Perjalanan kali ini berawal dari gosip santer yang masih baru di kalangan penggemar tracking di Medan tentang air terjun di hulu Sungai Sinembah 1 yang konon luar biasa indah. Permasalahannya, akses ke sana tidak bisa ditempuh melalui sungai. Batu-batu berlumut tebal terlalu besar dan menutupi jalur di pinggiran sungai ini. Belum lagi risiko lain, seperti rusaknya peralatan kamera oleh air sungai. Jadi mau tidak mau, kami harus mendaki ke atas punggungan bukit dan berjalan melintas hutan di lereng Gunung Sibayak selama 3 jam sebelum kembali turun ke lembah yang dibelah oleh Sungai Sinembah 1.
Kami memulai perjalanan saat global positioning system (GPS) bermerek GPS Garmin 12 XL yang kami bawa menunjukkan N 03 16’18. 1” dan E 098 32’08.7”, tepatnya di pintu rimba selepas melewati areal perkemahan pramuka di Sibolangit. Lalu 2 sampai 3 menit berjalan, kami telah sampai di pinggiran parit kecil berair putih jernih namun dingin, dan sebuah bendungan tua peninggalan Belanda. Membasuh muka di air bendungan cukup memberi sugesti untuk melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya kami memasuki jalan setapak penuh lumpur, mengikuti aliran air dalam pipa. Selepas jalur pipa, jalan setapak mulai menanjak ke atas dengan kemiringan sedang namun panjang. Track ini mengantarkan kami ke salah satu bagian punggungan. Selebihnya adalah perjalanan naik turun punggungan menerobos kerapatan hutan.
Selang 25 menit kemudian, kami turun ke bawah salah satu sungai, menyeberanginya dan kembali naik ke punggungan di seberang punggungan pertama. “Ini bukan Sinembah 1, meskipun di peta ditulis Sinembah 1,” tutur Suban, salah seorang anggota Kompas-USU yang mau berbaik hati mengantarkan kami ke lokasi.
Konon di antara para petualang di Kompas USU, Suban adalah yang paling sering pulang balik sebagai guide ke air terjun ini. Jadi, meskipun ada banyak jalur setapak di atas punggungan itu, kami yakin sekali tidak akan nyasar. Sebagus apa sih air terjun itu? Pertanyaan itu masih terus menggelitik kami sepanjang perjalanan.
Setelah melintasi jalur hingga tiba di atas punggungan bukit, kami beristirahat dan menikmati biskuit. “Ayo Bang, jalan lagi,” ujar Suban begitu melihat kepingan Oreo terakhir masuk dalam mulutku. Meski belum cukup rasanya waktu berleha-leha di situ, terpaksa saya meraih tas, dan berjalan mengikuti Suban.
Kembali, perjalanan naik turun punggungan dilanjutkan. Beberapa jenis hewan seperti tupai dan kijang sempat terkejut berpapasan dengan kami. Sayang, mereka berlalu begitu cepat hingga tak sempat diabadikan oleh kamera. Sekitar 20 menit kemudian, suara sungai yang tadinya sempat hilang, mulai terdengar lagi di telinga. Kami tiba di persimpangan bibir punggungan. Di sini terdapat plang di atas salah satu pohon bertuliskan “Air Terjun 2 Warna, 20 Menit” dengan tanda anak panah menunjuk ke bawah lembah tempat suara air Sungai Sinembah 1 berasal. Sementara jalur yang lurus mengikuti punggungan itu, menurut Suban, mengarah ke Jalur 54 (salah satu jalur pendakian ke puncak Sibayak).
Selagi asyik jalan dan semangat yang terpicu lagi karena suara sungai, kami melihat sebatang pohon rambe hutan berbuah rimbun dan berwarna merah. Rimbunan merah buah rambe yang bergantung tampak begitu kontras dengan hijau rimbunan dedaunan hutan. Suban sempat memanjat untuk memenuhi keinginan kami mencicipi buah rambe. Hasilnya, cukup membuat kami cepat-cepat berlalu dari pohon itu. Luar biasa asamnya! Pantas monyet-monyet liar tak segera menghabiskannya.
Tak lama kemudian, kami tiba di lokasi tujuan. Batu-batu sebesar rumah memenuhi bantaran sungai. Dari kondisi lumut pada batu dan lintasan sungai yang tepat berada di bagian tengah antara 2 punggungan di lereng Sibayak, kami berpendapat inilah lintasan utama dari tumpahan lava ketika terjadi letusan ratusan tahun lalu. Sampai di sini, air terjun belum terlihat, dan kami harus kembali menyeberang melintasi pinggiran hutan di sisi lain sungai untuk menghindari tumpukan batuan yang menggunung dan menutupi jalan langsung ke hulu. Putra dan kameranya nyaris tercebur saat menyeberang. Suban malah benar-benar tercebur hingga seluruh bajunya basah.
