Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Sebuah-Catatan-tentang-Tour-Ketapel-
Home  Destinasi Sebuah Catatan tentang Tour
Rabu, 19 Mei 2010 | 09:43:09
Sebuah Catatan tentang Tour Ketapel
by. Adela Eka Putra Marza

Inilah wisata di Danau Toba dengan cara yang berbeda; wisata lingkungan dan budaya. Kami mengelilingi raja ni sudena tao (rajanya danau) selama tiga hari dua malam dengan membawa misi menyelamatkan lingkungan dan mengenal budaya Tao Toba dalam “Tour D Toba”. 

Earth Society telah menggagas perjalanan ini untuk “warga bumi,” demi menjaga kelestarian Danau Toba. Kapal pesiar Samosir Horas Cruise milik Pemkab Samosir meluncur dalam kecepatan 14 knot per jam membelah danau yang membiru. Sebanyak 22 “warga bumi” dari berbagai latar belakang mulai menyatu dalam irama ombak danau. Tentu saja dalam perjalanan ala orang Batak, dengan segala simbol dan filosofi Batak. Dan saya berada di antara mereka.

Menjelang Pulau Tao yang tampak seakan-akan memisahkan diri dari Pulau Samosir bersama onggokan-onggokan tanah kosong yang membentuk pulau-pulau kecil, kapal mulai bergerak perlahan. Ritual aek sipangolu akan digelar untuk menghormati penguasa Danau Toba sebagai salah satu budaya Batak yang unik yang saya kenal dalam perjalanan ini.

Sebuah mangkok putih kecil terletak di atas meja, di hadapan Rawalpen Saragih yang komat-kamit sambil terpejam. Sepertinya pria setengah baya yang akrab dipanggil Pak Pen itu sedang khusyuk membaca mantera. Saya sama sekali tak mengerti ritual orang Batak ini, juga mantera-mantera yang terdengar pelan dari mulutnya.

“Ini ritual air suci sipangolu, untuk kesejahteraan kita dan alam,” ucap Rawalpen Saragih menjawab tanda tanya dalam benak saya. Air Danau Toba telah menyatu dengan anggir (jeruk purut) dan daun kemangi dalam mangkok kecil itu. Orang Batak Toba meyakini, air ini adalah air yang menghidupkan (sipangolu).

Ternyata air sipangolu dipercikkan ke karung-karung bibit yang akan disebar di sekitar Danau Toba. Kepala kami juga menerima percikan air itu bersama bisikan mantera yang dilafalkan Pak Pen. Kemudian disusul dengan melarung lembaran daun sirih, diiringi doa-doa dalam bahasa Batak, memohon keselamatan dari penguasa danau. Suara alat musik Batak dari sarune dan hasapi ikut mengiringi upacara ritual ini. Aura kebatakan tak kentara menelusup di hati. Saya baru kali ini mengikutinya.

Menurut tradisi Batak, penguasa Danau Toba berasal dari Pusuk Buhit. Mareka adalah dua perempuan yang tidak pernah menikah, Si Biding Laut dan Nan Tinjo. Kedua namboru ini memiliki pengikut setia di setiap bagian danau untuk menjaga Danau Toba dengan dikomandoi oleh Namartua Batu Hobon.

Suatu ketika, Namboru Si Biding Laut yang bermarga Limbong menembus dasar danau dan muncul di air terjun Pulau Mursala di Barus (perairan Sibolga sekarang). Kawasan ini berada tak jauh dari kampung iboto-nya (abang tertua) Ompu Raja Uti yang sakti atau Ompu Raja Sigumeleng-geleng di Lobu Tua, juga di daerah Barus. Dari sana, Namboru Si Biding Laut pun akhirnya sampai ke Pantai Selatan di Parangtritis Yogyakarta.

Karena jauh dari dari iboto dan namboru-nya, Namboru Si Biding Laut selalu mengadakan upacara ritual mandudu untuk melepas kerinduan. Sebuah ritual tanpa secercah api atau cahaya. Kepada merekalah doa-doa permohonan disampaikan, agar perjalanan mengelilingi Danau Toba ini diberkati oleh namboru. Dan kapal pun kembali berlayar di antara ayunan ombak yang tenang. Mungkin namboru telah mengabulkannya. 

