Kedudukannya begitu penting dalam ritual papurtur sapata. Ia diyakini akan manortor (menari) dan mendoakan orang yang tidak punya anak ketika meninggal nanti. Sigale-gale, membuat orang menutup babak kehidupannya tanpa harus kesepian.
Tulisan ini berawal dari hasil observasi saya tentang boneka sigale-gale akhir tahun lalu. Saya mendapatkan tema awal ini dari perbincangan dengan dua dosen Universitas Sumatera Utara; Rithaony Hutajulu, dosen Etnomusikologi dan Prof Nawawiy Lubis, Guru Besar Arsitek yang kebetulan pernah berkecimpung dengan boneka ini.
Saat ini, menyaksikan ritual sigale-gale dalam upacara yang organik dengan tradisi masyarakat Batak sudah jadi barang langka. Bahkan untuk melihat penampilannya dalam konteks hiburan saja sudah begitu sulit untuk dilakukan. Di Pulau Samosir, di mana budaya sigale-gale berkembang, hanya tersisa tiga boneka yang dipertunjukkan untuk konsumsi seni dan hiburan. Dua di antaranya terdapat di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, yang dimainkan untuk turis. Keduanya, Grup Sadar pimpinan Ropendi Sidabutar, dan Grup Saroha pimpinan M. Sidabutar.
Yang satu lagi berada di Museum Hutabolon Simanindo, yang juga khusus dipertunjukkan untuk turis-turis mancanegara. Museum ini berada di Simanindo, ibukota kecamatan yang berada di pinggiran Pulau Samosir, sekitar 25 km atau lebih kurang 20 menit dari Tomok.
Kondisi ini berbeda dengan tahun 1970-an, di mana masih banyak kelompok opera Batak yang memainkan sigale-gale dengan cara berkeliling dari satu daerah ke daerah lain.
Sigale-gale dan Anak Laki-laki
Sepertinya tak banyak lagi yang tahu bahwa dulu sigale-gale punya peranan yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Sigale-gale menjadi aktor utama dalam upacara ritual papurtur sapata, sebuah upacara pemakaman orang yang tidak punya anak.
Orang Batak percaya, setiap orang punya tondi (roh), atau bisa disebut sebagai arwah secara umum. Jika seseorang meninggal, maka tondi ini harus bersemayam di sahala (langit). Maka untuk menaikkan tondi ke sahala, dilakukanlah ritual dengan cara diulosi.
Dalam ritual ini, disampaikan doa-doa dengan seremonialnya. Salah satunya dengan menampilkan sigale-gale dalam ritual papurtur sapata bagi orang meninggal yang tidak punya anak laki-laki.
“Ada banyak cerita mitos tentang sigale-gale. Tapi saya lebih menangkap sisi kulturalnya. Sigale-gale adalah refleksi dari betapa pentingnya anak laki-laki bagi masyarakat Batak. Bagi mereka, tak memiliki anak laki-laki sangat menyedihkan karena tidak dapat menurunkan silsilah. Oleh sebab itu, ketika meninggal, mereka berada dalam kesedihan yang luar biasa, sehingga mereka membutuhkan pengganti kekosongan jiwa itu. Dan sigale-gale dapat melakukannya,” ujar Rithaony.
Orang Batak yang menganut garis keturunan patrilineal memang percaya, ketika seseorang meninggal dan tidak memiliki anak laki-laki, maka rohnya tidak akan sampai pada tujuannya, karena tidak ada yang mendoakannya. “Figur sigale-gale-lah yang menggantikannya,” tambah perempuan yang juga Managing Director Rumah Musik Suarasama ini.
Prof Nawawiy Lubis, Guru Besar Arsitek USU, berpendapat, dulunya sigale-gale mempunyai fungsi sentral bagi orang yang tidak punya anak. Sigale-gale menari sebagai anak laki-laki yang menangis mendoakan orang yang meninggal, dan menaikkan tondi-nya ke langit, sehingga dia tenteram di akhirat. “Sigale-gale menangis, menari, bersenandung sedih, dan diiringi dengan musik-musik sedih. Ritual ini masuk tataran dunia akhirat Batak Toba,” jelas Prof Nawawiy yang secara tidak langsung pernah meneliti budaya ritual dalam sigale-gale untuk tesisnya di Universiti Sains Malaysia tahun 2000 dengan judul “Transformasi Arsitektur Batak Toba”.
Hanya Tinggal Hiburan
Sigale-gale, boneka kayu yang kaku, konon hanya bisa menari dan menangis sendiri dengan bantuan kekuatan magis seorang dukun. Secara teknis, boneka itu digerakkan oleh seorang “dalang” yang memainkan tali temali yang terikat pada bagian-bagian tubuh boneka. Ujung-ujung tali itu bisa dimainkan di belakang boneka yang tingginya mencapai 1 sampai dua meter.
Tentu saja, dalam upacara yang sesungguhnya, prosesi manortor sigale-gale dilakukan dengan suasana yang magis. Sebab, orang menyelenggarakannya dengan sebuah keyakinan yang kuat dan penuh hikmat. Ini akan berbeda dengan pertunjukan hiburan yang belakangan tinggal satu dua saja. Alasan utama ancaman kepunahan sigale-gale dalam masyarakat Batak adalah karena dilarang gereja dan pemerintah. Ritual ini dianggap bertentangan dengan ajaran Kristen.
Kini sigale-gale hanya hidup dari sisi komersialnya saja. Jika Anda sempat menyaksikan penampilan sigale-gale di Tomok, tak akan terdengar lagi kata papurtur sapata dari mulut pangurdot (orang yang memainkan sigale-gale).
“Sekarang sudah jadi tourism, tidak ada lagi ritualnya. Punah karena konteksnya tidak lagi ke masyarakat. Kalau masyarakat tidak memakainya lagi, maka lama-kelamaan tradisi ini akan hilang,” kata Rithaony yang pernah membawa kesenian sigale-gale dalam Festival Boneka Internasional di New Zealand, Februari 2007 silam.
Keputusan untuk menjadikan sigale-gale sebagai sebuah ikon pariwisata tanpa melestarikan makna ritual yang sebenarnya dikhawatirkan akan mengubah pertunjukan sigale-gale sebagai pertunjukan yang dangkal dan murah. Sebenarnya, pesan terkuat dari sigale-gale bukan hanya pada tarian magisnya, tapi juga pada syair nyanyian papurtur sapata. Bila pangurdot sendiri tak mampu lagi mendongengkan ritual ini, maka setengah dari jiwa sigale-gale telah hilang.
Hai orang Batak! Sigale-gale telah menghibur kesedihan nenek moyang kalian selama ratusan tahun di pulau yang mengapung di atas danau terdalam di dunia. Kini, ketika kalian pun tidak mau lagi menjadi pewaris dan keturunannya, siapa yang akan menghibur “tondi” sigale-gale yang sedang berteriak parau: “Jangan lupakan aku…”