Depan | Hubungi Kami | Arsip | Catatan Redaksi | Buku Tamu | Link |     Tentang Kami |     Map
English Editions  
 
 Isi Majalah
 Artikel
 Destinasi
 Flora & Fauna
 Gaya Hidup
 Perjalanan
 Petualangan
 Profil & Visi
 Sejarah
 Tradisi
 Wisata Boga
Beredar Sekarang!
Edisi 88 | Mei 2012
  Live Chat
    Services
    Services
 
  Masak Bareng Chef
Pad Thai (Fried Kwetiaw Noodles ala Thai)
Present by. Budi Iman Santoso
Inside Sumatera Books mempersembahkan:


Sebuah karya sastra dari seorang tentara, penuh emosi, dalam, dan sangat detil. Karya ini lahir dari Bumi Sumatera
insidesumatera.com | tourism & lifestyle magazine - Jangan-Lupakan-Aku--
Home  Tradisi Jangan Lupakan Aku…
Jumat, 24 Juli 2009 | 09:37:01
Jangan Lupakan Aku…
by. Adela Eka Putra Marza

Kedudukannya begitu penting dalam ritual papurtur sapata. Ia diyakini akan manortor (menari) dan mendoakan orang yang tidak punya anak ketika meninggal nanti. Sigale-gale, membuat orang menutup babak kehidupannya tanpa harus kesepian. 

Tulisan ini berawal dari hasil observasi saya tentang boneka sigale-gale akhir tahun lalu. Saya mendapatkan tema awal ini dari perbincangan dengan dua dosen Universitas Sumatera Utara; Rithaony Hutajulu, dosen Etnomusikologi dan Prof Nawawiy Lubis, Guru Besar Arsitek yang kebetulan pernah berkecimpung dengan boneka ini.

Saat ini, menyaksikan ritual sigale-gale dalam upacara yang organik dengan tradisi masyarakat Batak sudah jadi barang langka. Bahkan untuk melihat penampilannya dalam konteks hiburan saja sudah begitu sulit untuk dilakukan. Di Pulau Samosir, di mana budaya sigale-gale berkembang, hanya tersisa tiga boneka yang dipertunjukkan untuk konsumsi seni dan hiburan. Dua di antaranya terdapat di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, yang dimainkan untuk turis. Keduanya, Grup Sadar pimpinan Ropendi Sidabutar, dan Grup Saroha pimpinan M. Sidabutar.

Yang satu lagi berada di Museum Hutabolon Simanindo, yang juga khusus dipertunjukkan untuk turis-turis mancanegara. Museum ini berada di Simanindo, ibukota kecamatan yang berada di pinggiran Pulau Samosir, sekitar 25 km atau lebih kurang 20 menit dari Tomok.

Kondisi ini berbeda dengan tahun 1970-an, di mana masih banyak kelompok opera Batak yang memainkan sigale-gale dengan cara berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. 

Sigale-gale dan Anak Laki-laki

Sepertinya tak banyak lagi yang tahu bahwa dulu sigale-gale punya peranan yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Sigale-gale menjadi aktor utama dalam upacara ritual papurtur sapata, sebuah upacara pemakaman orang yang tidak punya anak.

Orang Batak percaya, setiap orang punya tondi (roh), atau bisa disebut sebagai arwah secara umum. Jika seseorang meninggal, maka tondi ini harus bersemayam di sahala (langit). Maka untuk menaikkan tondi ke sahala, dilakukanlah ritual dengan cara diulosi.

Dalam ritual ini, disampaikan doa-doa dengan seremonialnya. Salah satunya dengan menampilkan sigale-gale dalam ritual papurtur sapata bagi orang meninggal yang tidak punya anak laki-laki.