* * * 

Ompu mulajadinabolon

Mula ni mula, mula-mula ni mulana

Tancapkan hariara sundung di langit

Hariara pohon kehidupan

Akar tembus membelah bumi

Pucuk mencapai langit ke tujuh

Rimbun naungi hasatan

Dililit andor si tolu rupa

(penggalan puisi Hariara Sundung di Langit karya Idris Pasaribu, Maret 1998) 

“Hariara itu pohon beringin bagi orang Batak, seperti konsep pohon kalpataru,” cerita Idris Pasaribu panjang lebar soal tema Tour D Toba tahun ini, “Hariara Sundung di Langit”. “Itu sebuah imajinasi. Adalah tentang pohon beringin yang tinggi, hingga pucuknya menyentuh langit ke tujuh. Sedangkan akarnya menembus bumi, dan di belahan bumi lainnya tumbuh lagi hariara sundung di langit,” kisahnya.

Inilah salah satu filosofi orang Batak. Pohon hariara menjadi pohon kehidupan bagi mereka. Dahulu kala, jika orang Batak akan membuka huta (kampung, bahasa Batak), maka mereka akan mendirikan rumah di sekitar pohon hariara. Selain itu, pohon jabi-jabi juga menjadi syarat dibukanya huta. Sekitarnya dikelilingi tembok batu atau tanah (parik) yang ditanami dengan pohon bambu yang sangat rapat, sebagai penahan angin jika malam hari tiba. Ini dilakukan agar mereka tidak kedinginan, selain juga ada ulos sebagai penghangat tubuh.

Jalan masuk ke huta tersebut hanya ada satu atau maksimal dua gerbang (bahal), depan (jolo) dan belakang (pudi). Di bahal inilah biasanya terdapat pohon hariara, sebagai pembatas antara satu huta dengan huta yang lain. Selain itu, pohon hariara menjadi tanda kepemilikan satu wilayah dan lambang bagi satu marga. Huta sendiri sebagai pemukiman bagi orang Batak merupakan kumpulan marga yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam sebuah kelompok kecil.

Posisi pohon hariara begitu penting dalam kehidupan orang Batak. Makanya tak heran mereka mensakralkan pohon ini. Bahkan dulu, di masa ajaran Kristen belum masuk ke Tanah Batak, pohon hariara menjadi tempat mamele (persembahan) alias tempat untuk berdoa kepada penghuni alam gaib (animisme). Terkadang, pohon hariara juga sebagai saksi dalam perjanjian antar-marga (padan).

Jika menemukan pemakaman asli keluarga Batak, bisa dipastikan di sana juga akan ada pohon hariara. Karena kebanyakan orang Batak dulu menandai makam keluarga dengan menanam pohon hariara. Karena itu juga pohon hariara banyak tumbuh di Pulau Samosir dan di daerah lainnya di Batak Toba. Sayang sekali, kebiasaan ini sudah mulai luntur. Kesakralan pohon hariara dikalahkan oleh perubahan zaman.

Tapi saya beruntung masih sempat menyaksikan sebatang pohon hariara yang rimbun dan besar di samping sebuah rumah kecil di pinggir Danau Toba, tak jauh dari Dermaga Simanindo di Desa Hutagodang Kabupaten Samosir. Silakan percaya atau tidak, pohon ini sudah berumur sekitar 500 tahun.  

* * * 

“Tur ketapel,” itulah yang kami usung untuk reboisasi lingkungan Danau Toba. Ya, ketapel. Dengan alat permainan anak-anak dari kayu itu, kami akan mengembalikan keasrian lingkungan Danau Toba. Biji-biji mahoni, kenari, kemiri dan ingul ditembakkan dengan katapel ke seluruh dataran dan perbukitan di sekitar Danau Toba. Di Teluk Tanjung Unta, Pulau Tao, Harianboho, Sihotang, Tamba, hingga Bakkara, biji-biji ini melesat dari katapel-katapel yang kami tarik. Sebanyak 50 katapel yang telah disiapkan dari Medan, menjadi alat utama.

Ide ini diilhami oleh cerita kaum tua-tua. Dulu sekitar akhir tahun 1950-an, di Sumatera hadirlah kelompok yang menamakan diri Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mereka adalah pemberontak terhadap pemerintahan Soekarno di masa itu. Dari satu daerah ke daerah lain, PRRI terus bergerilya demi mempertahankan idiologi mereka yang tak sejalan dengan Soekarno.

Namun mereka tak hanya memberontak terhadap Pemerintah RI yang sah, tapi juga peduli kepada alam. Mereka membuat ketapel, dan kemudian menembakkan bibit-bibit pohon pinus dan meranti ke lahan-lahan kosong di daerah Tapanuli dan Toba. Bibit-bibit yang mereka ketapelkan itulah yang kemudian menghijaukan dataran-dataran tinggi di sekitar Danau Toba.

