Kopi, selamanya nikmat jika diminum untuk mengusir lelah atau kantuk. Apalagi jika sedang beristirahat karena menempuh perjalanan panjang. Mungkin alasan itu yang membuat Rumah Makan Pondok Paranginan di jalan lintas Panyabungan-Natal atau tepatnya di Jembatan Merah-Kayu Laut Kecamatan Panyabungan Selatan begitu populer di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Tapi kalau cuma kopi, apa bedanya dengan rumah makan lain? Dari sinilah cerita dimulai.
Pondok Paranginan milik Hj Choriah Nasution ini mulai dibuka sejak tahun 2002. Tak perlu lama, rumah makan yang menyajikan makanan khas Mandailing ini langsung diserbu para pengunjung yang melintas ke Natal dari Panyabungan, maupun penduduk Kota Panyabungan sendiri. Makanan andalan yang disajikan antara lain ayam kampung olahan tradisonal, ikan mas sale, dan sebagainya.
Lalu pada tahun 2007, Hj Choriah mencoba menyajikan menu terbaru yang spontan membuat rumah makan miliknya tambah ramai dikunjungi orang. Menu baru itu adalah kopi batok. Istilah ini tidak ada dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Secara harfiah, kopi batok adalah kopi yang disajikan dalam gelas yang terbuat dari batok kelapa gading yang berukuran kecil. Bahan kopi yang digunakan adalah kopi asli Madina. Dan gulanya bukanlah gula pasir, melainkan gula aren. Tambahan lain yang membuat kopi ini begitu berbeda dan sangat nikmat adalah sendoknya yang dari kayu manis. Kemudian kopi itu Anda nikmati di sebuah pondok terbuka di pinggiran Aek Singolot yang berbatu merah, sejuk dan berirama. Di seberang sungai adalah hutan karet penduduk di mana beberapa ekor babi liar terbiasa melintas seperti tidak terjadi apa-apa.
Ide membuat kopi batok mengilhami Hj Choriah Nasution dari kebiasaan kakek neneknya yang masih menjalankan tradisi penduduk desa di masa lampau. Menurutnya, dulu ketika orang-orang pergi ke ladang, mereka memasak air panas dan membuat kopi hanya dengan daun kopi yang diasapi hingga garing. "Waktu itu belum ada kopi bubuk. Jadi mereka menggunakan daun kopi yang sudah di-sale (diasapi) hingga garing. Daun-daun kopi itu diremas sampai hancur, lalu ditambahkan ke air panas yang sudah dimasak. Untuk pengganti gula, mereka menggunakan air nira yang manis. Dan karena tidak membawa sendok, mereka memakai kayu dari pohon kayu manis di ladang," jelas Hj Choriah Nasution pada Inside Sumatera.
Brand kopi batok ternyata sangat menarik minat pengunjung yang datang untuk makan di Pondok Paranginan. Citarasa kopi serta aroma kayu manis yang menyengat membuat tenggorokan terasa hangat. Rasa kantuk hilang. Dan semangat melanjutkan perjalanan pun bertambah. Apalagi posisi Pondok Paranginan yang berada di pinggiran di Aek Singolot, begitu sejuk dan nyaman.