Pegunungan Bukit Barisan (BB) di Pulau Sumatera adalah surga bagi para petualang yang suka bermain-main dengan banyak kesulitan dan tantangan, sekaligus keindahan alam liar tropis dan ilmu pengetahuan. Tapi yang tak kalah serunya dalah berbagai cerita mitos tentang proses terbentuknya keajaiban-keajaiban bentuk alam di sini. Kali ini, saya membawa Anda ke gua-gua yang terdapat pada kaki-kaki pegunungan dataran tinggi Gayo, Takengon, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Dari sekian banyak gua, Gua Loyang Koro adalah salah satunya. Lubang alami yang cukup besar di kaki Gunung Birah Panyang ini terjadi secara alami. Gua ini telah melegenda di Kabupaten Aceh Tengah, bahkan menyumbangkan banyak cerita dan tradisi mengenai kehidupan masa lalu masyarakat Gayo. Nama Loyang Koro berasal dari bahasa Gayo, yang berarti “lubang kerbau”. Penamaan ini dibuat berdasarkan kisah gua tersebut yang konon pada zaman dahulu sering digunakan para penggembala ternak sebagai jalan penghubung antara Desa Toweren menuju Desa Isak yang berjarak 35 km. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari pengelola gua, beginilah kisahnya:
Pada zaman dahulu kala, terdapat sekelompok masyarakat yang hidup di desa bernama Toweren di dataran tinggi Gayo. Mereka hidup dengan penuh berkat dan anugerah, di mana masyarakat desa pada umumnya hidup dengan pertanian seperti bersawah dan beternak. Jenis ternak masyarakat pada umumnya adalah kerbau karena sangat diperlukan untuk membajak sawah di samping sebagai penarik gerobak dan komoditas yang dijual ke daerah lain. Anak-anak muda desa biasanya lebih senang menggembalakan kerbau di sekitar persawahan, karena hewan ternaknya bisa mandi, berkubang dan makan dari rumput segar di sawah. Tetapi apabila musim tanam hingga panen padi tiba, maka anak-anak muda tersebut harus pergi merantau ke desa lain untuk menggembalakan ternak. Setelah musim panen usai, barulah mereka kembali dari desa seberang yang bernama Desa Isak.
Waktupun terus berjalan. Selama bertahun-tahun mereka selalu nyaman membawa ternaknya menuju Desa Isak sebagai tempat merumput yang sesuai untuk kerbau. Namun pada abad ke-18, para penggembala selalu risau dengan adanya gerombolan Aceh pesisir yang suka mencuri kerbau para penggembala. Di samping itu ternak mereka juga bisa mati dengan tiba-tiba di tengah perjalanan akibat perbuatan mistis maupun diserang binatang buas. Akibatnya penggembala selalu merugi, sehingga mereka mencari jalan baru untuk beternak kerbau di desa lain.
Hingga pada suatu saat, mereka menyusuri sebuah gua di kaki Gunung Birah Panyang yang ternyata dapat digunakan sebagai jalan potong menuju desa lain di sekitar Takengon hingga Desa Isak yang jaraknya 35 km dari Toweren. Uniknya, pada kedalaman 15 km pada gua tersebut, terdapat rawa-rawa yang dalam Bahasa Gayo disebut dengan nama “