Berangkat dari cerita ini, Earth Society berangkat “mengarungi” Danau Toba bersama puluhan ketapel di tangan, dengan mengusung penghijauan kembali untuk lingkungan Danau Toba. Tidak kurang dari 6.000 bibit pohon dipersiapkan untuk misi lingkungan ini. Sembari menyisiri tepian danau, sesekali kapal berhenti. Bibit-bibit pohon pun melayang dari ketapel-ketapel, menuju bukit-bukit gundul dan tandus. Jika separuh saja dari bibit-bibit itu bisa tumbuh, maka 3.000 pohon akan menghijaukan kembali kawasan Danau Toba. Semoga saja! 

* * * 

Setelah satu malam menginap di Saulina Resort Pangururan, tak jauh dari pusat hotspring (pemandian air panas) Aek Rangat di pinggir Danau Toba, akhirnya kami melanjutkan perjalanan hari kedua. Dini hari malamnya, Irwansyah Harahap, etnomusikolog Universitas Sumatera Utara, datang menyusul rombongan bersama tiga orang lainnya. Anggota tim pun bertambah menjadi 26 orang. Satu lagi, pastinya ada tambahan amunisi musisi Batak yang akan menghibur kami sepanjang perjalanan. Ahai...

Kapal akan melewati Tano Ponggol, sebuah terusan dengan jembatan kecil yang menghubungkan Pulau Samosir dengan daratan Sumatera. Tano Ponggol adalah bahasa Batak yang berarti tanah yang dipenggal. Oh, ternyata dulu Pulau Samosir menyatu dengan Sumatera di bagian barat pulau ini. Namun ketika Belanda menjajah Tanah Batak, daerah ini digali dan dijadikan terusan oleh kolonial. Akhirnya Pulau Samosir pun “bercerai” dengan Sumatera. Itulah asal mula kenapa terusan ini dinamai Terusan Tano Ponggol, yang berarti tanah yang dipenggal.

Pada tahun 1906, Belanda mendirikan pos militer pertama demi kepentingan gerakan militernya di Pangururan, tepatnya di kaki Pusuk Buhit yang berada di bagian Pulau Sumatera. Saat itu, Belanda juga melakukan pengerukan terusan untuk menembus tanah genting yang dulunya menghubungkan Pulau Samosir dengan Pusuk Buhit, sehingga kemudian menjadi kanal. Pembangunan terusan ini merupakan salah satu intervensi fisik yang kemudian merubah “wajah” kawasan Toba secara total, selain juga pembangunan “trans Sumatera” serta pendinamitan sumbat di hulu Asahan.

Satu lagi yang harus Anda ketahui, Terusan Tano Ponggol adalah salah satu dari tiga terusan yang ada di dunia, selain Terusan Suez di Mesir dan Terusan Panama di Amerika. Dan itu berarti, terusan kecil dengan kedalaman sekitar 2 meter yang berada di Tanah Batak ini adalah terusan satu-satunya di Indonesia.

Namun berbeda dengan Terusan Suez dan Terusan Panama, Terusan Tano Ponggol tidak bisa dilewati oleh kapal-kapal besar. Biasanya hanya solu (sampan) yang bisa melaluinya. Bahkan ketika kami menyusuri kanal terusan tersebut, kapal terpaksa bergerak perlahan. Dua orang warga memberi komando dari depan, sambil mengira-ngira kedalaman kanal yang bisa dilewati. Waduh... Kedalaman Terusan Tano Ponggol hanya sepinggang orang dewasa. Jika tak berhati-hati, kapal bisa kandas di sana.

Berhasil melewati Tano Ponggol, kapal kembali memasuki perairan Danau Toba yang begitu luas. Jauh di belakang, Pusuk Buhit yang tingginya mencapai 2.100 meter dari permukaan laut memagari Danau Toba dari Pulau Sumatera. Bukit yang menjadi tempat asal muasal orang Batak ini berdiri kokoh diselimuti awan-awan kecil. Di sinilah Debata Mulajadi Nabolon pertama kali dipercayai menurunkan nenek moyang orang Batak, yang kemudian melahirkan anak cucu Batak yang terkenal keras.

