Yang terbaik pasti menang. Ungkapan filosofis yang sering diumbar dalam film India itu tidak berlaku bagi sebagian keindahan alam dalam kantung-kantung pedalaman Sumatera. Di berbagai tempat, nun agak jauh, tersimpan potensi wisata yang luar biasa dan tak kalah dari sisi mutu lingkungan.
Saya ingin membawa Anda ke salah satu sungai terindah di Kabupaten Padang Lawas (Palas). Palas merupakan kabupaten baru yang dimekarkan Agustus 2007 lalu dari kabupaten induknya, Tapanuli Selatan. Kawasan pedalaman ini cukup dikenal memiliki sungai-sungai besar seperti Aek Batang Lubu Sutam, Aek Barumun dan Aek Sosa. Ketiga aek (sungai) ini adalah nadi sekaligus simbol alam yang identik dengan Palas. Bahkan, peradaban Palas bertitik tolak dari sini, terutama pinggiran Sungai Barumun yang telah menyisakan beberapa biaro (biara) peninggalan budaya tua, terutama di muara Aek Batang Pane, anak Sungai Barumun.
Aek Barumun sendiri adalah aek gabungan dari anak-anak sungai penting di kisaran Kecamatan Ulu Barumun. Nah, kini saatnya kita berkunjung ke hulu Sungai Barumun yang membentuk dirinya dari mata air di kaki-kaki Bukit Barisan.
Saya tidak akan takut memvonis, bahwa Aek Siraisan adalah sungai terjernih saat ini di Sumatera—tentunya yang pernah saya jumpai. Aek Siraisan, anak Sungai Barumun, mengalir cepat dari kaki-kaki Suaka Margasatwa (SM) Barumun yang masih masuk dalam jajaran Bukit Barisan. Sungai ini terletak di Kecamatan Ulu Barumun (Kepala Barumun) sejauh lebih kurang 12 km dari Sibuhuan, ibukota Palas. Aek Siraisan merupakan produk terbaik bebukitan SM Barumun. Ia mempunyai penetrasi cahaya rendah, sehingga pengunjung sering tertipu dengan kedalaman air karena kejernihannya.
Penduduk asli suku Batak Mandailing di Ulu Barumun cukup bersyukur memiliki sungai ini sebagai sumber air utama. Sebagian warga mencoba peruntungan dengan membangun puluhan gubuk peristirahatan di dinding sungai. Pengunjung dapat menikmati panorama aliran sungai di antara sawah-sawah yang diapit bukit tropis.
Ternyata kadar logam di sini sukup tinggi. Penduduk hampir setiap hari marsapa (mendulang) emas di bagian hulu Aek Siraisan. Peralatan yang digunakan mencari logam mulia cukup sederhana; hanya perlu sapa (dulang) dan botol penyimpan serpihan emas. Caranya relatif mudah. Batu-batu besar dipindahi untuk membendung aliran tepian Siraisan. Terus, batu-batu kasar dikuras sedalam setengah meter. Setelah itu, tinggal pasir halus dan tanah yang mesti di-sapa. Serpihan emas yang didapat lantas disimpan di botol penyimpanan berisi air. Serpihan-serpihan inilah yang dikumpulkan seharian penuh oleh penduduk yang sedang berlibur dari pencaharian utama sawah dan karet.
Saat saya dan teman-teman dari Mapala Biopalas dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) mandi-mandi di sungai ini, Juli 2009, penduduk mulai serius mencari emas. Belakangan, mereka terlihat lebih berani berinvestasi membeli mesin pencari emas yang dinakhodai enam orang. Namun, tahap ini masih coba-coba.
Selain arena tambang emas terbuka, Aek Siraisan adalah pusat wisata di Palas. Sungai ini ramai dikunjungi pada hari Sabtu dan Minggu, serta hari-hari besar. Pengunjung datang dari berbagai penjuru Palas alias wisatawan lokal. Ada yang datang dari Binanga. Biasanya mereka datang ramai-ramai dengan kendaraan carteran. Tidak kurang heboh, ada juga pengunjung dari Riau, propinsi tetangga yang berbatasan langsung dengan Palas. Mereka meluangkan waktunya untuk bersentuhan dengan Aek Siraisan yang cukup dingin. Meski cukup terisolir dari segi akses ke bandara internasional, pengunjung yang datang ke sungai ini sudah melebihi 1.000 orang setiap bulannya.
Sungai ini memang sungai terindah, tapi saya tidak mengukurnya dari lebar sungai, tapi lebih pada nilai kejernihannya. Kejernihannya memiskinkan kadar organik terlarut di dalamnya, tapi mengendapkan logam berharga di batang-nya. Aek Siraisan adalah salah satu produk ”PAM alam” sebagai megasubsidi untuk penduduk Palas. Megasubsidi ini belum pernah mandek dan masih setia dari nenek moyang hingga sekarang. Selalu membawa berkah, pencaharian dan potensi wisata sekaligus.
Hampir sungai-sungai yang ada di Palas berhulu di SM Barumun, hutan register dan hutan adat yang tergabung dalam jajaran Bukit Barisan. Saking pentingnya, kawasan ini pernah diusulkan menjadi Taman Nasional Barumun Raya pada tahun 2004. Tidak berlebihan dikatakan, kawasan yang bersebelahan dengan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) ini bertindak sebagai mesin penjernihan sungai-sungai di Palas. Kejernihan Aek Siraisan mengindikasikan kinerja hutan di sini relatif terjaga.
Kontras dengan pengelolaan Aek Siraisan sebagai destinasi utama di Palas, hingga saat ini belum terlihat campur tangan Pemda setempat. Aek Siraisan belum terdaftar sebagai sumber PAD Palas. Tidak ada retribusi yang dikutip di sini. Hanya ada kutipan kendaraan roda empat seharga Rp 5.000 sebagai balas jasa akses jalan kecil dari jalan utama yang dibuat penduduk setempat. Ini berarti masa depan Aek Siraisan belum mengenal delapan arah angin.
Oppung, di sini ada sungai terjernih, alam tropis terkaya di dunia, budaya dan bahasa, kearifan adat, biaro peninggalan kekayaan sejarah, rempah, dan emas. Adakah arah mata angin yang kesembilan yang telah kita anut? Mungkin kita sudah bosan dengan anugerah Tuhan. Oppung, kita masih tetap tertinggal.