di Dusun Kedah yang mengungkapkan bahwa kemampuan mereka merupakan warisan dari para pendahulu mereka yang tahu betul apa itu Leuser. “Kemampuan kami diwariskan turun temurun oleh orang tua kami. Sejak usia belasan tahun, kami sudah dibawa mendaki Leuser. Merasakan udara dingin yang menggigit sambil mempelajari seluk beluk rimba belantara di atas sana,” ungkap pria kelahiran 1965 tersebut pada Inside Sumatera.
Mereka menyebut akar keahlian itu berasal dari “Kejurun”, yang artinya kira-kira, Ketua Adat Masyarakat Gayo. Sejak zaman sebelum masuknya bangsa asing ke Tanah Gayo, Kejurun telah dikenal. Mereka diangkat dan diberhentikan secara langsung oleh Yang Di Daulat Sultan Aceh. Mereka juga punya hak bertatap muka langsung dengan penguasa Tanah Rencong itu.
Kejurun adalah seorang dari anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang kepercayaan, alam, dan binatang-binatang. Konon kekuatan spiritual seorang Kejurun memungkinkan ia berkomunikasi dengan dunia gaib, bahkan dengan hewan sekalipun.
Kejurun biasanya memiliki wilayah kerja seluas satu kecamatan. Dalam melaksanakan tugasnya, Kejurun didampingi oleh panglima yang berfungsi sebagai pelindung dan pelaksana langsung perintahnya. Pada masa lampau, dengan pengetahuan alam dan kekuatan spiritualnya, Kejurun-lah yang menentukan kapan waktu tanam dan panen, di mana lokasi yang baik untuk bercocok tanam, serta pantangan-pantangan apa saja yang tidak boleh dilakukan warga desa. Kalau ada yang membantah atau tidak menuruti Kejurun, biasanya bala akan menerpa atau panen akan gagal.
Untuk kawasan Dusun Kedah yang masuk dalam Kecamatan Blang Jerango, Kejurun yang terakhir adalah kakek buyut kandung dari Isyak Aman Nurma yang lebih dikenal dengan Mr Isa, salah seorang guide yang terhitung senior di Dusun Kedah.
“Selaku Kejurun terakhir, kakek buyut saya memilih adiknya sendiri sebagai panglima dengan nama Panglima Roga. Nah, dia adalah kakek dari Mr Jaly. Itu sebabnya saya memanggil Mr Jaly Pakcik,” tutur Mr Isa.
Kakek buyut Mr Isa yang konon mampu berbicara dengan binatang itu menurunkan ilmu pengetahuannya tentang alam dan hutan pada anaknya yang bernama Jahidin (kakek Mr Isa). Lalu Jahidin mengajarkannya pada keponakannya serta cucunya (Mr Jaly dan Mr Isa).
Kemampuan yang diajarkan bermacam-macam. Di antaranya, menebak cuaca dari pergerakan awan, memasang jerat hewan, membaca jejak, menebak punggungan di pegunungan Leuser, menangkap ikan dengan serat kayu (dalam bahasa setempat disebut keri) serta membuka jalur baru. Kedua pria ini bahkan tahu kalau ada orang atau binatang yang baru melintas serta berapa jumlahnya, hanya dengan melihat jalan setapak di tengah hutan.
Jalur pendakian Leuser melalui Dusun Kedah resminya dibuka oleh WANADRI sejak tahun 1984. Namun sebenarnya jalur itu memang sudah ada sejak dulu kala. “Pada saat pembukaan jalur pertama oleh rombongan ahli botani Belanda (1939), kakek-kakek kamilah yang membawa mereka ke puncak. Kami sendiri sudah mencapai puncak Loser sejak kami masih muda belia. Tapi saya baru mulai membawa tamu sebagai guide sejak tahun 1981,” jelas Mr Jaly.
Menurut pengakuan Mr Jaly dan Mr Isa, mereka dulu dibawa ke gunung untuk diajarkan berburu dengan cara memasang jerat. “Kalau mau bisa memasang jerat, kita harus tahu dulu membaca jejak. Dari jejak yang ada, kita akan tahu jenis hewan apa yang sering melalui jalur itu. Waktu kami belajar, yang namanya baju masih sangat langka. Kami sempat mengalami mendaki dengan memakai baju kulit kayu, tanpa alas kaki, dan memakai plastik sebagai pengganti tenda,” kata Mr Jaly.