Sebagian besar orang Batak percaya kalau Si Raja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit. Ia kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut. Itulah daerah Sianjur Mula-mula, yang sekarang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Samosir. Saya dengar, Pusuk Buhit sendiri masih disakralkan hingga saat ini. Hampir setiap tahun diadakan upacara adat untuk memanjatkan puji-pujian dan sesembahan bagi roh nenek moyang.

Kapal terus menyisir pinggiran Danau Toba sebelah Pulau Sumatera, melewati Limbong dan Harianboho. Menjelang Tamba, sebuah bukit dengan tulisan besar “Sihotang” di bagian lerengnya hadir di depan kami. Inilah daerahnya orang-orang Batak bermarga Sihotang. Sedangkan Dolok Martahan “tidur” memanjang memagari daerah Tamba.

Perairan Danau Toba di wilayah ini masih bersih dan alami. Kualitas airnya terjaga, jauh berbeda dengan perairan danau di bagian utara; Tomok, Tuktuk, Tiga Ras dan sekitarnya. Jangan pernah coba-coba mandi di sana jika Anda tak mau keluar dari danau dengan bentol-bentol merah di tubuh dan gatal-gatal. Air danau bagian tersebut sudah tercemari minyak-minyak kapal. 

* * * 

Sebelum memasuki Teluk Bakkara, Pulau Simamora teronggok dengan datarannya yang sudah gundul. Di seberangnya adalah daerah Pollung, kampungnya marga Sihombing. Air terjun Sampuran yang menjadi PLTA bagi daerah setempat, masih kelihatan dari kejauhan. Jarum jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan saya sudah menunjuk angka 12. Matahari bersinar cerah siang itu.

Setelah menyusuri hampir separuh Danau Toba, kapal pun merapat di Dermaga Bakkara. Inilah Tano Bakkara, wilayah pusat kerajaan Raja Sisingamangaraja, pahlawan nasional dari Tanah Batak. Makan siang telah menanti kami di rumah Pak Manullang, “tangan kanan” keturunan Raja Sisingamangaraja. Rumah kecil itu berada di pinggir Danau Toba, tepatnya di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Bakti Raja, kependekan dari nama tiga kampung besar di  daerah ini; Bakkara, Tipang dan Janji Raja. Di depannya, salah satu danau terbesar di dunia terhampar luas membiru. Sedangkan di belakangnya, hamparan hijau persawahan mempercantik alam tanah Raja Singamangaraja ini. Jalan kecil menuju Dolok Sanggul, salah satu akses transportasi darat menuju daerah ini, berkelok-kelok bak ular yang begitu panjang melilit perbukitan. Sayang sekali, bukitnya sudah gundul; banyak pinus yang terbakar.

Hingga saat ini, ada mitos yang masih dipercayai oleh orang Batak ketika berniat datang ke Bakkara. Biasanya roh ompung Raja Sisingamangaraja selalu memberikan tanda-tanda alam untuk menyambut kedatangan “tamunya.” Ternyata ombak danau yang tiba-tiba mulai berhenti menghempas kapal kami saat akan memasuki perairan Bakkara tadi, diyakini sebagai pertanda bahwa ompung Sisingamangaraja telah menyambut kami bersama cuaca yang cerah.

Aroma natinombur dengan sambal andaliman yang sudah terhidang mulai tercium menggugah selera. Irama musik Batak dari hembusan sarune dan petikan hasapi yang tadi mengiringi cerita tentang tentang Tano Bakkara pun berhenti. Hmmm... saatnya menyantap masakan khas Batak ini; sambal dengan ikar mujair bakar dan ikan tsunami (ikan pora-pora, khas Danau Toba). Meski pedas, saya tak mau berlama-lama menunggu lagi. Tak apalah sedikit berkeringat melawan rasa pedas andaliman.

Penawarnya, air yang berasal dari aek sipangolu yang kaya akan oksigen dan konon bisa mengobati pedas yang menyerang lidah. Air dari Sipangolu bisa diminum tanpa dimasak. Orang Batak meyakini, air ini bisa menahan kematian seseorang untuk sementara. Dan saya telah meneguknya, bahkan hingga tiga gelas. Semoga saja kesempatan hidup saya bisa bertambah, setidaknya untuk datang kembali mengunjungi tanahnya ompung Sisingamangaraja ini.

Hampir lima jam kami berkeliling Tanah Bakkara. Mengunjungi gua batu Tumbak Julujulu yang berada di ketinggian 970 meter di atas permukaan laut. Konon, di gua inilah ibu Raja Sisingamangaraja pernah menyendiri dan bertenun. Kesakralan gua ini diperkuat dengan tumbuhnya beberapa pohon sakkamadeha di atas bebatuan gua tersebut. Ajaibnya lagi, pohon ini hanya bisa ditemukan di Bakkara.

Dari Tombak Julujulu, kami menuju istana Raja Sisingamangaraja. Di sana, rombongan menari tor-tor bersama iringan musik Batak untuk menyatakan kegembiraan bisa berkunjung ke istana raja. Satu yang menarik, di Bakkara hanya istana Raja Sisingamangaraja-lah yang boleh menghadap ke timur, di mana matahari terbit. Sedangkan rumah penduduk harus menghadap ke arah penjuru angin lainnya. 

* * * 

Menjelang pukul lima sore, kapal kembali berlayar meninggalkan Bakkara. Sebenarnya kami belum puas menikmati pesona keindahan tanah Sisingamangaraja itu. Tapi waktu tak mengizinkan lagi, karena kami harus segera menuntaskan perjalanan hari ini. Tujuan malam ini adalah Tuktuk, sebuah lokasi wisata yang sudah jadi. Kami akan menginap di sana, sebelum kembali ke Medan keesokan harinya.

Dari Bakkara, kami melewati daerah Muara dan Sigaol menuju arah timur Danau Toba. Satu setengah jam perjalanan, air terjun Binangalom telah berada di depan kami. Air terjun yang berada di tebing Pulau Sumatera di pinggir Danau Toba ini berada dalam wilayah Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir. Bagai raksasa putih, titik-titik air terjun ini jatuh membanjiri danau.

Tapi sayang sekali, kami tak bisa mandi di sana. Padahal hasrat untuk mencebur ke danau sudah tak tertahankan lagi. Di sekitar air terjun sudah banyak keramba yang memenuhi permukaan danau. Padahal tahun lalu, daerah ini masih bersih dari keramba. Mereka telah mengotori Danau Toba dan merusak impian saya untuk merasakan sejuknya air terjun Binangalom.

Sepanjang daerah Sosor Pasir menjelang Parapat, hampir sebagian besar permukaan danau di bagian pinggir ditutupi keramba. Daerah ini menjadi pusat keramba ikan di Danau Toba. Tak apalah sebagian danau ini harus tercemar, karena memang orang Batak tetap butuh hidup dan makan. Inilah yang akan membantu mereka untuk mempertahankan hidup. Asal di bagian lain danau ini masih terjaga kelestariannya.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, terbenam di puncak perbukitan Pulau Samosir. Panorama sunset yang berbeda dengan pinggir pantai. Di sini, matahari tak terbenam ke laut atau danau, tapi hilang “ditelan” bukit-bukit yang semakin gundul. Mungkin panorama sunset ini akan lebih menarik dan indah jika pohon-pohon pinus masih tumbuh rimbun dan menjulang tinggi di perbukitan.

Sekitar pukul delapan malam, kapal pun berlabuh di Tuktuk, di depan Hotel Dumasari; tempat kami beristirahat malam ini. Ini malam terakhir rangkaian Tour D Toba tahun ini. Rencananya, kami akan berkumpul untuk berdiskusi dan mengevaluasi hasil perjalanan. Tapi karena sudah kelelahan, diskusi pun dibatalkan. Saya pun sudah di kamar sejak pukul sembilan, setelah makan malam. Danau Toba malam itu begitu dingin.

Hari terakhir ada agenda jalan-jalan di Tomok, sekadar melepas penat sebelum kembali ke Medan. Tapi saya pikir tak usah banyak menceritakan bagian ini. Karena Anda pun pasti sudah pernah datang ke Tomok; berwisata di pusat makan Raja Sidabutar, menyaksikan hiburan sigale-gale, serta berburu ukiran khas Batak dan kaos bertuliskan Danau Toba pada bagian depannya.

Mulailah menyusun jadwal liburan untuk akhir tahun ini. Kabarnya, Tour D Toba akan kembali mengarungi Tao Toba Desember 2009 ini, sembari berpesiar menyambut tahun baru. Tentu saja tetap dengan iringan musik Batak dari sarune dan hasapi yang mendendangkan lagu “O Tao Toba” Nahum Situmorang: mamereng ho, o Tao Toba na uli (memandangmu, oh Danau Toba yang indah).

Share |
Kirim ke teman
Terdapat (14) Tanggapan














Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.226.5.29

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: