Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Warisan Puteri Rubiah
Home  Destinasi Warisan Puteri Rubiah
Rabu, 16 Desember 2009 | 11:32:56
Warisan Puteri Rubiah
by. Taripar M. Nababan

Sumatera, bagi sebagian penduduk dunia, adalah dongeng. Sebuah pulau bahari yang bukan saja punya taman udara, darat dan laut yang sering digambarkan dalam hikayat, tapi secara harfiah memang memiliki seribu dongeng, legenda asal-usul, dan lelucon.

Sehubungan dengan keindahan lautnya, saya ingin mengemukakan satu cerita yang muncul dari bagian paling barat Indonesia, yakni dari perut Taman Laut Pulau Rubiah, Kota Sabang, Aceh. Di antara pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar Kota Sabang, Taman Laut Pulau Rubiah (Rubiah Sea Garden) memiliki keistimewaan tersendiri. Selain dahulu pernah menjadi pusat pemberangkatan jemaah haji dengan kapal laut, pulau ini juga telah menjelma menjadi ikon pariwisata Sabang untuk special interest destination. Perairannya menjadi salah satu tujuan diving laut tropis terkemuka di dunia. Letaknya di timur laut Pulau Weh, Kota Sabang.

Agam Syarif, warga yang tinggal di Pantai Iboih, telah merawikan dongeng menarik pada saya. Beginilah ceritanya: 

Dahulu kala, di ujung bagian utara Pulau Sumatera, terdapatlah sebuah perkampungan dengan tanah subur dan alam pegunungan yang indah. Kampung Sabang namanya. Sebuah tempat di mana manusia hidup bersahabat dengan alam dan takwa terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta alam semesta. Perkampungan ini sendiri memiliki sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang puteri yang cantik jelita, bernama Puteri Rubiah. Masyarakat sangat bangga terhadap Puteri Rubiah, karena dia seorang pemimpin yang baik budi bahasa, dan suka membantu penduduk dalam memecahkan berbagai masalah. Negeri pun damai dan berkecukupan.  

Namun di balik kehidupan yang damai dengan alam yang indah itu, mereka mulai gelisah dengan salah satu gunung berapi yang tinggi di belakang perkampungan. Pendek cerita, sampailah pada suatu saat, cuaca tiba-tiba mulai berubah dari keadaan sebelumnya. Masyarakat tahu bahwa itu disebabkan oleh gunung berapi tersebut. Pagi hari, Sang Puteri berdoa kepada Tuhan agar mereka dilindungi dan diberi keselamatan ketika tiba saatnya gunung itu meletus.  

Tapi keesokan harinya cuaca semakin bertambah panas dan kampung ditutupi oleh awan tebal sampai pandangan mata menjadi gelap. Seketika, bumi di ujung Sumatera  berguncang dengan sangat dahsyat. Pada satu bagian, kampung mereka mengalami keretakan dan terpisah dengan Pulau Sumatera, lalu menjauh pelan-pelan ke bagian utara bumi. Beberapa saat kemudian mereka sadar bahwa kampung mereka telah menjadi sebuah pulau yang terpencil di tengah lautan luas. Sejak itu, perkampungan mereka yang subur dan indah kini menjadi tandus dan gersang. Bahkan air tawar untuk minum pun tak ada, karena yang ada hanya air asin di lautan yang menggelora. Sebagian masyarakat mulai kelaparan dan terserang berbagai penyakit. 