Ada banyak cerita mitos tentang sigale-gale. Tapi saya lebih menangkap sisi kulturalnya. Sigale-gale adalah refleksi dari betapa pentingnya anak laki-laki bagi masyarakat Batak. Bagi mereka, tak memiliki anak laki-laki sangat menyedihkan karena tidak dapat menurunkan silsilah. Oleh sebab itu, ketika meninggal, mereka berada dalam kesedihan yang luar biasa, sehingga mereka membutuhkan pengganti kekosongan jiwa itu. Dan sigale-gale dapat melakukannya,” ujar Rithaony.

Orang Batak yang menganut garis keturunan patrilineal memang percaya, ketika seseorang meninggal dan tidak memiliki anak laki-laki, maka rohnya tidak akan sampai pada tujuannya, karena tidak ada yang mendoakannya. “Figur sigale-gale-lah yang menggantikannya,” tambah perempuan yang juga Managing Director Rumah Musik Suarasama ini.

Prof Nawawiy Lubis, Guru Besar Arsitek USU, berpendapat, dulunya sigale-gale mempunyai fungsi sentral bagi orang yang tidak punya anak. Sigale-gale menari sebagai anak laki-laki yang menangis mendoakan orang yang meninggal, dan menaikkan tondi-nya ke langit, sehingga dia tenteram di akhirat. “Sigale-gale menangis, menari, bersenandung sedih, dan diiringi dengan musik-musik sedih. Ritual ini masuk tataran dunia akhirat Batak Toba,” jelas Prof Nawawiy yang secara tidak langsung pernah meneliti budaya ritual dalam sigale-gale untuk tesisnya di Universiti Sains Malaysia tahun 2000 dengan judul “Transformasi Arsitektur Batak Toba”. 
 
Hanya Tinggal Hiburan

Sigale-gale, boneka kayu yang kaku, konon hanya bisa menari dan menangis sendiri dengan bantuan kekuatan magis seorang dukun. Secara teknis, boneka itu digerakkan oleh seorang “dalang” yang memainkan tali temali yang terikat pada bagian-bagian tubuh boneka. Ujung-ujung tali itu bisa dimainkan di belakang boneka yang tingginya mencapai 1 sampai dua meter.

Tentu saja, dalam upacara yang sesungguhnya, prosesi manortor sigale-gale dilakukan dengan suasana yang magis. Sebab, orang menyelenggarakannya dengan sebuah keyakinan yang kuat dan penuh hikmat. Ini akan berbeda dengan pertunjukan hiburan yang belakangan tinggal satu dua saja. Alasan utama ancaman kepunahan sigale-gale dalam masyarakat Batak adalah karena dilarang gereja dan pemerintah. Ritual ini dianggap bertentangan dengan ajaran Kristen.

Kini sigale-gale hanya hidup dari sisi komersialnya saja. Jika Anda sempat menyaksikan penampilan sigale-gale di Tomok, tak akan terdengar lagi kata papurtur sapata dari mulut pangurdot (orang yang memainkan sigale-gale).

“Sekarang sudah jadi tourism, tidak ada lagi ritualnya. Punah karena konteksnya tidak lagi ke masyarakat. Kalau masyarakat tidak memakainya lagi, maka lama-kelamaan tradisi ini akan hilang,” kata Rithaony yang pernah membawa kesenian sigale-gale dalam Festival Boneka Internasional di New Zealand, Februari 2007 silam.

Keputusan untuk menjadikan sigale-gale sebagai sebuah ikon pariwisata tanpa melestarikan makna ritual yang sebenarnya dikhawatirkan akan mengubah pertunjukan sigale-gale sebagai pertunjukan yang dangkal dan murah. Sebenarnya, pesan terkuat dari sigale-gale bukan hanya pada tarian magisnya, tapi juga pada syair nyanyian papurtur sapata. Bila pangurdot sendiri tak mampu lagi mendongengkan ritual ini, maka setengah dari jiwa sigale-gale telah hilang.

