Selepas perjalanan panjang melintasi perkebunan kelapa sawit (Elaeisis guinensis), kami akhirnya bersirobok dengan sebuah bangunan cukup besar untuk ukuran kawasan itu. Sebuah tulisan “Tangkahan Visitor Center” tertera di depannya. Rombongan kami yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswi pascasarjana (S-2) dan program studi Biologi USU segera menyerbu gedung yang ternyata merupakan pintu gerbang memasuki tempat yang dikenal dengan sebutan ”The Hidden Paradise in Sumatera”.
Saya adalah satu di antara lima mahasiswa S-1 yang turut dalam rombongan itu, sebagai asisten dosen yang mengajarkan kajian ilmu dalam bidang ekologi.
Setelah menunaikan administrasi, rombongan kini memasuki salah satu sisi kawasan ekoton Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Memasuki kawasan ekowisata dan taman nasional, memang tidak sesederhana memasuki mal atau plaza. Di sini, kita dibekali dengan berbagai peraturan, izin, dan dituntut untuk tidak melakukan tindakan yang merusak alam.
Tempat ini ditentukan sebagai ”praktikum ekologi hutan” untuk mahasiswa-mahasiswi S-2 Biologi USU karena memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa tinggi.
Setelah melintasi Sungai Batang Serangan dengan menggunakan rakit, kami bergegas menaiki bukit bambu yang rimbun. Bukit bambu itu terletak pada sudut siku yang dibentuk oleh pertemuan muara Sungai Buluh dan DAS Sungai Batang Serangan secara tegak lurus. Dan bukit ini bukan sembarang bukit. Di sinilah terdapat beberapa penginapan yang tertata rapi dan bernuansa ecotourism. Bagi kami, penginapan ini begitu mewah, mengingat biasanya kami selalu menginap di tenda saja pada kegiatan serupa ini.
Di bagian timur bukit, persisnya di seberang Sungai Buluh yang mengalir tenang dan dangkal, pemandangan vegetasi hutan tampak menghijau. Memang, begitu kita menyeberangi Sungai Buluh, pintu kawasan TNGL sudah langsung di depan mata. Sungai itu sendiri adalah batas alam kawasan wisata dengan TNGL.
Penginapan-penginapan di atas bukit bambu dan pinggiran Sungai Buluh disebut dengan kawasan Bamboo River. Lokasi ini dikelola sendiri oleh masyarakat lokal.
Seusai memilih kamar dan makan siang, kami disambut oleh empat orang ranger yang tergabung dalam Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT). Ini adalah semacam lembaga swadaya masyarakat yang berkeinginan untuk melindungi keindahan hutan sekaligus mengambil manfaatnya lewat kegiatan wisata. Dulunya, beberapa ranger dari anggota LPT ini adalah penebang liar. Tetapi kemudian mereka sadar bahwa kegiatan tersebut sangat buruk untuk daerahnya sendiri, dan akhirnya mereka berbalik menjadi barisan pelindung hutan.
”Selamat datang di Bamboo River”.
Seorang ranger menyapa dan memperkenalkan diri dengan senyum ramah. Mereka selanjutnya menuntun kami memasuki kawasan hutan. Sore ini kami langsung masuk TNGL untuk melakukan Analisis Vegetasi (Anveg). Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas struktur dan komposisi suatu ekosistem hutan. Ternyata hutan di kawasan Bamboo River menakjubkan. Beberapa spesies pohon di sana memiliki diameter melebihi dua meter, dengan tinggi lebih dari 50 meter. Beberapa dari spesies pohon tersebut adalah Shorea sp, Altingia sp, Tualang, Ficus sp, Meranti dan Eugenia.
Di samping itu, terdapat beberapa spesies hasil hutan non kayu (HNK) yang bernilai tinggi. Beberapa di antaranya adalah tanaman hias seperti Orhidaceae, Araceae, Begoniaceae, Gesneriaceae, Balsaminaceae, Rubiaceae, liana, rotan (Calamus sp), dan beberapa spesies tanaman obat. Kanopi pohon yang rapat selalu menaungi kenyamanan seluruh biodiversitas tersebut dalam ekosistem hutan hujan ini.