Melihat keadaan ini, Puteri Rubiah pun menangis. Dengan penuh harapan, dia kembali berdoa kepada Tuhan Sang Maha Pencipta agar perkampungan mereka tidak gersang seperti itu lagi. Sebagai bentuk kesetiaannya pada Tuhan, Puteri melemparkan seluruh perhiasannya ke laut sebagai sesembahan agar mereka diberi air tawar kehidupan. Kemudian gempa pun kembali terjadi. Sungguh mengesankan, goncangan itu ternyata membentuk sebuah kaldera di tengah pulau. Beberapa saat kemudian turunlah hujan dan airnya memenuhi kaldera itu dengan air tawar. Mereka menyebutnya Aneuk Laot yang artinya adalah anak laut. Akhirnya kampung memiliki danau air tawar yang hingga saat ini tetap digunakan sebagai sumber air minum--reservoir alami. Setelah gempa itu terhenti, timbul pula mata air panas yang berfungsi sebagai obat untuk berbagai penyakit yang diderita masyarakat dan bisa menyegarkan tubuh. 

Seusai pekerjaan besar itu, Puteri Rubiah nan cantik jelita rupanya merasa lelah luar biasa. Setelah selesai berdoa, dia terjun ke laut. Pengabdiannya yang besar pada rakyat telah membuat pengorbanannya tidak sia-sia. Badannya yang fana menjelma menjadi sebuah pulau kekal yang terkenal dengan sebutan Pulau Rubiah yang seindah dirinya. Sedangkan lokasi yang menjadi tempat pembuangan perhiasannya berubah menjadi taman laut yang memiliki terumbu karang yang indah berwarna-warni. Terumbu karang itu telah menjadi rumah bagi ratusan jenis ikan hias laut dengan berbagai macam warna serta variasi anemon laut yang indah.

Sungguh indah cerita itu. Sebuah cerita yang khas Aceh, dengan pahlawan-pahlawan wanita, dengan kepemimpinan penuh pengabdian dan pengorbanan. Sebuah pelajaran kuno tentang kepemimpinan dan kenegarawanan menjelang Pemilu Pilpres yang diselenggarakan bulan ini. Juga sebuah sumber cerita lisan tentang sejarah vulkanik di Kota Sabang yang memang memiliki gunung berapi di bawah lautnya.

***

Keindahan Kota Sabang, saya tak perlulah menceritakannya lagi. Tuhan telah menciptakannya untuk tujuan itu, sebagaimana Dia menciptakan Danau Toba di Sumatera Utara dan Bumi Kerinci di Jambi.

Saya hanya ingin mengatakan betapa tidak masuk akalnya bila masih ada orang Sumatera yang telah keliling dunia tanpa pernah mengunjungi tempat ini. Dan saya juga ingin menceritakan betapa sialnya seorang peneliti lokal seperti saya yang tidak punya kesempatan lebih baik untuk memahami isi laut milik saya sendiri ketimbang peneliti-peneliti asing.

Saya hanyalah seorang peneliti kecil yang secara kebetulan mendapat tawaran untuk meneliti di tempat ini. Bersama seorang Guru Besar Biologi FMIPA USU dan rombongan, saya harus meninggalkan perkuliahan agar dapat berkenalan dengan terumbu karang yang nantinya akan saya pergunakan untuk skripsi. 

 

Dalam email yang saya terima dari seorang staf FFI Sabang, mereka memberitahu bahwa saya dapat meneliti di Pulau Rubiah dan mendapat bantuan fasilitas dari mereka. Maka saya pun berangkat dengan penuh harapan. Selama satu minggu akan saya habiskan untuk meneliti. Setelah sampai, saya baru sadar bahwa saya hanya dapat meneliti tanpa menggunakan peralatan selam (diving), karena belum memiliki lisensi atau sertifikat menyelam.

Apa boleh buat, saya harus mengerahkan kemampuan saya berenang dan menyelam sampai kedalaman empat meter tanpa bantuan alat menyelam. Saya berjuang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tiga hari saya habiskan hanya untuk berenang dan menyelam untuk mengetahui persen tutupan (percent cover) terumbu karang yang hidup pada kedalaman rata-rata 4 meter di Taman Laut Rubiah. Bersama bantuan dua orang masyarakat setempat (Pantai Iboih), saya dapat menyelesaikannya.