Setelah para pria belasan tahun itu dinyatakan cukup mahir oleh kalangan orang tua, barulah mereka berhak atas julukan “pawang gunung”. Keunikan lainnya yang sudah dilihat oleh kru Inside Sumatera adalah nilai kearifan dan kebijaksanaan lokal mereka. Manusia-manusia gunung ini tidak pernah menebang pohon jika tidak digunakan selama pendakian. Begitu banyak pohon yang melintang sepanjang jalan hingga membuat pendaki harus berjongkok dan merayap ketika melewatinya, namun mereka biarkan saja. “Namanya juga masuk hutan, ya susah-susah sedikit kan nggak apa-apa. Selama masih bisa dilewati, nggak perlu ditebang, kecuali kalau sudah terdesak untuk membuat perapian. Itu ajaran orang tua kami,” ungkap Mr Isa.
Pada era awal tahun 90-an, jumlah pendaki gunung dari kalangan mahasiswa maupun “bule” meningkat cepat. Tamu-tamu asing datang dari beberapa negara. Misalnya, Jerman, Belanda, Australia dan Inggris. Kondisi ini menuntut para pawang gunung untuk belajar berbahasa Inggris. “Awalnya sulit, tapi perlahan-lahan saya bisa mengerti sedikit-sedikit. Kelemahan kami adalah tidak bersekolah. Saya cuma bersekolah sampai kelas 2 SD, sedangkan si Isa hanya sampai kelas 3. Itulah kelemahan kami,” sesal Mr Jaly yang Bahasa Indonesianya tidak lebih baik dari Bahasa Inggrisnya.
Sewaktu terjadi konflik RI dan GAM, jumlah tamu menurun drastis. Guide-guide terampil ini kehilangan pendapatan tambahan selain bertani atau berkebun. “Masa konflik adalah masa paling sulit bagi kami. Pariwisata drop karena tamu-tamu takut berpetualang di rimba Leuser. Kami pun terjepit antara kepentingan TNI dan GAM. Tapi untunglah sekarang perlahan-lahan kondisi sudah mulai pulih,” kisah Mr Jaly.
Saat ini, Mr Jaly, Mr Isa dan rekan-rekannya masih aktif memandu para petualang maupun wisatawan. Dengan sistem memandu bergiliran untuk berbagi rezeki, para guide yang dikoordinir Mr Jaly berusaha memuaskan dahaga para pendaki yang ingin menikmati liar sekaligus indahnya alam Leuser. Dengan tarif Rp 3.000.000 per grup, para pendaki akan didampingi 2 sampai 3 guide, atau tergantung jumlah tim yang mendaki.
Jika anggota tim pendakian lebih dari 5 orang, otomatis jumlah guide lebih dari 2 orang. Berarti jatah pembagian untuk guide pun semakin sedikit. Pendakian berlangsung hingga 14 hari bahkan lebih. Berarti selama itu pula para guide harus meninggalkan keluarga dan lahan garapannya.
Itu belum lagi risiko menghadapi kondisi para pendaki yang terkadang menyerah dan minta pulang, jatuh sakit, ataupun menangis karena bosan 14 hari terus berada di hutan. “Yah kami harus sabar-sabar menghadapi mereka agar mereka tetap merasa nyaman selama pendakian. Karena tidak semua pendaki itu siap secara fisik maupun mental,” kata Mr Jaly.
Duka lainnya adalah peralatan yang masih seadanya. Peralatan pendakian mereka masih sangat terbatas. Terkadang porter (pengangkut barang) harus menggunakan sarung untuk pengganti tas. “Terus terang kita malu, tapi mau bagaimana lagi, memang begitu kondisinya,”ujar Mr Isa.
Untungnya rasa malu itu bisa dibuang jauh ketika para pendaki maupun wisatawan asing pulang dengan muka senang dan puas atas pelayanan mereka maupun karena keindahan Leuser yang mereka saksikan lewat manusia-manusia gunung ini. Ketika para tamu terpekur takjub melihat gugusan Pegunungan Leuser sembari berucap, “Luar biasa, incredible ataupun it’s a miracle!”, si guide pun tersenyum senang. Kalau sudah begitu, hilang sudah keletihan mereka mengawal para penikmat alam itu.
Di era yang sudah sedemikian penat ini, manusia-manusia gunung masih terus melintas di puncak-puncak Pegunungan Leuser. Menatap ke kampungnya yang terhalau kabut di bawah sana. Menebak-nebak apa yang sedang dilakukan anak istrinya. Apakah mereka merindukan dirinya seperti halnya ia merindukan mereka? Namun ia harus membuang jauh pikiran itu, lalu berlari menyongsong para pendaki yang terlihat bingung menentukan arah di depan. Mereka membutuhkan kemampuannya segera. Kemampuan mahal yang sudah jarang karena dikikis zaman.
***