Tak berapa lama, kawasan hutan mulai gelap. Di sini, malam memang datang lebih cepat karena cahaya terhalang oleh tajuk pohon dan matahari cepat terbenam di perbukitan. Kegiatan inventarisasi kami harus terhenti. Selama perjalanan keluar hutan, kami masih sempat mengamati beberapa spesies hewan yang juga mau pulang ke peraduannya. Di antaranya adalah primata seperti monyet ekor panjang (Macaca nemestrina), oak (Presbythis sp) dan beberapa spesies burung (aves) seperti rangkong (Bucheros bicornis), elang (Heliastur sp), burung madu (Nectarinia sp), dan beberapa burung pipit (Lonchura sp) yang terbang terseok-seok menuju sarangnya.
Sesampainya di penginapan, ada satu hewan bonus lagi yang kutemukan secara pribadi: seekor kala jengking (Androctonus sp).
Ia mengacungkan ekornya yang mengerikan sambil menghadap ke arahku. Saya melompat mengambil camdi (camera digital) untuk mendokumentasikannya. Namun sayang, hasil fotonya tidak maksimal, karena rasa takut sebenarnya lebih menguasai diriku ketimbang tantangan ilmiahnya.
Ini adalah akhir minggu yang muram di Bamboo River, karena iklim mikronya sedang gerimis. Kami menghangatkan suasana di sebuah kafe bersama sebuah gitar dan beberapa gelas cappuccino.
Hari Kedua
Matahari bangkit lagi dengan sinar yang cerah. Kami akan segera menyusuri sungai untuk sampling biota air. Di sungai yang jernih dan sejuk, kami mengumpulkan plankton, benthos, dan nekton. Kami membawa oleh-oleh untuk laboratorium berupa aquatic insect, ikan baung, udang (Crustaceae), bahkan ikan jurung (Tor sp.). Seluruh data yang dihasilkan dari sampel tersebut akan menjadi indikator apakah kawasan ini masih bagus atau tidak.
Ecolodge Bamboo River
Sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui. Begitulah yang telah kami lakukan di Bamboo River. Selain meneliti, kami pun berwisata. Pada hari kedua, tanpa sempat kembali ke penginapan, rombongan langsung berpiknik sepanjang aliran sungai. Tanpa ragu, kami bergabung dengan puluhan orang lain yang sedang berenang, mandi-mandi, dan main hanyut-hanyutan di Sungai Buluh.
Sesaat kemudian, dua ekor gajah (Elephanus maxhimus) kelihatan sedang mengantar turis. Menurut informasi yang saya terima, paket perjalanan dengan menggunakan gajah ini dapat dilakukan selama lima hari lima malam sambil melakukan kegiatan camping di tengah hutan. Perjalanannya akan berakhir di kawasan ekowisata Bukit Lawang. Namun pada saat ini, paket tersebut tidak bisa dilakukan karena adanya beberapa hewan liar yang sedang mengamuk di jalur treking tersebut.
Sebentar-sebentar, dari arah hulu Sungai Batang Serangan, terlihat beberapa orang berayun dibawa arus air. Mereka hanya mengapung pada sebuah ban dalam. Warga setempat menggunakan fasilitas ini sebagai alat transportasi saat pulang kerja dari hulu sungai. Bagi para pendatang, kegiatan ini dianggap sebagai cara terbaik untuk wisata sungai. Mereka menyebutnya tubing.
Salah satu keunikan Bamboo River adalah, di salah satu celah tebing batunya terdapat mata air panas. Tidak sedikit orang yang menyeberangi sungai ini hanya untuk berendam merasakan hangatnya mata air ini. Tapi hati-hati, di depan goa kecil ini kedalaman sungai mencapai lima meter. Anak-anak, remaja, dan dewasa, harus bersabar untuk menunggu antrian masuk ke dalam mata air panas yang suhunya mencapai 430 C itu.
Di Bamboo River, masih banyak tujuan special interest yang bisa dijajaki. Kawasan ini tidak memberikan Anda sejenis kegiatan wisata pasif. Bila ingin merasakan sensasi ekowisata terbaik, Anda sendirilah yang harus aktif menemukannya, meski terkadang dengan diam di atas batu pun segalanya sudah cukup indah di sini. Masalahnya, aku dan kamu pasti punya selera berbeda, bukan?