***
Setelah melintasi jalan di hutan seberang, kami menemukan tempat yang bersahabat untuk kembali menyeberang ke sisi semula. Suara air terjun mulai terdengar. Kami melipir pada jalan setapak di kaki tebing setinggi 45 meter yang berlumut tebal. Setelah melewati barisan batu besar di sisi kiri sungai, kami benar-benar dibuat terpesona menatap sepenggal keajaiban di dalam belantara yang menguras fisik dan tenaga itu.
Di ujung Sinembah 1, sebuah lembah buntu dalam bentuk pelataran luas hampir sebesar lapangan sepak bola, selama ini tersembunyi di balik tebing-tebing tinggi di sisi kanan dan kiri. Di sebelah kanan, air terjun berwarna bening setinggi 10 meter meluncur turun dari salah satu pelataran di atas dinding. Airnya terus mengalir, bergabung dengan aliran dari air terjun lain yang terletak di sebelah kiri.
Air terjun kedua membuat kami terdiam dan tak mampu berkata-kata beberapa lama. Tingginya mencapai 40 meter. Debetnya tidak luarbiasa, tapi kandungan airnya yang mengandung belerang membuat airnya berwarna biru keputih-putihan. Kandungan belerang pada air mengakibatkan lapisan lumut pada batu-batu di dasar kolam jatuhan air itu berwarna putih kebiru-biruan. Walhasil, warna kolam berwarna biru terang. Benar-benar biru, layaknya sebuah kolam renang di salah satu hotel berbintang 5 di Medan.
Jadi, inilah rupanya yang mereka maksudkan sebagai dua warna itu. Dua air terjun dengan warna yang berbeda, yang satu biasa, dan yang satu lagi berwarna biru cerah. Terbetik keinginan untuk mandi bugil di hutan seperti acara para nudis, namun dinginnya air memaksa kami untuk mengurungkan niat itu. Lagipun, takut kualat. Jangan-jangan hantu penjaganya darah tinggi dan suka marah.
Sang Penjaga
Suban pun mengambil inisiatif membuka bekal dan memasak air untuk kopi. Tak lama kemudian, kami sudah meludeskan bekal makan siang dan duduk sambil menikmati kopi seduhan.
Di tengah keasyikan itu, Suban yang sedang mengambil air di sungai untuk keperluan memasak mie instan, berteriak agar kami mengamankan barang. Entah dari mana asalnya, di sebelah belakang kami seekor monyet sejenis baboon yang dalam bahasa setempat disebut bengkala tonggal sudah muncul dari arah rimbunan pohon di atas tebing di belakang kami. Targetnya, sudah pasti makanan.
Dengan hanya mengeluarkan suara mengusir, ia tidak lari. Terpaksa kami berinisiatif seolah berlari mengejar hingga menimbulkan kesan akan memukulnya. Barulah ia mundur perlahan, namun tetap mengawasi kami. Menurut Suban, monyet baboon ini adalah penjaga Air Terjun Dua Warna. Ia tinggal menyendiri. Selain memakan pucuk-pucuk daun, ia suka meminta atau merampas makanan dari tas-tas pengunjung yang agak pelit membagi rezeki.
Segores luka tampak di bagian pinggul monyet itu. Entah akibat perebutan wilayah dengan monyet lain, atau akibat pukulan dari salah seorang petualang yang datang ke air terjun itu. Untuk membuatnya tenang, kami merelakan kelebihan jajanan yang dibawa untuk dibagi dengan monyet ini. Akhirnya kami berempat, tiga pendatang dan seekor monyet, pun bisa akur di bumi milik Tuhan ini. Bersama-sama kami menikmati eksotisme Air Terjun Dua Warna sambil menyerut kopi dari gelas masing-masing. Tapi monyet tak bagus minum kopi. Husss, sana pergi!
Air Terjun Dua Warna memang memiliki potensi yang luar biasa untuk dikelola sebagai salah satu objek ekowisata yang mumpuni di Sumatera Utara. Hanya saja, mengingat jarak tempuhnya yang cukup jauh dan medan yang lumayan sulit, mungkin air terjun ini akan masuk dalam kategori minat khusus. Artinya, orang yang ingin sampai ke sini harus memiliki kondisi fisik yang cukup baik dan sedikit memiliki jiwa petualang. Tapi percayalah, omelan Anda menapaki tanjakan menuju punggungan, lalu berjalan naik turun di atas punggungan, akan berubah menjadi doa puji syukur manakala tiba di Air Terjun Dua Warna.