Hai orang Batak! Sigale-gale telah menghibur kesedihan nenek moyang kalian selama ratusan tahun di pulau yang mengapung di atas danau terdalam di dunia. Kini, ketika kalian pun tidak mau lagi menjadi pewaris dan keturunannya, siapa yang akan menghibur “tondisigale-gale yang sedang berteriak parau: “Jangan lupakan aku…”

Share |
Kirim ke teman
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
: * Masukkan Kode disamping.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
Pelajaran Pancasila
Dulu saya belajar Pancasila. Di antaranya ada pelajaran tolong menolong, gotong...


Komentar Turis Selengkapnya

Sumatera is exotic island with thick jungle, beaches and its friendly...

------------------------
Frank Sieckmann
Germany

Pemandangan Tasik Toba sangat luar biasa dan kami sangat terkesan akan...

------------------------
Hidayat Marcob
Singapura

Saya dan rombongan dari Surabaya beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan wisata...

------------------------
Bu Lilik
Surabaya

De reis met de bus over de hobbelige wegen was‘n ervaring...

------------------------
Mvr. Ria Herkes
Netherland

Het is aan onze fantastische gids te danken, dat wij‘n...

------------------------
Mr. Herkes
Netherland

15 years ago Sumatera was an island which was often visited...

------------------------
Joseph Verschuken (26 thn), Tour Leader
Netherland

Wij zijn erg blij dat in medan staan nog enkele grote...

------------------------
Mr. jch.Vander Veen
Netherland

Het weer hier is zo lekker niet te warm. Ik vindt de...

------------------------
Nico
Netherland

Ik vindt het sumatera een heel mooi eiland maar jammer dat...

------------------------
Tineke Kokernoot (63 thn)
Netherland

Saya tak paham mengapa pihak pemerintah tak mahu perduli dengan kondisi...

------------------------
Mr. Mohd. Sani Bin Ibrahim
Kuala Trengganu, Malaysia

Ini kali pertama saya melawat Danau Toba dan Berastagi. Kami datang...

------------------------
Miss Lailatul Akmal Bt Abdul Rahman
Malaysia

Saya sudah tiga kali berpesiaran kemari. Alam Danau Toba dan Berastagi...

------------------------
Mr. Ismail Bin Abdul Rahman
Jawatan Koperasi Malaysia

Pertama kali saya melawat ke Sumatera seperti melihat kampong halaman sendiri....

------------------------
Miss Khalilah Bt Gusti Hassan
Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sangat berpuas hati dengan pelayanan yang diberikan oleh pemandu pelancongan...

------------------------
Mr. Salwan Bin Mahfudz
Kuala Trengganu,
Malaysia

Service yang diberikan pihak travel agent betul-betul tip top. Tapi kenyamanan...

------------------------
Noor Mazwin binti Idris
Pejabat Penerangan Daerah Kerajaan Perak

Semuanya oke. Kami pun puas hati dah menghabiskan masa percutian di...

------------------------
Zariah binti Ismail
Malaysia

Sumatera sangatlah oke. Banyak tempat yang kita ambil untuk masa percutian,...

------------------------
Nazeran
Pimpinan Nusa Leisure Travel,
Malaysia

Menurut saya, Medan dan Lake Toba kebersihan dan kenyamanannya sudah baik....

------------------------
Mohd. Nizam Khalid
Manufacturing Superintendend Luxean Department Phillips,
Penang

Maimoon Palace is not really impressive. Kurang benda-benda yang dipamerkan dan...

------------------------
Suraya binti Sabaruddin (38 tahun)
Guru Sekolah Menengah Atas, Penang

Tour yang kedua saya di tahun ini setelah China adalah Kota...

------------------------
Karmila bt. Abd Aziz
Account Executive ProEight, Malaysia
Redaksi: Jalan Amaliun No. 37 Medan 20125
Sumatera Utara - Indonesia
Phone/fax: +62 61-7368213
inside.sumatera@gmail.com | info@insidesumatera.com

IP Anda: 23.22.76.170

Copyright © 2005-2011 by insum
Powered by: