Setahun lalu, mimpi saya “menjadi Gubernur Sumut” memang telah kandas sebelum dimulai. Selain mimpi itu terlalu tinggi, juga terlalu mewah bagi praktisi wisata seperti saya yang tidak terbiasa dengan “politik tingkat tinggi”.
Tapi, mimpi yang gagal menjadi gubernur tidaklah sama akibatnya dengan menjadi gubernur yang gagal bermimpi. Dan inilah yang akan menjadi pokok tulisan saya kali ini.
Seorang pemimpin, tidak terkecuali Walikota Medan, sudah seharusnya memiliki imajinasi dan mimpi yang tinggi tentang daerahnya. Membangun Kota Medan yang sangat nyata secara ontologis, tidak ada urusannya dengan kesibukan-kesibukan seremoni, kenduri, dan audiensi orang-orang yang tidak berkepentingan dengan cita-cita panjang daerah yang pernah melangkah di depan sebagai produk imajinasi orang-orang Eropa ini.
Punya mimpi sama dengan punya cita-cita. Karena punya cita-cita, maka kita punya ambisi. Hanya mimpilah yang bisa membuat Singapura mampu menyelesaikan megaproyek Resort World, sebuah resort terintegrasi paling mewah di dunia, yang beroperasi 2010. Imajinasi dan ambisi yang tinggi telah membawa ibukota Riau, Pekanbaru, menjadi Kota Melayu yang syarat identitas dan aspek seni. Sementara itu, para pemimpin di Sulawesi Selatan telah menunjukkan pada dunia bahwa mereka sanggup membangun proyek Disneyland pertama di Asia Tenggara. Itu semua adalah produk imajinasi. Yakni mimpi yang selalu mengganggu untuk diwujudkan.
Bagaimana jadinya Medan tanpa mimpi? Kita telah menyaksikan hasilnya dalam kurun beberapa tahun terakhir. Nyaris tidak ada suatu cita-cita di sini. Semua berjalan seperti kura-kura tanpa lompatan apapun. Kita terlalu sabar. Perkembangan terjadi dalam skala sangat minimal, nyaris tidak ada rekayasa pembangunan atau keinginan untuk mewujudkan sesuatu secara nyata dan terasa. Semua berevolusi seperti nature. Kondisi ini persis mencerminkan slogan “asal tidak lapar, tidak sakit, dan tidak bodoh”. Dengan itu, kita menangkap pameo, “asal kenyang senanglah hati”. Jadi, kalau semua warga Medan bisa serentak menjadi buncit, maka sukseslah pembangunan kota ini (ini tidak termasuk buncit karena “disantet” korupsi). Kalaupun kebuncitan itu tak melahirkan ciri peradaban yang kuat, kebudayaan, dan ambisi yang tinggi, tidak apa-apa. Biarlah kita sederajat dengan suku Bushmen di Afrika yang berburu untuk makan sehari.
Andaikan saya menjadi Walikota Medan, saya akan memberikan satu warisan pemikiran dan imajinasi besar masa depan yang direalisasikan dalam tindakan-tindakan berbentuk fisik dan jangka panjang kepada daerah ini. Proyek fisik adalah lambang orientasi suatu daerah. Apabila pemimpin mewujudkan pembangunan satu kawasan perdagangan paling rapi dan terpadu di kota ini, berarti ia menyampaikan pesan pada rakyatnya bahwa daerah ini akan diantarkan menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara.
Kalau bandaranya segera diselesaikan dengan arsitektur yang super mewah, itu berarti sebuah pesan bahwa Medan akan segera tumbuh pesat, sehingga membutuhkan infrastruktur yang bisa mengakomodir kunjungan dari seluruh dunia. Kalau walikota memimpin jalan-jalan layang yang melancarkan mobilitas warga, maka semua orang akan tahu bahwa kota ini akan meninggalkan masa pra sejarah dan akan segera diurus menjadi civilized metropolitan. Begitulah seterusnya. Dan setiap gerakan seperti itu pada akhirnya akan memancing optimisme masyarakat di belakangnya. Mereka akan dengan sendirinya bereaksi dan bergerak mengkonsolidasi mimpinya masing-masing menjadi mimpi bersama, mimpi besar, dan berpartisipasi dalam cita-cita sang pemimpin. Lihatlah pembangunan-pembangunan besar di Riau yang akhirnya bergemuruh menjadi “The Spirit of Riau”.
Dulu, ketika Bung Karno membangun Monas dan Hotel Indonesia, ia sebenarnya ingin bangsa ini tidak merasa rendah diri di antara bangsa-bangsa maju di dunia, dan orang langsung berpikir bahwa Indonesia akan segera maju. Spirit itu kemudian berkembang dengan perwujudan Garuda Indonesia sebagai maskapai terbesar di Asia, pengelolaan ladang-ladang minyak nasional yang dikendalikan sepenuhnya oleh negara, dan terwujudnya imperium yang ditakuti Inggris dan Amerika.
Bila tidak ada satu pun sinyal dan lambang seperti itu dilahirkan seorang pemimpin, maka Anda sendiri dapat menduga dan menyimpulkan apa yang ada di otak sang pemimpin. Maknanya jelas, bahwa para walikota kita telah gagal bermimpi! Dan ini jauh lebih fatal lagi akibatnya ketimbang sebuah kegagalan pembangunan.
Saya tidak berminat menggambarkan lebih jauh kondisi kita yang semakin dis-orientasi ini. Tapi kita harus segera menyusul melakukan konsolidasi pembangunan seperti yang sedang dilakukan kota-kota lain di Sumatera, bila tidak ingin terlalu ketinggalan. Sekali tertinggal, akan lebih sulit untuk menyusul lagi. Pergerakan swasta yang tidak dikoordinir oleh pemerintah secara aktif di Medan dapat menciptakan kompetisi yang tidak sehat dan tata ruang yang sulit dikendalikan. Ketinggalan infrastruktur dibanding struktur akan segera membuat kekacauan dan ketidakseimbangan. Misalnya, apabila pembangunan jalan yang lambat tidak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan yang cepat, maka kemacetan kota akan segera terjadi. Apabila pertumbuhan investasi daerah tidak diakomodir dengan bandara yang representatif, maka orang akan tetap menganggap daerah ini rawan, kampungan dan tertinggal.
Bila mimpi-mimpi kita tentang masa depan itu mengalami benturan, maka seluruh sumber daya yang dimiliki daerah ini harus diikutsertakan dalam kartu perjuangan. Kalau misalnya pemerintah pusat tidak memperlihatkan komitmen yang kuat untuk menyelesaikan segera Bandara Kualanamu, maka kita juga bisa menunjukkan kekuatan politik kita seperti Aceh dan Riau melakukannya. Para politikus dan gubernur harus melakukan bargaining di Jakarta. Mari kita katakan bersama, bahwa setiap hal yang menghalangi mimpi kita, akan ada konsekwensinya. Because we are unstopable! Itulah ciri-ciri kota yang berdaulat dengan cita-citanya.
Ayo mulai bekerja!