Satu serial kartun biasanya akan lolos dari perhatian kita ketika berbagai stasiun TV berebutan menyedot perhatian anak-anak dengan berbagai sajian kartun pada pagi hari ketika semua orang sedang bersiap-siap berangkat kerja atau sekolah. Saya menonton kartun yang akan saya ceritakan ini secara tak sengaja, sewaktu mengikat tali sepatu sebelum saya beredar di jalanan bersama jutaan orang lainnya.
Serial kartun itu adalah “Avatar”. Ditayangkan tiap pagi di Global TV. Kisah tentang Sang Buddha versi Korea, tapi digarap secara teknis oleh sineas-sineas Perancis. Awalnya, sepotong-sepotong, saya menonton serial ini, dan tidak tertarik. Memang ada lucu-lucunya, dan karakter-karakternya sangat kuat. Tapi sebagai film kartun yang tokoh-tokohnya bisa melakukan apa saja, termasuk menyemburkan api, mengendalikan air, udara, dan tanah, saya menilai serial ini terlalu mengada-ada dan hanya cocok untuk anak-anak yang memang membutuhkan rangsangan imajinasi lebih banyak. Cuma, mengapa anak saya yang periang, yang masuk TK siang, selalu berubah tabiat ketika jam tayang “Avatar” berlangsung?
Ia duduk sangat tekun di sofa, tertib, nyaris tak berkedip, dan tangannya secara tak sengaja bergerak-gerak mengikuti adegan-adegan dalam kartun. Kadang matanya memerah karena haru, malu-malu, dan cekikikan manakala ada yang lucu. Ia baru berumur 5 tahun. Setiap iklan memotong tayangan itu, ia mengeluh, “aaah…”
Saya pun jadi penasaran. Dari sekadar mendengar teriakan “pengendalian bumi, heiyaaaa!”, “pengendalian api, ciaaat!”, “pengendalian air, haaa!” dan seterusnya, saya mulai mengikuti kartun itu secara coba-coba. Yang terjadi kemudian adalah, saya terus-terusan mengikuti ceritanya. Makin lama, saya malah menunggu cerita selanjutnya. Dan akhirnya, jam tayang “Avatar” menjadi waktu khusus saya, berduaan bersama seorang anak TK, di atas sebuah sofa. Kami menikmati “Avatar” dengan usia kami masing-masing. Anak TK itu barangkali menikmati “Avatar” karena kelugasan komunikasinya dan imajinasi pengendalian alam yang sangat diimpikannya, di mana orang-orang bisa terbang, melompat tinggi, dan berjalan di atas air. Saya sendiri sangat mengagumi pembungkusan ide ceritanya dan menikmati kandungan filsafat di balik penggarapan teknisnya.
Cerita tentang “Avatar” adalah kisah jagad raya (khususnya atmosfir bumi) beserta persoalan besar yang dihadapinya manakala energinya yang seimbang dan tersebar merata, mulai direkayasa oleh makhluk manusia. Penduduk bumi terbagi ke dalam empat suku, masing-masing Suku Pengendali Air, Pengendali Api, Pengendali Bumi (tanah), dan Pengendali Udara. Di atas keempat suku tersebut, ada kekuatan yang mampu menguasai keempat unsur tersebut dalam dirinya. Merekalah kaum Avatar, yakni penyeimbang kehidupan, atau wujud Sang Buddha. Dalam cerita ini, Avatar yang terakhir bernama Aang, seorang anak kecil yang terperangkap di sebuah bongkahan es. Perjalanan hidup Aang dimulai ketika ia diselamatkan Katara dan Sokka, dua kakak beradik dari Suku Pengendali Air yang mengembara setelah negerinya dihancurkan Suku Pengendali Api.
Perjalanan hidup Aang bersama para sahabatnya diwarnai oleh penyempurnaan ilmunya dari berbagai suku pengendali yang tujuannya adalah untuk mengalahkan keangkaramurkaan seorang raja Suku Pengendali Api sakti yang ingin menguasai dunia. Petualangan yang lucu, patriotik, penuh pelajaran tentang hikmah, pengorbanan, persahabatan, pertengkaran, pertempuran, nilai-nilai, dan cinta.
Tapi yang paling menarik bagi saya adalah dialog di akhir cerita antara Aang dengan si Raja Api. Ketika Aang tidak mau membunuh musuh utamanya yang sudah tak berdaya itu, Raja Api berkata: “Bahkan dengan semua kekuatan dunia yang ada padamu, kamu masih lemah”.
Paradigma keduanya tentang kekuatan ternyata berbeda. Aang melihat bahwa kekuatan tertinggi adalah kasih sayang dan pengampunan. Sedang Raja Api memandang kekuatan sebagai kemampuan mengendalikan atau pemusatan seluruh dunia di tangan satu orang. Dua paradigma ini bertarung di bukit-bukit tandus, menghancurkan laut, udara dan daratan. Puncaknya adalah ketika Aang merenungkan tentang dunia sebelum energi digunakan sebagai alat kekuasaan dan kekuatan manusia. Karena ia adalah Avatar yang suci, maka ia tidak membunuh musuhnya, tetapi akhirnya menyedot energi api dalam diri Raja Api dan mengembalikannya ke alam.
Dalam kehidupan moderen, energi alam tidak dikumpulkan manusia dengan tenaga dalam, melainkan dengan teknologi. Energi digunakan untuk membangun peradaban, kekuatan, mobilisasi, industri dan seterusnya. Siapa yang menguasai energi terbesar, maka merekalah yang terkuat. Perlombaan energi nuklir adalah gambaran terbaik untuk hal itu.
Akankah perlombaan energi kita hari ini akan berakhir semanis cerita “Avatar” dan Raja Api? Apakah ada “Avatar” di alam nyata? Masihkah kita menjadi bangsa yang mesianik? Ataukah “Avatar” itu sebenarnya adalah sisi-sisi nurani yang terpendam di hati setiap manusia? Saya tak sanggup menjawabnya, tapi mungkin anak TK yang menonton di samping saya bisa melakukannya dengan pikiran yang sederhana.