Senja menyemburat di barat, dan cahayanya melulur bagian atas bangunan itu. Tak usah berpikir panjang, siapapun akan segera tahu bahwa gedung itu adalah sebuah vihara, yakni bangunan ibadah untuk ummat Buddha. Atapnya yang khas oriental dan patung-patungnya yang menawan dalam berbagai pose merupakan icon yang mudah dikenali.
Hanya saja, vihara ini sedikit berbeda dari vihara lain secara umum. Pekarangannya yang luas telah disulap menjadi kebun sayur dan buah, dan mengembalikannya seperti perkampungan shaolin yang autarkhi. Inilah Vihara Avalokitesvara Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Nama indah tersebut sinonim dengan Dewi Kwan Im dalam bahasa Tionghoa, yang artinya adalah penjelmaan Buddha dalam bentuk Dewi yang penuh kasih sayang.
Sejak pembangunannya hingga tahap rampung, vihara ini telah menyedot minat pendatang di Tanjungpinang, terutama kalangan umat Buddha. Selain menjadi tempat ibadah, fasilitas ibadah ini juga menjadi tujuan wisata relijius yang mencetak rekor sebagai vihara yang memiliki patung Dewi Kwan Im dalam posisi duduk terbesar di Asia Tenggara.
Berdiri di atas lahan seluas 10 hektar, Vihara Avalokitesvara memang cukup menonjol karena keberadaannya di tengah masyarakat mayoritas Melayu yang beragama Islam. Tapi kehadiran vihara ini juga sekaligus mempertegas sejarah panjang kedatangan umat Buddha Tionghoa di Pulau Bintan. Bukan itu saja, dalam catatan-catatan sejarah Kerajaan Sriwijaya, ajaran Buddha juga pernah menyebar secara luas terutama di kepulauan sebelah utara Pulau Sumatera, termasuk Bintan.
Di Kepulauan Riau sendiri yang menjadi salah satu basis kekuatan imperium maritim Sriwijaya, ajaran Buddha yang telah hadir beberapa abad lalu itu ditandai dengan ditemukannya sebuah prasasti berbahasa Sansekerta yang menggunakan huruf Paranagari di Pasir Panjang, Pulau Karimun. Menurut ahli epigrafi, Dr. J. Brandes, yang menyelidiki prasasti ini pada tahun 1887, isi prasasti tersebut adalah Mahayanika Golayantritasri Gautamasripada. Dua epigraf lainnya, Caldwell dan Appleby Hazlewood, menyimpulkan, prasasti yang ditemukan ini berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang dan pusat pendidikan Agama Buddha di Nalanda yang mulai berkembang sejak abad ke-8 hingga abad ke-13.
Di Kota Tanjung Pinang, Agama Buddha kembali berkembang sekitar tahun 1973. Saat itu seorang bikkhu dari Singapura, Yang Arya Bikkhu Sek Chong Seng, datang ke kota ini setelah mengabdi di Pulau Jawa lebih dari 30 tahun. Kini populasi umat Buddha di Tanjungpinang semakin bertambah. Satu vihara tua, Vihara Bahtra Sasana, bahkan sudah tak mampu lagi menampung jemaat yang beribadah. Dan inilah yang menjadi latar belakang inisiatif pembangunan Vihara Avalokitesvara Tanjungpinang.
Melalui Yayasan Maitri Paramita, lokasi pembangunan Vihara Avalokitesvara Graha ditetapkan di KM 14 arah Tanjunguban, Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur. Vihara ini diresmikan pada Juni lalu, dengan dihadiri para pejabat pemerintah, termasuk Gubernur Kepulauan Riau, Bapak Ismeth Abdullah, Menteri Agama, Bapak Maftuh Basyuni, dan Ketua WALUBI, Ibu Hartati Murdaya.
***
Memasuki area Vihara Avalokitesvara, tamu akan disambut gerbang utama yang berdiri kokoh bergaya arsitektur China. Di sisi kiri kanan jalan beraspal, terhampar kebun yang ditanami sayur-sayuran. Sayur hasil kebun vihara ini, selain untuk kebutuhan sehari-hari, juga dimanfaatkan pada acara-acara resmi vihara.
Di sekitar gedung utama, tampak patung ksitigarbha dan patung singa yang berjajar seolah mengawal bagian dalam gedung. Dan tepat di depan ruang utama, Genta Dharmasala berdiri di sebelah kiri pintu masuk.
Ruang dharmasala utama memiliki lebar 32 meter, panjang 58 meter, dan tinggi 25 meter. Patung Dewi Kwan Im posisi duduk terbesar di Asia Tenggara itu tegak setinggi 16,8 meter. Warnanya sangat menonjol dan impresif karena dibalut kuningan emas yang didatangkan langsung dari China. Di hadapannya, duduk pula patung-patung Buddha yang lebih kecil dengan empat mudra. Sementara patung-patung boddhisatva lainnya berjajar di kiri kanan patung utama. Selain sebagai tempat pemujaan, vihara ini juga menyediakan ruang krematorium beserta tempat kremasinya.
Kehadiran vihara di Kota Tanjungpinang pada kenyataannya tidak hanya menguntungkan umat Buddha saja. Karena kedatangan para peziarah yang meningkat, sektor pariwisata juga lebih terdongkrak. Menurut Ketua Yayasan Maitri Paramita, Bapak Hengky Suryawan, Vihara Avalokitesvara Tanjungpinang tidak hanya dikunjungi umat Buddha asal Tanjungpinang, tapi juga umat Buddha dari wilayah Indonesia lainnya dan tamu-tamu peziarah mancanegara dari Malaysia, Singapura, Thailand, China dan Korea Selatan.
“Pada acara-acara keagamaan, vihara ini juga dikunjungi umat dengan jumlah yang lebih besar, terutama umat Buddha dari dalam negeri yang merasa tak harus lagi ke China jika ingin mengunjungi Patung Dewi Kwan Im. Jadi bisa dihitung berapa besar keuntungan sektor pariwisata dengan kehadiran vihara ini,” urai Hengky.
Selain di Tanjungpinang, sebelumnya di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, juga telah berdiri Patung Dewi Kwan Im posisi berdiri terbesar di Asia Tenggara yang terbuat dari batu granit.