Saya bersama tim bekerja hanya dengan alat tulis air, kamera air, GPS, alat ukur faktor fisik-kimia perairan, meteran sepanjang 50 meter dan snorkeling. Sedangkan untuk alat transportasi, kami menggunakan sebuah perahu kaca yang disebut dengan katamaran. Perahu ini terdiri dari dua boat dan di tengahnya dibuat sebuah kotak kaca untuk memandang ke bawah. Perahu kaca ini disewakan dengan harga Rp 300.000 sekali keliling (lebih kurang 2 jam), dan 750.000 untuk paket per hari.

Menelusuri Taman Laut Rubiah adalah sebuah kegiatan untuk menyaksikan ribuan biota yang sedang asiyk bermain dan mencari makan pada badan terumbu karang. Semua masih hidup dengan harmonis, mulai dari ikan karang, jenis reptil (kura-kura dan ular), kima raksasa, lobster, kelompok invertebrata, dan berbagai jenis anemon laut. Namun jangan sampai terlelap dan panik apabila di hadapan Anda melintas spesies berbahaya seperti ikan pari, belut, bulu babi, maupun ular laut. Sebenarnya masih banyak jenis biota yang perlu dihindari apa bila kita sedang menyelam, tapi semua akan baik-baik saja apa bila Anda tidak panik secara tiba-tiba. Kalau panik, mereka dapat menyerang Anda secara tiba-tiba juga.

Saya memang cukup malang karena tak bisa menggunakan peralatan diving sebagaimana para peneliti asing itu. Mereka melintas di depan saya dengan segala hal yang diperlukan untuk menikmati dasar laut negeri saya sendiri. Saya cemburu! Tapi meskipun dengan cara yang sangat sederhana, saya masih tetap bersemangat untuk menemukan bentuk-bentuk terumbu karang yang beraneka warna. Inilah yang disebut-sebut Agam Syarif dengan warisan Puteri Rubiah. Inilah sesembahan dari berbagai perhiasan sang pemimpin yang telah menjelma menjadi suatu koloni hewan anthozoa yang bersimbiosis dengan alga berpigmen zooxantellae yang menghasilkan bangunan karang berupa kapur (CaCO3).

Terumbu karang dibagi atas acropora dan non acropora, sedang bentuk pertumbuhannya ada yang brancing, masiv, encrusting, foliose, sub masiv, digitata, tabulate hard coral dan soft coral. Terumbu karang di Taman Laut Rubiah bagian timur sudah mengalami kerusakan yang sangat parah akibat gempa bumi dan tsunami dari Samudera Hindia pada tahun 2004 lalu. Sedangkan di bagian barat masih tergolong dalam kategori bagus karena terlindung oleh Pulau Rubiah.

Selintas, serombongan bule kembali melewati saya, lagi-lagi dengan perahu yang dipenuhi peralatan diving yang sangat komplit. Saya sempat berbicara dengan salah seorang dari mereka. Katanya dia berasal dari Italia, sedangkan kawannya yang lain berasal dari Inggris dan Australia. Mereka bahkan sudah memiliki suatu organisasi yang mengurusi suatu link dalam kegiatan penyelaman yang bekerjasama dengan masyarakat setempat. Menurut informasi yang saya dapat, untuk mendapat sertifikat selam, kita harus mengeluarkan uang sebesar Rp 3,2 juta, sedangkan untuk menyewa peralatan selamnya Rp 300.000 per jam.

Taman Laut Rubiah akan langsung berhadapan dengan para pengunjung yang berdiri di Pantai Iboih. Pulau Rubiah sendiri dahulunya merupakan pulau tak berpenghuni dan memiliki pantai berpasir kurang lebih 100 meter. Namun sekarang di pulau ini telah tersedia klub malam, resto, penginapan dan apartemen yang langsung berhadapan dengan laut bertabur perhiasan Puteri Rubiah.

 

Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 54.242.233.11

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: