Sejak berabad-abad lampau, kuda lebih identik dengan kekuatan. Mereka dilukis dengan “kencang” dan bertenaga. Sampai kemudian para bangsawan Eropa mulai memandang kuda sebagai unsur fashion. Sejak itu, bukan hanya kemenangan perang yang dibawa oleh derap kaki kuda yang pulang dari medan pertempuran, tetapi juga sisi keserasian dan keanggunan antara penunggang dan yang ditunggangi.
Pada zaman perang, kuda dan prajurit adalah sahabat senasib. Di zaman moderen, kuda dan atlit menjadi sahabat menuju prestasi. Tahukah Anda, kuda tidak hanya dinilai dari kecepatannya? Pada ajang Olimpiade, dikenal sebuah cabang olah raga berkuda yang dipertandingkan secara resmi. Namanya Equestrian.
Equestrian adalah kuda tunggangan menari. Disebut menari karena gerakan yang dipamerkan kuda membuat ia seolah-olah menari. Kuda itu mengikuti perintah joki yang menungganginya. Gerakan-gerakan yang seirama antara joki dan kudanya inilah yang menjadi penilaian juri. Di Indonesia, cabang olah raga ini memang masih terdengar asing. Pekan Olahraga Nasional (PON) belum memasukkannya dalam salah satu daftar kompetisi.
Meski cabang ini masih awam di telinga masyarakat Indonesia, namun di beberapa daerah, Equestrian ini sudah mulai diperkenalkan. Tidak ketinggalan di Pulau Sumatera. Di Kota Medan, kegiatan dan pelatihan Equestrian berada di daerah Tuntungan. Sekolah Equestrian ini diberi nama Medan Equestrian Centre (MEC). Hingga saat ini MEC masih satu-satunya lapangan berkuda khusus Equestrian di Sumatera.
Meski lapangan yang disediakan tak sampai 1 hektar, namun arena yang dipersiapkan cukup lengkap, seperti lapangan untuk jumping yang berukuran 60 x 45 meter dan dressage berukuran 30 x 50 meter. Menurut Chief Instructor MEC, Adisan Taruna, pada arena jumping, kuda harus bisa melompat rintangan berupa galah yang disusun ke atas. Penilaian didasarkan pada skill kuda, kemampuan joki serta keakuratan saat melompat. Jumping sendiri sudah diperkenalkan sejak awal abad ke-19.
Sedangkan dressage lebih dilihat pada keahlian kuda yang seolah sedang menari. Pada bagian ini penilaian lebih difokuskan pada kualitas gerak dan kombinasi gerakan antara joki dan kuda, serta lenturnya gerakan sang kuda. Secara keseluruhan jumping dan dressage merupakan tontotan yang menarik. Namun untuk membuat kuda mau dan patuh pada perintah joki, diperlukan latihan yang cukup memakan waktu.
“Untuk mencapai keseimbangan saat bergerak antara seorang joki dan kuda tunggangannya, posisi duduk paling penting diperhatikan. Sebab jika joki duduk dengan gaya asal, kuda akan merasa tak nyaman sehingga dipastikan perintah joki juga hanya akan menjadi angin lalu,” terang Adisan.
Hal lain yang cukup menarik perhatian dari Equestrian adalah pakaian yang dikenakan sang joki. Sama dengan olahraga jenis lain yang memiliki pakaian khusus, penunggang kuda Equestrian juga wajib menggunakan helm, jopes atau celana karet yang ketat agar joki lebih bebas bergerak. Ujung celana biasanya dimasukkan ke dalam sepatu boot bertumit rendah. Untuk dressage, pakaian joki lebih berkesan aristokrat.
Bagi yang tertarik dengan Equestrian, MEC sudah mulai membuka kelas bagi pemula. Biaya yang dikeluarkan untuk olahraga ini berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu per sekali latihan. Waktu latih biasanya berkisar 40 menit sampai 1 jam. Memang jika dibanding olahraga lain, biaya olahraga berkuda ini terbilang mahal. Maklum, selain harus membayar pelatih yang sudah profesional, harga kudanya juga cukup mahal, bahkan sebagian lebih mahal dari mobil.
General Manager MEC, M. Yusuf, mengakui, untuk membeli seekor kuda mereka harus berinvestasi dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kuda-kuda itu diberi nama. Misalnya Fola, seekor kuda gagah yang termasuk ditebus dengan harga tinggi. “Kualitas kuda tergantung dari makanan yang kita beri. Meskipun kuda lokal, tapi kalau postur dan makanannya terpilih, kwalitasnya tak jauh dengan kuda luar,” tutur Yusuf.
Selain rumput, kuda-kuda juga membutuhkan suplemen untuk menambah kekuatannya. Sayangnya suplemen masih harus didapatkan dari luar negeri, sehingga harganya juga jadi lebih mahal.
“Kita juga harus sering memeriksa kuda-kuda. Bagian tubuh kuda yang sering luka adalah punggung. Hal ini disebabkan seringnya terjadi gesekan antara punggung dengan pelana kuda. Luka kecil saja harus segera diobati dengan mengoleskan krim. Sebab luka punggung ini sangat sensitif dan bisa dengan cepat mengundang lalat yang tentunya akan mengganggu kondisi tubuhnya. Setiap hari, kuda juga dibawa keluar kandang untuk menekan stres,” jelas Yusuf lagi.
Lantas, keasyikan apa sih yang dirasa saat menunggang kuda? Muqaffa Raga Fath alias Aga, 13 tahun, mengaku, ia menyukai kuda sejak kecil karena hewan ini cantik dan bersahabat. Namun demikian, ia baru punya kesempatan belajar Equestrian secara khusus 6 bulan lalu. Lumayan, sekarang Aga dan kudanya sudah cukup mahir melakukan jumping.
Setiap hari sepulang sekolah, siswa yang masih duduk di bangku SMP ini menghabiskan waktu dengan berlatih. Ia memang berharap suatu saat bisa menjadi atlet berkuda khusus Equestrian seperti Larasati, artis dan model yang kini juga menjadi atlet.
Dan menurut Yusuf, kehadiran MEC di Medan memang juga bertujuan mencetak atlit-atlit berkuda, khususnya di bidang Equestrian, di samping sebagai ajang hobi.